Korban Dihabisi dengan Palu

Korban Dihabisi dengan Palu
Korban Dihabisi dengan Palu

Kepala, Tangan dan Kaki Terpisah

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Tim Jatanras Polda Bengkulu berhasil mengungkap teka-teki hilangnya Auzia Umi Detra (17) pelajar SMAN 4 Kota Bengkulu kelas XI IPA. Korban yang menghilang sejak Kamis (1/2) sore itu ditemukan di Jalan Pantai Indah RT 8 Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu atau jalan ke arah Lentera Merah Pulau Baai, Kota Bengkulu sekitar pukul 12.00 WIB, kemarin (7/1).

Diduga korban sudah lama dihabisi pelaku. Sebab, saat ditemukan tubuh korban sudah tidak utuh lagi, bahkan kepala, tangan dan kaki korban sudah terpisah dengan tubuhnya. Wajah korban pun sudah tidak dapat dikenali lagi.

Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian, korban dibunuh teman dekatnya, DN (18) warga Jalan Jenggalu, Kelurahan Lingkar Barat.

Pelaku ini merupakan salah satu atlet karate dan saat ini tercatat sebagai siswa SMAN 7 Kota Bengkulu.
Kepada polisi, DN mengaku menghabisi nyawa korban karena tidak punya uang untuk membayar sewa kost. Pelaku DN membunuh korban kemudian menjual handphone milik korban Rp 900 ribu untuk membayar uang kost. Pelaku DN sengaja tidak menjual sepeda motor korban Honda Beat, memilih meninggalkannya di Lapangan Golf dengan maksud agar diambil orang lain sehingga dia lolos dari kasus tersebut.

Selain itu, DN juga mengaku sengaja mengajak korban ke Lentera Merah Pulau Baai ingin memberikan kejutan ulang tahun kepada korban.

Namun sampai di lokasi, korban dihabisi oleh pelaku DN menggunakan palu. Sebelum dipukul menggunakan palu, tangan korban diikat menggunakan lakban.

“Dari penyelidikan sementara, motif pelaku membunuh korban karena tidak punya uang untuk membayar sewa kost.

Korban ini tinggal sendirian, terpisah dari orang tua,” jelas Kapolda Bengkulu, Brigjen Pol Coki Manurung SH MHum melalui Dir Reskrimum Polda Bengkulu, Kombes Pol Pudyo Haryono didampingi Kasubdit Jatanras, AKBP Max Mariners.

Meski beda sekolah, DN dan korban Auzia sudah kenal sejak SMP dan merupakan teman dekat. Faktor teman dekat tersebut, kemudian dimanfaatkan oleh DN untuk mendapatkan uang untuk membayar sewa kost. Pelaku DN mengajak korban Auzia bertemu, karena sudah akrab, korban Auzia pun tidak menolak saat diajak pelaku DN ke Lentera Merah pada Kamis (1/6) sore setelah pulang sekolah.

Setelah dipastikan korban meninggal, jenazah korban lantas dipindahkan oleh pelaku tidak jauh dari tempat dia dibunuh.

“Korban dibunuh pada Kamis (1/6), dari keterangan pelaku dia melakukan sendirian dengan menggunakan palu,” imbuh Dir Reskrimum.
Meski tubuh korban banyak yang terpisah, Dir Reskrimum menegas hal tersebut bukan dimutilasi.
“Itu bukan karena dimutilasi, jenazah kan sudah sekitar satu minggu, kita pasti tahu lah kondisi jenazah jika sudah satu minggu. Terlebih lagi lokasi dia dibuang itu banyak hewan liar,” terang Dir Reskrimum.

Ibu Korban Rasakan Tanda-tanda
Sebelum jenazah Auzia ditemukan di Lentera Merah, ternyata sudah ada tanda-tanda dirasakan oleh sang ibu. Hal ini dikatakan salah satu keluarga besar korban, H S Efendi MS.

Menurutnya, dua hari sebelum korban ditemukan, setelah salat Dhuha ibu korban membayangkan korban Auzia minta tolong.
“Tidak ada yang aneh selama dia menghilang, tetapi dua hari sebelum ditemukan setelah salat dhuha ibunya membayangkan Auzia itu minta tolong,” jelas Efendi.

