Komplotan Rampok Diburu ke Linggau


Gaji Karyawan PT DMH Ditunda

KARANG TINGGI, BE – Komplotan perampok uang milik PT Danau Mas Hitam (DMH) senilai Rp 175 juta, Rabu lalu (3/10) terus diburu. Kepolisian menurunkan tim khusus (Timsus) gabungan Polsek Karang Tinggi, Taba Penanjung, Sat Reskrim Polres Bengkulu Utara, dan Subdit Jatanras Polda Bengkulu.

Salah satu pelaku yang tertangkap di Taba Penanjung Bengkulu Tengah Sn (23) Rabu lalu (3/10) langsung diboyong ke Lubuk Linggau, Sumatera Selatan untuk menunjukkan persembunyian 4 pelaku lainnya; Op (30), Yt (28) Rd (31) dan Pd (32).
Saat penyisiran lokasi pelarian para pelaku di Taba Penanjung hanya ditemukan barang bukti tas ransel kosong yang dibuang pelaku. Diduga uang rampokan dibawa kabur pelaku Rd ke luar kota.

“Setelah di-BAP pelaku (Sn) langsung kita bawa ke Lubuk Linggau. Kita mengendus pelaku lain kabur ke sana,” kata Kapolsek Karang Tinggi, Iptu Kusman Jaya SH, kemarin.

Ia berjanji kepolisian akan membekuk komplotan rampok ini. Pun begitu ia berhadap para pelaku kooperatif dengan menyerahkan diri.”Mereka akan diancam dengan pasal 363 KUHP dengan hukuman maksimal lebih dari 5 tahun penjara,” tandasnya.
Disinggung komplotan ini juga terlibat aksi serupa di beberapa peristiwa lain, Kusman enggan berspekulasi. Pastinya saat ini fokus untuk menangkap para pelaku tersebut.

Sementara itu jajaran manajemen PT DMH menyerahkan sepenuhnya pengusutan perampokan ini kepada aparat kepolisian. Sejauh ini, aktivitas perusahaan berjalan seperti biasa. Namun gaji karyawan terpaksa ditunda.

“Kejadian ini juga sudah kita sampaikan kepada direktur. Syukurlah para karyawan memahami kondisi musibah yang sedang kita alami ini,” ungkap Kepala Tambang PT DMH, Hariyono.

Dilanjutkannya, atas kejadian tersebut pihaknya akan mengambil pelajaran. Sehingga karyawan tidak menjadi korban. Terlebih uang tersebut tidak hanya untuk gaji karyawan, namun operasional perusahaan. “Kita harapkan aparat kepolisian bisa segera menangkap pelaku secepatnya,” harapnya.
Sekadar mengingatkan uang PT DMH yang baru ditarik dari salah satu bank di Kota Bengkulu itu dibawa bendahara perusahaan Riko Arjun Simatupang dan stafnya Eni Trisnawati. Keduanya dikawal anggota polisi dari Brimob bernama Supardi.

Uang itu pun diletakkan di jok tengah mobil Toyota Avanza. Dalam perjalanan pulang, mereka istirahat sejenak dan makan siang di rumah makan kawasan Desa Taba Terunjam Karang Tinggi Bengkulu Tengah. Saat ketiganya makan, salah satu pelaku pura-pura menawari produk tertentu kepada korban. Sementara pelaku lainnya memantau situasi dan lainnya pura-pura beli rokok di warung sekitar target. Ketika korban lengah para pelaku lain langsung membongkar mobil yang berisikan uang. Kebetulan saat itu mobil dalam keadaan tak terkunci semakin memudahkan aksi para pelaku.(160)