KKT Gelar Duduk Penja, Penghormatan Perjuangan Al Husein

RIO/Bengkulu Ekspress DUDUK PENJA: Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bengkulu menggelar ritual Duduk Penja yakni ritual membersihkan jari-jari (simbolis) yang kemudian disusun dalam Gerga Tabot Imam Kelurahan Berkas, Jumat (14/9).
RIO/Bengkulu Ekspress DUDUK PENJA: Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bengkulu menggelar ritual Duduk Penja yakni ritual membersihkan jari-jari (simbolis) yang kemudian disusun dalam Gerga Tabot Imam Kelurahan Berkas, Jumat (14/9).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Salah satu ritual yang tabot yang tidak boleh dilewatkan adalah Duduk Penja yang dilakukan pada 5 Muharam. Duduk Penja adalah ritual membersihkan jari-jari yang kemudian disusun dalam tiang salah satu tabot sakral. Keluarga Kerukunan Tabut Bencoolen (KKT) melakukan ritual duduk penja ini, di gerga tuo tabun imam barqas, kemarin (14/9/2018).

Proses ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Husein bin Ali bin Abi Thalib salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW, dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di Padang Karbala pada 10 Muharam 61 Hijriah (680 M).

” Penghormatan kepada Al Husein yang telah rela mati syahid dalam menegakkan kalimat tauhid laa illaha Illalah,” ucap Ketua Kerukunan Keluarga Tabut Bencoolen (KKT) Ir Syiafril Syahbuddin, usai memimpin ritual duduk penja, kemarin (14/9/2018).

Dijelaskannya, Duduk Penja merupakan benda yang terbuat dari kuningan, perak atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya, karenanya penja ini disebut juga dengan jari-jari. Ukurannya pun beragam, ada yang kecil, sedang, dan besar lengkap dengan jari-jarinya, dan juga ada penja yang berbentuk pedang yang digunakan para nabi saat berperang menegakkan Islam.

“Penja itu simbol tangan lima jari, juga sebagai simbol menegakkan tiang agama Islam yakni salat 5 waktu. Untuk menegakkan salat itu harus bersih dulu mulai dari tangan, kalau tangan kotor maka kotor semua,” jelasnya.

Diawali Doa dan Shalawat

Prosesi ritual ini berjalan dengan khidmat yang diawali dengan doa dan shalawat, penja diturunkan, dilengkapi sesajen berupa kemenyan, emping, air serobat, susu murni, air kopi pahit, nasi kebuli, pisang emas dan tebu. Setelah dicuci, keluarga pembuat tabot langsung mengantarkan Penja yang dibungkus ke gerganya, dengan diiringi bunyi dol dan tassa untuk disimpan kembali selama upacara perayaan tabot.

Setelah melakukan doa, para keluarga tabot pun tampak berbaris dan mengelilingi gerga sebanyak 7 kali dengan membawa bendera, jari-jari, tunas pohon pisang, penja yang sudah dicucikan dan dibungkus kain putih, serta beberapa makanan seperti nasi kebuli, pisang mas, tebu dan lainnya.

” Makanan seperti nasi kebuli dan nasi emping itu sengaja kita buat dalam bungkusan, jadi nanti dibagikan, kalau dulu itu mereka langsung berebut dan akhirnya berserakan sehingga mubazir,” pungkasnya.
Usai melakukan duduk penja, selanjutnya yakni Menjara yang dilakukan pada hari pada malam 6 – 7 Muharram.

Menjara merupakan simbol perjalanan panjang di malam hari dengan arak – arakan musik dol, bendera dan panji-panji kebesaran yang diibaratkan ketika perjalanan dari Madinah menuju Padang Kerbala Iraq pada tahun 61H / 680M. (805)

==hal 1==