Kodam Sebar Penembak Jitu

BENGKULU, BE – Kedatangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke Bengkulu pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 8 Februari mendatang mendapatkan pengamanan ketat dari Kodam II Sriwijaya dan Korem 041/Gamas Bengkulu.  Bahkan  Kodam II Sriwijaya telah menyiap penembak jitu yang siap menembak orang  atau kelompok tertentu yang berupaya mengganggu orang nomor satu di Indonesia tersebut.
“Pengamanan presiden menjadi tanggung jawab penuh TNI, penembak runduk atau jitu pun siap melaksanakan tugasnya jika terdapat gangguan dari masyarakat atau kelompok yang berupaya mengganggu presiden,” tegas  Komandan Korem (Danrem) 041/Gamas Bengkulu, Kol Inf Achmad Sudarsono didampingi Kapenrem Mayor Inf Onsonuni N SH kepada BE, kemarin.
Ia mengungkapkan, penembak jitu tersebut menggunakan teleskop yang mampu mengenai sasaran dari jarak 900 meter. Untuk itu, ia meminta kepada semua pihak untuk tidak mencoba menganggu keamanan presiden itu.  Namun begitu, Danrem enggan menyebutkan berapa jumlah penembak jitu yang disiagakan itu,
“Saya tidak tahu berapa jumlahnya dan dimana saja akan ditugaskan, yang jelas jika ada yang mencoba menggangu, mereka akan menjalankan tugasnya,” ungkapnya.
Selain menyiapkan penembak jitu, Kodam II juga akan menyiapkan  personel mencapai 1.900 orang. Jumlah itu gabungan antara Kodam II Sriwijaya, Korem 041/Gamas dan Polda Bengkuulu serta pengamanan pun mulai dilakukan H-1 sebelum kedatangan presiden.  “Selain itu, kami juga akan menyiapkan 3 unit Panser ANOA sebagai senjata tambahan,” imbuhnya.
Terkait adanya informasi mahasiswa dan warga akan menggelar aksi demonstrasi saat kedatangan presiden, Sudarsono menegaskan, pihaknya tidak segan-segan mengamankan para pelaku demo tersebut.
Karena demo yang dilakukan sudah pasti ilegal, karena pihak Polda Bengkulu sendiri tidak akan mengeluarkan izin untuk menggelar aksi terhadap presiden tersebut.  “Saya yang akan turun langsung jika ada demo, dan saya tidak segan-segan menangkap para pendemo itu,” jelasnya.
Menurutnya, demo bukanlah satu-satunya cara untuk mencari solusi dari berbagai persoalan yang ada di Bengkulu. Karena masih ada pemerintah daerah seperti bupati/walikota serta gubernur yang memiliki tanggung jawab terhadap tuntutan masyarakatnya.   “Demo itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi malah menimbulkan masalah baru,” ujarnya.
Untuk itu, ia meminta kepada masyarakat, mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan lainnya untuk tidak mencoba mengganggu keamanan presiden selama berada di Bengkulu.
“Saya minta kepada semua pihak untuk mensukseskan HPN ini sesuai dengan Tupoksi masing-masing.  Jangan coba-coba menghambat, apalagi menggagalkan karena risikonya sangat tinggi,” pintanya.

Polda Antisipasi Demo
Polda Bengkulu mengantisipasi ancaman demo yang akan dilakukan.  “Kami sudah siapkan lebih dari 800 personil dari Polres-Polres yang ada di Bengkulu,” kata Kabid Humas Polda Bengkulu AKBP Hery Wiyanto SH.
Ia menambahkan,  pihaknya menerima aspirasi dari masyarakat asalkan aspirasi tersebut tidak mengganggu jalannya acara.   Sebab jika mengganggu acara, pengusiran dan pembubaran paksa akan dilakukan.  “Menyampaikan aspirasi itu hak seluruh rakyat, asalkan aspirasi tersebut tidak menimbulkan kericuhan,” lanjutnya.
Di bagian lain, Kepala Biro Umum Pemprov, Darpinuddin mengatakan, pihaknya telah menjadwalkan bahwa presiden akan tiba di Bengkulu Sabtu sore (8/2), karena hari puncak HPN sendiri akan berlangsung tanggal 9 Februari.
“Konsep kami, tanggal 8 malam presiden istirahat di Gedung Daerah, keseokan harinya tanggal 9 Februari menghadiri berbagai acara seperti pukul 08.00-10.00 WIB acara PWI, pukul 10.00 WIB  acara puncak di Benteng Marlborought. Setelah itu ada peresmian tugu pers, mess Pemda dan pelepasan penyu di Pantai Panjang. Sedangkan tanggal 10 sekitar pukul 09.00 WIB, presiden kembali ke Jakarta,” pungkasnya. (400/cw3)