Kopi Sambung Tak Sentuh Petani Kecil

foto;ist

KEPAHIANG, Bengkulu Ekspress – Program peningkatan produksi pertanian kopi yang digalakkan Bupati Kepahiang, Hidayatullah Sjahid tidak menyentuh lapisan petani kecil. Karena banyak petani kecil yang tidak mengerti cara mendapatkan bantuan program pemerintah dengan gelontoran dana miliaran rupiah tersebut.

Seperti diungkapkan petani kopi Rimbo Donok Desa Taba Air Puah Kecamatan Tebat Karai, Pudin (38). Ia menjelaskan, tidak mengetahui adanya penyaluran program kopi sambung yang digelontorkan pemerintah sejak dua tahun terakhir. “Di kebun saya tahu tidak ada program kopi sambung dari pemerintah. Kalaupun ada stek itu pribadi dari pemilik kebun,” ucapnya, kemarin (15/5).

Menurutnya, tiga tahun terakhir dirinya tidak mendengar adanya pemberitahuan mengenai cara mendapatkan bantuan pemerintah di sektor pertanian. Sehingga, dirinya tidak mengetahui ada bagi-bagi bibit kopi sambung. “Mungkin saja ada pengumumannya, tetapi tidak sampai ke kami dibawah saja,” katanya.

Herman (55), petani lainnya mengungkapkan hal serupa. Dirinya juga tidak masuk dalam bagian petani yang menikmati program yang dianggarkan APBD Kabupaten Kepahiang tersebut. “Kalau saya tidak ada, masih mengandalkan batang kopi lama inilah,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang menilai program kopi sambung cukup berhasil meningkatkan produktivitas kopi petani. Kopi sambung yang sudah digalakan sejak tahun 2016 untuk Kecamatan Kabawetan, Kecamatan Muara Kemumu, Bermani Ilir, Merigi, Ujan Mas dan Seberang Musi karena sudah mulai panen raya tahun ini.

Khususnya kecamatan Kabawetan pengembangan kopi sambung direalisasikan melalui dana APBN 2018 sebanyak 336.000 batang. Bibit kopi sambung disalurkan kepada 14 kelompok tani. Diantaranya, berada di Desa Sidorejo, Tangsi Duren, Suka Sari, Bandung Baru, Barat Wetan, Bukit Sari, Air Sempiang dan Desa Pematang Donok. Dengan teknologi stek sambung produksi kopi petani setiap satu hektar kebun kopi diperkirakan kisaran bisa mencapai 1 ton hingga 2 ton perhektarnya.

“Ya, untuk program2016 sudah mulai panen, sementara yang tahun 2018 juga sudah mulai berbuah,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kepahiang, Hernawan SPKP.

Pemkab Kepahiang mengembangkan entres kopi Rabusta Sintaro 1 dan Sehasen. Bibit diambil dari kebun kelompok tani di Desa Bukit Sari, Kecamatan Kabawetan yang disambungkan kepada batang kopi tani penerima program bantuan stek sambung. Kualitas bibit sendiri sudah lolos seleksi dan dikukuhkan dengan SK Menteri Pertanian RI No. 142/KPTS/KB.020/12/2017 tanggal 29 Desember 2017. (320)