Korban Bertambah Kerugian Rp 138 M

Bakti/Bengkulu Ekspress PENCARIAN : Puluhan warga saat mencari warga yang tertimbun longsor dan terseret arus di sepanjang aliran sungai rikis Desa Kertapati, Kecamatan Pagar Jati, Senin (29/4)

BENGKULU, Bengkulu Ekspress-Gubernur Bengkulu Dr H Rohidin Mersyah telah menetapkan Bengkulu siaga bencana selama tiga hari. Dampak banjir besar yang melanda di wilayah Provinsi Bengkulu sangat dirasakan oleh ribuan warga yang menjadi korban. Kerugian sementara pun sudah lebih dari Rp 138 miliar. Bahkan Bengkulu sendiri sudah menjadi perhatian pusat. Termasuk bantuan terus berdatangan untuk membantu korban banjir. Baik dari pemerintah pusat, swasta maupun instansi vertikal lainnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) sendiri sudah menyiapkan Rp 5 miliar untuk bantuan tanggap bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyalurkan anggaran bencana alam sebesar Rp 2,25 miliar.  Begitupun dari Kementrian Sosial (Kemsos) juga menyerahkan bantuan logistik tanggap darurat sebesar Rp 667,5 juta dan santunan ahli waris korban meninggal Rp 165 juta untuk 11 orang.

Sementara itu dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat (PUPR) RI juga telah memberikan bantuan untuk memperbaiki semua infrastruktur yang rusak akibat terjangan banjir disemua wilayah Bengkulu. Tidak hanya bantuan besar, bantuan logistik dari swasta dan instansi vertikal juga telah banyak berdatangan. Ada sebagian besar menyalurkan bantuan tersebut langsung ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu. Namun banyak juga organisasi dan warga yang langsung menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang terkena korban banjir.

Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah mengatakan, bantuan logistik maupun program yang masuk ke Bengkulu sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang menjadi korban banjir. “Pastikan tim, bantuan yang sudah masuk bisa terkontrol dan tersalurkan dengan baik,” ujar Rohidin kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (29/4).

Untuk bantuan dari BNPB yang diserahkan secara langsung oleh Kepala BNPB Letjen Doni Monardo, menurut Rohidin akan segara didistribusikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa terbantu dengan cepat. “Nanti kita salurkan melalui BPBD kabupaten/kota,” tambahnya.

Begitupun rencana bantuan dari Kemensos, menurut Rohidin, jika tidak ada halang melintang Mensos akan langsung datang ke Bengkulu pada hari ini (29/4). Bantuan logistik dan bantuan lain akan diserahkan secara langsung oleh Mensos kepada warga. “Insyallah besok (hari ini,red) Menteri Sosial akan datang ke Bengkulu. Ini juga bentuk perhatian pemerintah pusat kepada kita,” papar Rohidin.



Untuk beberapa infrastruktur yang rusak akibat terjangan banjir, baik itu jalan yang rusak maupun jembatan yang putus, Rohidin menegaskan dari Kementerian PUPR sudah siap untuk melakukan perbaikan. Bahkan dalam waktu dekat ini perbaikan tersebut, sudah bisa dimulai. “Kementerian PUPR sudah turun ke Bengkulu dan siap untuk membantu,” tegas Rohidin.

Sementara itu, untuk pendistribusian logistik kepada korban bencana alam. Rohidin meminta semua tim BPBD dan semua relawan bisa bisa menjangkau semua wilayah. Pastikan jangan sampai ada korban bencana alam tidak mendapatkan bantuan.  “Pastikan semua korban bencana mendapatkan bantuan,” ujarnya.

Rohidin menegaskan, kejadian bencana alam baik itu banjir maupun tanah longsor memang harus menjadi pelajaran penting. Fokus saat ini, bagaimana penanggulangan pasca bencana tersebut bisa dilakukan.  Rohidin meminta masyarakat yang terkana musibah untuk tetap bersabar. “Kondisi pasca bencana harus terus ditanggulangai. Yakinlah, kita semua masyarakat Bengkulu bisa bangkit dari musibah ini,” ungkap Rohidin.

Begitupun dampak penyakit yang akan dialami oleh warga, juga harus terus ditanggulangai. Pastikan tim kesehatan bisa masuk membantu warga. “Tim kesehatan bisa langsung terjun kelapangan untuk memberikan bantuan,” paparnya.

Sementara itu, terhadap keluarga korban meninggal dunia, luka berat ringan dan korban yang masih belum ditemukan, Gubernur memastikan mulai besok penyerahan bantuan dan santunan akan dilakukan. “Kita akan pastikan nama dan alamat korban, kemudian kita akan sampaikan santuna kepada pihak keluarga,” tambahnya.

Disisi lain, Kepala BNPB Pusat Letjend Doni Monardo yang datang ke Bengkulu didampingi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bengkulu, Nopian Andusti melakukan pemantauan dan diskusi mendalam bersama aparat pemerintah daerah dan TNI-Polri di Bengkulu, BNPB melalui BPBD provinsi dan kabupaten kota akan maksimal melakukan penanggulangan serta evakuasi korban yang hingga saat ini masih dalam proses pencarian.Pemantuan kondisi lapangan juga dimulai dari Posko Bentiring Kota Bengkulu dan berlanjut ke Posko di Kabupaten Bengkulu Tengah.

Terhadap kerusakan infrastruktur yang terjadi akibat banjir dan tanah longsor, BNPB juga akan mendorong percepatan pembangunan dan perbaikan, sehingga akses dan aktifitas masyakat Bengkulu kembali normal. “Intinya adalah bagaimana masyarakat itu bisa beraktifitas dan bergerak kembali ekonominya,” terang Doni.