Berkaitan dengan hukuman yang diberikan kepada pelaku, paman korban Hermen Dahuri mengatakan, jika mengikuti kata hati dan melihat betapa tragisnya pelaku menghabisi nyawa Auzia, dia ingin nyawa dibayar nyawa.

Tetapi karena ada hukum dan undang-undang yang mengatur orang bersalah di Indonesia, Hermen memilih menyerahkan semua prosesnya kepada penegak hukum. Tetapi dengan syarat, hukuman yang diberikan harus seberat-beratnya sesuai undang-undang belaku.

“Kalau menuruti kata hati, kita ingin nyawa dibalas nyawa. Tetapi kita hidupkan di negara hukum, dan kita harus patuhi aturan itu,” jelasnya.

Saat ini pihak keluarga masih menunggu proses otopsi yang belum selesai dilakukan oleh tim dokter forensik. Karena dokter yang melakukan otopsi didatangkan langsung dari Jakarta, sehingga proses otopsi cukup lama. Jenazah Auzia pun baru akan dikuburkan pada Kamis (8/2) siang ini ba’da Dzuhur di TPU Tanjung Agung, Bukit Macang.

“Jika selesai jam 11, ya kita langsung bawa ke sini (rumah). Rencanannya, jenazah besok dikuburkan di TPU Bukit Macang, di Tanjung Agung,” pungkas Efendi.

Sementara itu wakil kepala SMAN 4, Bidang Kesiswaan, Fauzun S.Sos saat dikonfirmasi mengaku kaget saat mendapat kabar duka tersebut.

Ia tidak menyangka peristiwa tragis terjadi pada anak didiknya yang dinyatakan hilang hampir sepekan ini.
Guna memastikan kabar tersebut, ia menghubungi keluarga korban, dan setelah mendapat kepastian informasi itu benar, ia bersama kepala sekolah Dra Deni Asiah M.Pd, dewan guru dan para siswa langsung berkunjung kerumah duka.

“Iya kita sudah mendapat kabar duka, dan sekarang berkunjung ke rumah duka,” ujar Fauzun saat dihubungi via telepon.

Disisi lain, pelaku pembunuhan sadis siswi SMAN 4 Kota Bengkulu ini adalah pelajar SMAN 7 Kota Bengkulu.
Kepala SMAN 7 Kota Bengkulu, Sarjono S.Pd, M.Pd saat dikonfirmasi via telepon juga membenarkan jika foto yang beredar adalah anak didiknya.

“Agar ada titik terang, besok saya cek di sekolah, kita lihat data anaknya dulu,” pintanya.
Dia pun tak menampik jika informasi diamankannya salah satu siswanya karena dugaan tindakan pembunuhan tersebut. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, pelaku saat ini duduk di bangku kelas XII, dan hari ini (kemarin, 7/2) tidak masuk sekolah. Padahal siswa tersebut dijadwalkan mengikuti simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Drs. Budiman Ismaun melalui Kepala Bidang Pendidiman SMA, R Wahyu DP mengucapkan turut berduka cita atas ditemukanya pelajar SMAN 4 Kota Bengkulu dalam kondisi sudah meninggal dunia.

Dikatakan Wahyu, kejadian ini merupakan hal buruk terhadap dunia pendidikan karena korban dan pelaku adalah sama-sama seorang pelajar.

Disinggung soal tawuran antar pelajar, Wahyu mengaku belum mendapatkan laporan, ia meminta semua pihak dapat menahan diri. Dan menyerahkan sepenuhnya persoalan ini pada aparat hukum.

“Kita serahkan pada aparat supaya menyelesaikan permasalahan sehingga jelas motifnya, semua pihak sekolah dan anak menahan diri supaya pihak berwajib dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat, ” tutupnya.

Pelajar SMAN 4 Datangi SMAN 7

Belasan pelajar SMAN 4 beramai-ramai mendatangi SMAN 7 di Jalan Sadang Lingkar Barat, sore kemarin. Kedatangan pelajar ini diduga kuat ada hubungannya dengan kasus pembunuhan Auzia. Sebab, kejadian ini tepat setelah Polisi berhasil menemukan jasad Auzia di Lentera Merah dengan kondisi yang tubuh yang terpisah-pisah dan sudah membusuk.

