Korban Kebakaran Barukoto Masih Shock, Pakaian Baru Dibeli Ludes Dilalap Api

P1000936
Malang menimpa keluarga Jhon Mahdonal (44), pasalnya kios pakaiannya yang berlokasi Pasar Barukoto II, di Jalan Tenggiri, Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu, ludes dilalap api. Bahkan hingga kemarin, korban masih shock dan berdiam diri di rumahnya lantaran tak sanggup melihat puing-puing kios pakaian miliknya.
Bagaimana keadaan korban setelah musibah tersebut? berikut ceritanya.

BAKTIBengkulu

Jhon Mahdonal, warga Jalan Arau RT 3 Nomor 15 kelurahan Sumur Meleleh  Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu masih belum bisa menerima kios pakaian milik yang sudah dihuninya sejak 2010 lalu, ludes di lalap api, Sabtu (11/10) lalu. Bagaimana tidak shock, dalam kios tersebut, ia baru saja mengisinya dengan beberapa pakaian baru, baik berasal dari Jakarta maupun dari Kota Bengkulu sendiri.
“Sampai saat ini suami saya (Jhon), masih frustasi, dia hanya di rumah dan tak sanggup untuk melihat puing-puing kios. Bahkan saat ditunjukan fotonya saja dia tak mau lihat,” kata Armawati (44), istri Jhon ditemui di lokasi kebakaran, kemarin.
Dijelaskan ibu tiga anak tersebut, yang masih terngiang dalam ingatan sang suami adalah,semua pakaian itu masih tersusuan rapi di dalam kios, ia belum bisa menerima bahwa semua telah habis. Selain itu, semua pakaian yang ada di dalam kios semuanya baru saja dibeli oleh korban, bahkan sebagian ada yang baru dibeli di hari kebakaran tersebut. “Kami sudah membeli pakaian itu sejak dua minggu yang lalu, bahkan pada Sabtu sore, kami masih sempat membeli di Pasar minggu,” imbuhnya.
Diakui korban, semua pakaian tersebut direncanakan akan dijualnya pada saat perayaan tabot 2014, tahun ini. Namun apa  mau dikata, semua telah habis tanpa sisa. Padahal kios tersebut merupakan mata pencarian utama yang menjadi andalan korban, selain usaha salon kecil (warisan keluarga) yang berada tak jauh dari kiosnya. “Kami telah habis Rp100 juta lebih untuk membeli pakaian tersebut, dan itu modal kami mau berdagang, semua hilang sekejap,” tutur warga asal Padang Pariaman tersebut.
Pada saat kejadian, ia bersama sang suami sudah berusaha untuk menyelamatkan barang-barang tersebut, namun karena sempitnya lokasi dan kepulan asap hitam yang tebal, ia tak bisa berbuat banyak. “Di tengah kebakaran, suami saya sempat bolak-balik berusaha mengambil pakaian di dalam kios. Namun, cepatnya kobaran api dan kepulan asap ia akhirnya terhenti, dan karena asmanya kambuh, ia sempat pingsan saat berusaha mengangkut barang-barang dari dalam kios,” tambahnya.
Selain itu, ditengah dukanya, ia juga mengungkapkan kekecewaannya kepada patugas pemadam kebakaran yang dinilai lamban dalam menangani kebakaran tersebut
“Saya kecewa juga dengan PBK, mereka baru datang setelah setangah jam kemudian. Jika lebih cepat sedikit, mungkin saja beberapa barang masih bisa diselamatkan,” ungkap Armawati.
Selain itu, korban juga mengakui bahwa kebakaran tersebut berawal dari kios miliknya, namun ia tak mengetahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut. Sebab, sebelum kios ditutup semua listrik sudah dimatikan. “Saya mendengar teriakan dari pedagang lainnya, setelah saya lihat kepulan asap keluar dari kios saya, setelah dibuka paksa dan terlihat api dari bawah tumpukan pakaian dan dengan segera api membesar dan melalap seluruh kios di sebelahnya,” ungkapnya.(135)