Kopi Anjlok, Harga Sembako Naik

FOTO A.KEPAHIANG, BE – Petani kopi di Kabupaten Kepahiang kini mulai menjerit. Pasalnya, bersamaan dengan kondisi produksi kebun mengalami penurunan, sejak beberapa waktu belakangan harga ditingkat petani anjok. Di sisi lain, harga sembilan bahan pokok (Sembako) mulai merangkak naik, seiring dengan masa menjelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ditetapkan pemerintah.
Salah seorang petani asal Desa Batu Kalung Kecamatan Kepahiang, Juandi (40) mengatakan, kehidupan dirinya dan keluarga maupun kondisi petani kopi lain, menjadi terpuruk. Malah tersebut berkaitan langsung dengan tiga persoalan yang melilit petani. Yakni, hasil kebun menurun, harga kopi anjlok dan BBM bakal naik.
“Bagaimana tidak, sekarang ini harga jual kopi hanya berkisar Rp 14.500 per kilogramnya, biasanya berkisar Rp 16.500 hingga Rp 17 ribu per kilo, jadi turun hingga Rp 2 ribu,” keluh Junaidi.
Menurutnya, kondisi ini cenderung berbanding terbalik seiring issue kenaikan harga BBM. Yang mana dengan adanya issue tersebut beberapa harga kebutuhkan lain mulai mengalami kenaikan harga, sementara pendapatan dari menjual kopi malah menurun. “Memang kami tidak mengetahui secara pasti mengapa harga jual kopi mengalami penurunan, tapi yang jelas dengan kondisi ini bisa saja nanti kami tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Juandi.
Sementara itu, petani pengumpul kopi terbesar di Kepahiang, H Zurdinata menyampaikan, penurunan harga kopi ini terjadi terhadap kopi jenis robusta yang disebabkan produksi kopi luar negeri yang melimpah. “Dengan kondisi ini menyebabkan harga jual kopi skala dunia mengalami penurunan, yang akhirnya juga berimbas terhadap harga jual kopi di kabupaten kita ini,” jelasnya.
Menurutnya, melimpahnya produksi kopi ini sendiri terjadi dibeberapa negara seperti Vietnam dan Brazil serta negara-negara penghasil kopi lainnya di dunia. “Memang turunnya harga jual kopi merupakan titik terendah yang terjadi dalam tahun ini, yakni mencapai pada titik Rp 14,5 ribu per kilogramnya. Sejauh ini kita belum bisa memprediksikan kapan harga kopi kembali naik, biasanya kondisi seperti ini terjadi dalam waktu yang tidak bisa ditentukan,” tandas Nata.

Sembako Naik
Sementara itu, menjelang rencana pemerintah menaikkan harga (BBM), masyarakat Kepahiang mulai mengeluhkan kenaikan harga Sembako. Seperti dikeluhkan warga Desa Taba Tebelet Kecamatan Kepahiang, Afrizal (40). Ia mengungkapkan bahwa harga telur yang sebelumnya berkisar Rp 28 ribu merangkak naik menjadi Rp 32 ribu hingga Rp 35 ribu per karpet. Begitu juga dengan harga cabai yang saat ini mulai merangkak menembus angka Rp 40 ribu per kilo gramnya.
“Harga telur di pasaran saat ini sudah Rp 32 ribu, hari ini (kemarin, red) sudah Rp 35 Ribu. Mungkin besok harganya bakal naik lagi,” ujarnya kemarin.
Dikatakannya, selain harga telur, kebutuhan rumah tangga lainnya seperti daging ayam dan minyak goreng juga merangkak naik. “Yang jelas hampir semua kebutuhan seperti bumbu-bumbu masak juga naik, pedagang menyampaikan kenaikan harga ini bukan karena imbas mau naiknya harga BBM, tapi karena menjelang bulan puasa,” jelasnya.
Hal serupa juga diungkapkan Yani (30) warga Dusun Kepahiang juga mengungkapkan hal serupa, dimana selain kebutuhan sehari-hari berupa makanan, harga gas tabung 3 Kg juga merangkak naik.
“Harga gas sekarang sudah Rp 20 ribu sampai Rp 21 ribu kalau diantar ke rumah. Sebelumnya harga gas ukuran 3 kg itu sekitar Rp 18 Ribu. Mungkin karena mau BBM naik ini,” sampainya.
Menurutnya, kenaikan harga sembako itu cukup memberatkan masyarakat. Terlebih lagi tidak ada kenaikan pendapatan. “Yang jelas kami sangat mengeluhkan kenaikan harga-harga di pasar. Apa lagi pendapatan kami tidak meningkat, sementara pengeluaran kami malah melonjak. Harapan kami pemerintah bisa lebih bijak lagi terkait hal ini,” keluhnya.
Pantauan BE di Pasar Pagi Kepahiang, pedagang berdalih mulai menaikkan harga sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya dikarenakan mau mendekati bulan puasa. Sejauh ini menurut pedagang isue kenaikan harga BBM belum berdampak bagi transportasi pihaknya dalam menganggkut hasil daganganya.
“Sebentar lagi kan mau bulan puasa, dari tingkat petani juga harga Sembako sudah mengalami kenaikan. Ini karena kebanyakan petani sudah mengganti tanaman yang ditanamnya menjelang bulan puasa ini,” ujar pedagang Pasar Pagi, Bude (45), kemarin. (505)