Data terbaru BPBD Provinsi Bengkulu terbaru terdapat 29 Orang meninggal dunia, 2 orang luka berat, 2 orang luka ringan, 13 orang masih dinyatakan hilang. “Pencarian korban hilang, harus terus dilakukan. Maksimalkan tenaga untuk bisa ditemukan,” paparnya.

Kepada semua masyarakat juga diminta untuk bisa melaporkan, jika masih ada keluarga maupun rekan yang hilang. Sehingga tim bisa segara memberikan bantuan pencarian. “Mari sama-sama untuk melakukan penanggulangan serta pencarian jika masih ada korban yang hilang,” pungkasnya.

Korban Terus Bertambah

Sementara itu, Korban bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) terus bertambah. Hasil pendataan sementara, sebanyak 18 orang warga ditemukan dalam kondisi tak bernyawa (meninggal dunia) dan 2 orang masih belum ditemukan. Total korban meninggal bencana banjir dan longsor di Bengkulu sebanyak 29 orang.

Selain itu, korban bencana juga ditemukan dalam kondisi selamat. Yakni, 2 orang mengalami luka berat dan 2 orang mengalami lukar ringan (luring). Bencana alam yang menimbulkan korban jiwa terjadi di beberapa lokasi. Yakni, bencana tanah longsor di kawasan kaki Gunung Bungkuk Desa Rajak Besi, Kecamatan Merigi Sakti.

Di lokasi tersebut, sejumlah keluarga yang menginap di kebun seketika tertimbun longsor dan terseret arus sungai Rikis. Selanjutnya, aliran sungai rikis juga menghantam beberapa rumah warga yang berada di sekitar daerah aliran sungai rikis.

“Dari hasil pendataan sementara, tercatat sebanyak 18 orang meninggal dunia,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Benteng, Drs Tomi Marisi MSi, kemarin (29/4).

Dijelaskan Tomi, pencarian terhadap korban bencana alam masih belum bisa dilakukan tim reaksi cepat (TRC) penanggulangan bencana (PB) Kabupaten Benteng. Pasalnya, akses jalan menuju Kecamatan Pagar Jati dan Merigi Sakti masih tertutup oleh material longsor.

“Kami belum bisa melakukan pencarian lantaran kendaraan pembawa armada (perahu karet) tak bisa menuju lokasi. Begitupula dengan pendistribusian bantuan berupa sembako dan makanan istan, semua masih terganjal akses jalan,” kata Tomi Marisi.

Pantauan Bengkulu Ekspress, lalu lintas jalan provinsi jalur Tugu Hiu-Simpang Kroya yang merupakan akses menuju Kecamatan Merigi Sakti dan Pagar Jati memang terhalang longsor. Tanah longsor terjadi di Desa Lubuk Pendam, Kecamatan Merigi Sakti, sejak Sabtu (27/4) sore. Alat berat milik Dinas PUPR Kabupaten Benteng juga tak bisa berbuat banyak lantaran mengalami kerusakan saat di lokasi bencana.

Seluruh kendaraan roda empat tak bisa melintas. Sedangkan, untuk kendaraan roda dua (sepeda motor) masih bisa melintas dengan bantuan beberapa warga dan personel TNI/Polri yang selalu standby. Bagi warga setempat yang memahami medan jalan, warga sengaja berjalan kaki untuk melintasi titik longsor dan menumpang kendaraan lain yang sudah ada di seberang jalan.

Bahkan, Wakil Bupati (Wabup) Benteng, Septi Peryadi STP yang berusaha untuk mengunjungi lokasi bencana dengan menggunakan mobil baru dengan nopol BD 2 Y terpaksa memutar arah.

“Alat berat milik Dinas PUPR Benteng sudah kita kerahkan. Akan tetapi, setelah beroperasi beberapa jam, alat berat mengalami kerusakan dan membuat pembersihan material lonsor terhenti. Alat berat saat ini sedang diperbaiki dan diharapkan agar lalu lintas bisa kembali normal pada sore ini (kemarin,red),” kata Wabup saat di lokasi longsor.

Warga Lakukan Pencarian Manual

Sementara itu, puluhan warga yang berasal dari Kecamatan Merigi Sakti, Pagar Jati dan Merigi Kelindang nekat melakukan pencarian jasad keluarga dan kerabat mereka yang terkena bencana. Pencarian dilakukan dengan cara manual dan tanpa menggunakan alat pelindung diri. Warga sengaja menelusuri aliran sungai rikis yang dipenuhi lumpur, material banjir serta pohon sawit dan karet yang telah tumbang. Pencarian sudah dilakukan sejak Sabtu (27/4) pagi setelah mengetahui bencana alam menelan korban jiwa.

Dari hasil pencarian itulah, warga berhasil menemukan para korban. Baik itu yang terluka ataupun meninggal dunia dalam kondisi yang memprihatinkan. “Pecarian warga yang hilang kami lakukan dengan menelusuri sungai,” ungkap Subhan, warga Desa Kelindang, Kecamatan Merigi Kelindang.

Sementara itu, salah seorang korban yang berhasil selamat, Meri mengatakan, peristiwa terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, debit air sungai rikis tiba-tiba meluap dengan ketinggian mencapai 4-5 meter dari keadaan normal.
Saat itu, luapan air langsung menghantam pondok yang dihuninya bersama Istri dan 3 orang anaknya. Akibat kejadian tersebut, istri tercinta, Sarima (52) terseret arus dan meninggal dunia.

“Dari semua anggota keluarga saya, istri saya meninggal dunia akibat terseret arus. Saya dan anak-anak berhasil selamat dengan memegang pohon kopi sehingga tak terbawa arus,” Sanul Abadi saat ditemui di rumah duka.(135)