Koleksi 6.151 Benda Bersejarah, Tongkat Raja Dijadikan Maskot

Foto Tongkat Raja Bengkulu
AFRIZAL/Bengkulu Ekspress
Tongkat raja yang berbentuk ular dan mesin pencetak uang ini terpajang di Museum Negeri Bengkulu, kemarin (15/8).Harian Bengkulu Eskpress (BE) mengunjungi

Museum Negeri Bengkulu, kemarin (15/8).
Kedatangan Bengkulu Ekspress disambut hangat pemandu museum yang ramah dan sopan. Pemandu mengajak Bengkulu Ekspress berkeliling sekaligus menjelaskan banyak cerita tentang koleksi benda bersejarah dan adat budaya masing-masing suku yang terdapat di Bengkulu.

Di antara ribuan koleksi itu, Bengkulu Ekspress paku dengan tongkat Raja Bengkulu. Meski hanya tongkat replika.
Tongkat ini dihadiahi Raja Bengkulu kepada Residen Bengkulu, Yoseph Hoarloik Esquirre pada tahun 1.752. Tongkat Raja Bengkulu berbentuk seperti ular ini dijadikan maskot Musium Negeri Bengkulu.

”Tongkat Raja Bengkulu yang asli hilang, tidak tahu di mana keberadaannya. Kita hanya memiliki replikanya,” kata

Kepala Seksi Bimbingan Museum Negeri Bengkulu, Nurila Utami.Koleksi ini terletak di ruang pameran tetap, di tengah ruangan tersebut.

Diceritakan, Tongkat Raja Bengkulu yang asli terbuat dari bambu, bagian kepala terbuat dari emas bermotif ular.
Tongkat itu pernah dinyatakan hilang. Beruntung bisa ditemukan kembali. Nahas, bagian emasnya tidak ditemukan lagi. Tongkat ini ditemukan di Inggris, saat ada pelaksanaan badan lelang Christie. Lelang tongkat Raja Bengkulu itu dimenangkan salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) Inggris . Kemudian, pada 1993 bertempat di Benteng Marlborough Bengkulu, Pemerintah Inggris menyerahkan tongkat ini kepada Gubernur Bengkulu.

Selanjutnya, tongkat itu disimpan di Museum Negeri Bengkulu. Dulu Museum Bengkulu adalah Benteng Marlborough berada di posisi belakang. Suatu waktu ada surat dari pejabat Bengkulu yang meminta tongkat Raja Bengkulu itu untuk dibuat replikanya. Setelah replika jadi, maka replika tongkat Raja Bengkululah yang dikoleksi Museum Negeri Bengkulu hingga saat ini.

Selain tongkat Raja Bengkulu tersebut, masih banyak koleksi Museum Bengkulu yang lainnya. Seperti koleksi pakaian pengantin dan pakaian adat, alat-alat rumah tangga, senjata tradisional, miniatur rumah adat, tulisan huruf “ Ka Ga Nga” dan peninggalan-peninggalan masa prasejarah mulai dari masa peradaban batu sampai perunggu.
Demikian juga peninggalan kerajinan kain tenun terdiri dari kain tenun masyarakat Enggano dan aneka jenis motif kain besurek.Museum Negeri Bengkulu memiliki dua ruangan pameran, yakni ruang Pameran Tetap dan Pameran Temporer.

“Di kedua ruang pameran inilah kita dapat melihat 6.151 koleksi yang meliputi bidang biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika/heraldika, filologika dan keramologika,” imbuh Nurila.

Di ruangan pameran tetap, terdapat papan profil Provinsi Bengkulu, yang berada di dekat pintu masuk. Papan ini berisikan tentang Provinsi Bengkulu yang terdiri atas satu kota dan sembilan kabupaten.

Di papan itu terdapat pula informasi tentang delapan suku asli di Provinsi Bengkulu. Mulai dari Suku Mukomuko, Pekal, Rejang, Lembak, Serawai, Basemah, Kaur, dan Enggano.

Selain itu, ada Naskah Ka-Ga-Nga. Cukup menarik dinikmati. Naskah kuno Bengkulu itu berisi hukum, adat, pengobatan, doa dan mantra, kisah/kejadian, tembo atau silsilah, rperambak bujang gadis, serta cerita rakyat. Sarana penulisannya berupa bambu, bilah bambu (gelumpai), rotan, kulit kayu, tanduk, batu, dan kertas. Aksara Ka-ga-nga merupakan turunan aksara Pallawa. Bahasa yang dipakai Rejang, Serawai, Melayu, Lembak, dan Pasemah. Dulu, aksara kuno itu dipakai oleh Suku Rejang. Usianya sudah ratusan tahun.

Foto Mesin cetak
AFRIZAL/Bengkulu Ekspress
Tongkat raja yang berbentuk ular dan mesin pencetak uang ini terpajang di Museum Negeri Bengkulu, kemarin (15/8).

Selanjutnya ada mesin cetak uang. Koleksi ini benar-benar luar biasa. Ternyata Bengkulu pernah memiliki uang resmi yang beredar hanya di wilayah Bengkulu. Namanya mesin cetak Drukkey Popular dengan merek Golden Press. Mesin cetak produksi Amerika Serikat ini dibuat pada 1930. Drukkey Popular inilah yang dipakai oleh pemerintah Indonesia untuk mencetak uang merah. Uang merah merupakan sejenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang difungsikan sebagai alat tukar-menukar yang sah khusus di wilayah Bengkulu.

Terakhir, benda unik lainnya adalah Tempayan Kubur. Tempayan kubur merupakan salah satu koleksi yang sangat unik. Jadi, pada masa lalu, jasad dikubur disertai dengan tempayan yang berisi harta bendanya. Para peneliti menyebut, tempayan itu bisa juga berisi makanan. Masyarakat pada masa itu menganggapnya sebagai bekal anggota keluarga di alam kubur. Benda-benda kuno yang ditemukan dari dalam tanah itu dibersihkan lalu direkonstruksi terlebih dahulu sebelum dipajang di museum ini.

Selain itu, masih banyak koleksi lainnya yang menjadi bukti sejarah di Museum Negeri Bengkulu. Di antaranya, koleksi replika rumah adat, baju adat, naskah kuno, lukisan, keramik antik, filologi (seperti bebatuan dan mineral), benda purbakala, numismatika (mata uang yang pernah berlaku), serta heraldika (seperti lambang dan tanda jasa).
Jika ingin tahu banyak tentang Bengkulu, datang saja ke museum ini yang dibuka setiap hari Senin-Jumat pukul 08.00-16.00, Sabtu-Minggu pukul 08.00-14.00 WIB.

Tiketnya pun murah, hanya Rp 3 ribu untuk dewasa dan Rp 2 ribu untuk anak-anak.
Museum Negeri Bengkulu mulai didirikan pada 1 April 1978, namun baru difungsikan pada 3 Mei 1980, yang bertempat di belakang Benteng Marlborough. Koleksi awal berjumlah 51 koleksi, diantaranya 43 buah koleksi etnografi, 6 buah koleksi keramik, dan 2 buah koleksi reflika.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 3 Januari 1983, museum ini menempati gedung baru di Jalan Pembangunan Nomor 8 Kota Bengkulu. Berdasarkan SK Mendikbud RI No 0754/01/1987, ditingkatkan statusnya menjadi Museum Negeri Provinsi dengan klarifikasi museum umum tipe C, sebagai unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Direktorat Permuseuman Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Peresmian pada tanggal 31 Maret 1988 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Drs. GBPH Poeger, dengan nama Museum Negeri Provinsi Bengkulu. (**)