Korban Banjir Sejak 1980, Saya Sudah Mati Rasa

BANJIR

Sejak 1980’an para warga di Kelurahan Tanjung Jaya, dan seitarnya, Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu selalu menjadi korban banjir. Banjir setiap tahun sudah dipastikan datang melanda rumah mereka. Karena sudah biasa, banjir bukan sebuah momok lagi bagi mereka, warga sudah mati rasa dan terbiasa dengan banjir.

Ivan Triadi & Budi- Kota Bengkulu

KESEDIHAN dan kegelisahan merupakan hal wajar dirasakan oleh para korban bencana, khususnya bencana banjir. Namun, para warga Kelurahan Tanjung Jaya sudah tidak lagi ada rasa sedih dan gelisah jika banjir melanda. Kekesalan dan kemarahan tak tau kepada siapa hendak disampaikan, hanya bisa bersabar dan menunggu keajaiban yang bisa menghentikan bencana banjir yang ada di daerah tersebut.

Junaidi merupakan salah satu warga yang rumahnya menjadi langganan banjir selama puluhan tahun. Sejak Tahun 1980’an ia sudah merasakan ganasnya air banjir yang menenggelamkan rumahnya. Rumahnya pernah ditenggelamkan air hingga atap rumah, saat banjir di Tahun 1980’an. “Saya sudah mati rasa dengan banjir ini, kesedihan itu sudah tidak lagi kami rasakan. Sejak Tahun 1980’an saya sudah merasakan banjir ini, hingga rumah saya tenggelam hingga atap rumah juga pernah,” jelas Junaidi.

Rumah dengan pondasi tinggi atau panggung juga tidak mengatasi banjir yang melanda. Daerah yang memang dataran rendah menjadi penyebab utamanya. Ditambah keberadaan sungai yang sangat dekat dengan pemukiman warga. “Sungai Bengkulu ini sangat kecil dan dangkal, jadi air dari gunung tak mampu ditampung. Sehingga menyebar dengan mudah di rumah penduduk,” tuturnya.

Sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun, Kelurahan Tanjung Jaya menjadi lokasi rawan bencana banjir. Pemimpin yang sudah berganti berkali-kali juga belum mendapat solusi untuk mengatasi banjir tersebut. “Pada zaman kepemimpinan Pak Prapto dulu diatasi dengan mengalokasi warga, dengan memberikan tempat tinggal baru. Tapi hanya sebagian warga saja,” ujarnya.

Para warga Tanjung Agung juga pernah dialokasikan pada Tahun 1990’an, namun para warga hanya diberikan lahan saja. Melihat sebagian besar rumah warga yang sifatnya permanen, sehingga tidak mungkin para warga pindah dengan membuat rumah baru. “Kami pernah diberi lahan untuk alokasi, tapi perlu dana besar untuk membangun rumah yang baru itu,” keluhnya.

Pengadaan alat sedot dari pemerintah ternyata tidak juga dapat mengatasi air banjir tersebut. Debit air yang besar dan banyak tak akan bisa diatasi dengan alat sedot, alat pembuangan air hanya berguna untuk air yang kuaotanya sedikit. “Kayaknya sia-sia pemerintah membangun alat sedot air itu, karena air banjir ini tetap merajalela masuk kerumah warga,” ungkapnya.

Banyak hal sudah dilakukan untuk mengatasi bencana banjir di Kelurahan Tanjung Jaya, seperti pengadaan alat sedot, lubang resapan dan masih banyak lagi. Namun, hasilnya tetap nol atau tidak ada. “Saya harap pemerintah dapat memikirkan nasib anak cucu kami nanti, jangan sampai mereka merasakan apa yang kami rasakan saat ini. Tolong carikan solusi yang tepat untuk mengatasi banjir ini,” pungkasnya.

Senada diungkapkan, Warga Kelurahan Tanjung Agung, Sutanto, sudah tinggal di daerah tersebut bertahun-tahun. Banjir melanda daerah ini memang sudah menjadi langganan setiap musin hujan yang melanda Kota Bengkulu dengan intensitas curah hujan yang tinggi dan deras. “Semoga banjir ini cepat surut agar kami bisa kembali lagi kerumah masing-masing,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Nurhasanah, warga jalan Irian RT. IX Kelurahan Sukamerindu mengatakan banjir yang melanda daerah ini merupakan banjir yang terjadi setiap tahun apalagi musin hujan seperti sekarang ini, bahkan rata-rata ketinggian air bisa mencapai atap rumah apalgi ditambah faktor lain. “Oleh karena itu kami warga yang tinggal di Kelurahan Sukamerindu sudah terbiasa mengalami hal yang seperti ini tinggal persiapan fisik dan mental dalam menghadapi musibah seperti sekarang ini. Apabila fisik tidak kuat pasti banyak yang terkena penyakit dan duka lain yang harus kami terima banyaknya alat-alat elektronik, kasur dan kursi yang rusak dan basah dan bahkan ada yang hilang dan hanyut terbawa banjir” terangnya.

Pantauan BE, banjir yang melanda kawasan Kelurahan Tanjung Agung dan Kelurahan Sukamerindu sangat memperhatinkan karena hingga minggu pagi ketinggian air masih belum juga mengalami penyusutan yang signifikan, bahkan ada sebagian rumah warga yang ketinggian airnya mencapai pintu rumah dan masih banyaknya warga yang belum kembali kerumahnya karena masih merasa takut apabila suatu saat air kembali meninggi.

“Kami berharap kepada Pemerintah dan Dinas terkait untuk memperhatikan keadaan kami sekarang, walaupun bantuan dari Pemerintah dan bantuan dari Intasi lain sudah kami terima tapi jangan hanya sebatas situ saja, tolong perhatikan lagi dan tolong carikkan solusinnya agar untuk kedepannya daerah ini tidak lagi menjadi kawasan langganan banjir khususnya kawasan Kelurahan Tanjung Agung samapai Kelurahan Sukamerindu tidak terendam banjir lagi seperti sekarang ini, Pungkas Sutanto.(**)