Kontainer Sampah Terancam Gagal


MEDI/BE : Salah satu TPA liar yang dibuat warga di Jalan Sepakat Kelurahan Sawah Lebar Baru, karena minimnya sarana kontainer sampah, kemarin.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Rencana Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota untuk pengadaan 24 kontainer sampah terancam gagal. Pasalnya, saat ini belum ada perusahaan atau pihak ketiga yang mampu untuk bekerjasama dalam pengadaan unit tersebut, ditambah lagi terjadi kendala administrasi di ULP.

“Sudah gagal lelang satu kali, terus dari ULP ada kesalahan dokumen satu kali, jadi prosesnya itu belum berjalan,” kata Kepala Bidang Pengolahan sampah dan Limbah B3 DLH kota, Rusman Effendi SSTP MSi, kemarin (16/9).

Pihaknya terus berusaha agar kendala administrasi di ULP bisa selesai dan berharap ada pihak ketiga yang mau bekerjasama untuk pengadaan bak kontainer sampah tersebut dalam waktu dekat. Dan tidak molor lagi menginggat waktu terbatas, karena setelah ada pemenang lelang maka paling lambat 60 hari kontainer itu harus sudah tersedia.

“Sesuai janji ULP kita harapkan tanggal 18 September ini sudah ada pemenangnya. Siapapun itu kami harapkan karena kami tidak ada kepentingan siapa pemenangnya yang penting kami butuh barang itu segera,” jelas Rusman.

Menurutnya, 24 unit kontainer baru ini sangat dibutuhkan dan sifatnya mendesak, menginggat saat ini Kota Bengkulu darurat sampah. Terlebih saat ini DLH hanya memaksimalkan 36 unit kontainer, dan hanya 60 persen yang masih layak pakai, sedangkan sisanya sudah dalam kondisi rusak parah akibat dimakan usia. “Sisanya dalam rawat jalan kadang-kadang harus ditambal, dilas karena sudah keropos. Penyebab gagal lelang ini kalau tidak salah termasuk masalah harga, ULP minta turunkan, ya sudah kita turunkan, kalau total harganya saya lupa tapi tak sampai Rp 900 juta,” paparnya. Rencananya, lanjut Rusman, 24 kontainer ini akan ditempatkan di beberapa titik seperti di Kelurahan Bentiring, Pematang Gubernur, Kandang Limun, dan daerah kecamatan Kampung Melayu. Kemudian beberapa diantaranya juga dipakai untuk mengganti bak kontainer lama yang sudah tak layak pakai lagi.

Sementara itu, Anggota DPRD kota, Kusmito Gunawan SH MH meminta agar pihak DLH terus mengawal proses lelang ini, jangan sampai anggaran yang sudah tersedia justru menjadi SILPA (Sisa Lebih Pengunaan Anggaran). Menurutnya, pengadaan bak kontainer sampah ini sudah sangat mendesak dan ditunggu oleh masyarakat, karena selama ini memang terjadi kekurangan. Jika tahun ini gagal maka upaya untuk mengatasi persoalan sampah menjadi sia-sia. “Kalau tidak salah dana itu Rp 700-900 juta, oleh karenanya coba dicari tahu ke ULP-nya, jangan sampai nanti molor. Dan pengadaan barangnya bisa-bisa Januari, sedangkan anggarannya APBD 2019, bisa saja ini menjadi Silpa,” tutur Kusmito.

Dilarang Dibakar

Tumpukan sampah yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul Kota Bengkulu yang mana perhari mencapai 60 ton dilarang dibakar. Hal itu untuk mengantisipasi kebakaran pada musim kemarau ini. Hal tersebut disampaikan pengawas dari Dinas Kebersihan Kota Bengkulu, Junaidi. “Kita sudah buat larangan dan tulisan agar para pemulung tidak membakar sampah tersebut dan kemudian menumpuk sampah yang kering dengan sampah basah, hal itu agar tidak mudah terbakar,” jelas Junaidi, kemarin (16/9).Ia menjelaskan, volume sampah yang berasal dari Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah, yang mana perharinya bisa mencapai 60 ton, dan dimusim kemarau ini banyak sampah tersebut yang mudah terbakar. Oleh sebab itu, pihaknya melarang keras para pemulung membakar dan merokok disekitar lokasi TPA tersebut.

“Yang jelas, di sini banyak sampah yang berasal dari rumah tangga dan perkantoran. Ada yang berupa plastik, kertas, kayu ataupun batang pohong yang mudah terbakar,” jelasnya.Ia mengatakan, untuk menghindari terjadinya kebakaran, pihaknya menurunkan eksavator yang mana gunanya untuk menumpuk sampah kering dengan sampah basah. Sebab pada musim kemarau ini, sampah yang mengering akan mudah terbakar karena mengandung gas metan di dalamnya. Oleh karena itu, pihaknya pun meminta kepada sejumlah pemulung untuk tidak membakarnya karena di lokasi ini sangat dekat dengan rumah penduduk dan bisa menyebabkan polusi udara nantinya.”Selain ditumpuk dengan sampah yang basah, kita juga melakukan penimbunan menggunakan tanah,” tuturnya.

Di sisi lain, untuk mengurangi volume sampah, ia berharap agar pemerintah dan oraganisasi masyarakat dapat mengembangkan program daur ulang sampah, agar sampah yang menumpuk setiap harinya bisa berkurang terutama dilokasi TPA Air Sebakul ini.”Kita berharap ada solusi yang terbaru untuk mengatasi tumpukan sampah ini, terutama selama musim kemarau sekarang ini,” demikian ucapnya. (529/805)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*