Kopi Petik Merah Rejang Lebong Semakin Diminati


Ary/BE
Salah satu kopi premium, yaitu kopi petik merah asal Kabupaten Rejang Lebong saat menggelar promosi di kantor Bupati Rejang Lebong sebelum pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Saat ini kopi petik merah mulai diminati para petani di Rejang Lebong

CURUP, bengkuluekspress.com– Panen kopi petik merah dalam beberapa tahun terakhir ini semakin diminati para petani kopi di Kabupaten Rejang Lebong. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya produk-produk kopi petik merah dan kopi premium dari Kabupaten Rejang Lebong.
“memang saat ini kesadaran para petani kita beralih dari petik asalah ke petik merah terus meningkat,” terang Reni Susanti, Duta Kopi Rejang Lebong.

Dijelaskan Reni, proses panen kopi petik merah saat ini semakin digandrungi para petani kopi di Kabupaten Rejang Lebong salah satunya karena harga kopi asalan ditingkat petani yang tak kunjung mengalami kenaikan. Sehingga para petani kopi di Kabupaten Rejang Lebong mulai beralih ke kopi petik merah yang harganya bisa lebih dari 2 kali harga kopi asalan.
“kalau asalan harganya tidak sampai Rp 20 ribu, tapi kalau petik merah mulai dari Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu bahkan lebih untuk kopi kualitas premium,” tambahnya.

Lebih lanjut Reni menjelaskan, kopi petik merah yang dipanen para petani kopi di Rejang Lebong selain mereka jual dalam bentuk biji kering. Sebagian mereka jadikan kopi bubuk kemudian mereka kemas dengan merk dagang mereka masing-masing. Dengan dijadikan kopi bubuk dan dikemas tersebut maka menurutnya harganya akan jauh lebih tinggi lagi.
“Beberapa kopi premium yang selama ini sudah kita kenal seperti Sintaro dan Bermanie, namun saat ini sudah banyak bermunculan nama-nama kopi premium lainnya,” papar Reni.

Munculnnya kopi-kopi premium baru di Kabupaten Rejang Lebong tersebut, menurutnya juga dipengaruhi oleh mudahnya akses promosi salah satunya melalui akun media sosial. Karena menurut Reni saat ini untuk mempromosikan kopi-kopi premium sudah sangat mudah yaitu melalui akun-akun media sosial. Kemudahan tersebut menurutnya memicu para pengusaha-pengusaha mudah tertarik untuk membuat merk dagang kopi mereka sendiri dengan pengerjaan bisa mereka lakukan dari rumah.
“Hadirnya kopi-kopi premium ini juga dipengaruhi oleh semakin maraknya media sosial, karena saat ini media sosial merupakan salah satu sarana untuk mempromosikan produk dengan mudah,” demikian Reni.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, M Yusuf SP menjelaskan saat ini ada dua jenis kopi yang dibudidayakan petani di Kabupaten Rejang Lebong yaitu kopi robusta dan arabika. Dari data yang dimiliki Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong luas area kopi robusta di Kabupaten Rejang Lebong mencapai 23.104 hektare dengan rata-rata panennya sebanya 769 Kg per hektare. Sedangkan untuk kopi arabika masih terbilang kecil yaitu baru seluas 529 hektare dengan produksi rata-ratanya sebesar 716 Kg per hektare.
“Untuk jenis robusta semua ada di 15 kecamatan dengan luasan terkecil di Kecamatan Curup yang hanya tinggal 1/4 hektare sedangkan untuk arabika baru ada di 5 kecamatan yaitu Curup Selatan, Selupu Rejang, Bermani Ulu, Sindang Kelingi dan Sindang Dataran,” terang Yusuf.(251)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*