Menurut pengakuan saksi mata, Wiji Astuti, kedatangan siswa tersebut ketika jam pulang sekolah sekitar pukul 15.30 WIB. Dimana ada segerombolan pelajar menggunakan motor memadati gerbang masuk SMAN 7 tersebut. Dan sempat membuat kemacetan dikarenakan kondisi jalan yang sempit.

Hanya saja ia mengaku tidak mengetahui secara jelas apa yang terjadi di lokasi tersebut karena meskipun sempat macet tetapi tidak ada keributan apapun.

“Tapi saya tidak tahu apakah itu anak SMAN 4 apa bukan. Tapi yang jelas banyak polisi di sini tadi yang memang sudah nunggu dari siang, dan guru-guru sama Satpam sekolah juga sempat keluar mengusir anak-anak sekolah itu,” kata Astuti kepada BE.

Ia juga mengungkapkan tidak ada perkelahian seperti layaknya tawuran antar sekolah, karena ketika Satpam bersama polisi datang, para siswa langsung bubar. Namun, polisi masih menunggu hingga pukul 17.00 WIB sampai kondisi benar-benar kondusif.

“Kalau sampai tawuran itu tidak ada. Tapi memang sempat ramai dan macet. Tapi tidak lama, karena ada polisi,” beber ibu paruh baya pemilik warung makan di depan SMAN 7 ini.

Sementara itu, saat dikonfirmasi ke Satpam Sekolah, Leman, mengaku memang ada siswa dari sekolah lain tetapi ia tidak mengetahui secara pasti siswa tersebut berasal dari sekolah mana. Sebagai petugas keamanan sekolah, ia hanya menertibkan keramaian yang terjadi pada saat jam pulang sekolah tersebut.

Saat ditanya soal tawuran, Leman mengaku tidak ada perkelahian apapun antar pelajar tersebut. Dan ia juga tidak berani menduga bahwa kejadian ini dikaitkan dengan kasus pembunuhan salah satu siswi SMAN 4.

“Memang tadi ada ramai-ramai di depan, katanya ada tawuran, tapi saya lihat tidak ada tawuran, biasa-biasa saja. Jadi ada kejadian apa saya kurang tahu. Saya belum bisa berikan keterangan karena belum jelas ada persoalan apa,” jelas Leman. (805/247/167)

=Kronologis==

1. Kamis (1/2) pelaku DN memberitahu kepada korban Auzia ingin memberikan kejutan ulang tahunnya. Pelaku DN lantas mengajak korban pergi ke Lentera Merah untuk memberikan kejutan tersebut. Di lokasi tersebut korban dihabisi oleh pelaku DN menggunakan palu. Sebelum dipukul menggunakan palu, tangan korban diikat menggunakan lakban.

2. Jum’at (2/2) sore, sepeda motor korban Honda Beat ditemukan tanpa plat nomor kendaraan di se kawasan Lapangan Golf

3. Setelah kasus tersebut dilaporkan, Tim Jatanras Polda Bengkulu langsung bergerak dengan memanggil sejumlah saksi, terutama teman dekat korban.

4. Dari pemeriksaan saksi dan teman dekat korban serta menyelidiki nomor handphone korban, semuanya mengarah kepada pelaku DN. Pelaku DN sempat mengelak dan mengaku tidak tahu menahu atas hilangnya Auzia saat dijadikan saksi.

5. Saat penyidik membawa pelaku kerumahnya dan menemukan tikar yang ada bercak darahnya, pelaku juga tidak mengakui telah membunuh korban. Pelaku malah mengatakan darah yang berada ditikar tersebut berasal dari bisul ditubuhnya. Tetapi saat dicek tidak ada bisul ditubuh pelaku.

6. Dugaan semakin menguat lantaran pelaku keterangannya tidak jelas dan berbelit-belit saat ditanya penyidik.

7. Selasa (6/2) pelaku DN ditetapkan menjadi tersangka.

8. Pada Rabu (7/2) siang, pelaku dibawa penyidik untuk menunjukkan lokasi jenazah korban dibuang dan lokasi pembunuhan. Jarak antara lokasi pembunuhan dan lokasi dibuang hanya sekitar 5 meter.

9. Jenazah Auzia dibawa ke RSUD M Yunus Bengkulu untuk dilakukan visum dan identifikasi. Setelah di RSUD M Yunus, jenazah juga dibawa ke RS Bhayangkara Jitra untuk dilakukan otopsi