Kisah Tika, Si Badut Jalanan: Rela Putus Sekolah, Demi Pendidikan Sang Adik

SATRIA WIBOWO/BE – Tika (15), badut jalan yang sedang beraksi di kawasan Simpang Lima, Kota Bengkulu, Senin (31/08).

BEBERAPA tahun terakhir, di sejumlah persimpangan jalan protocol di Kota Bengkulu, kita kerap menyaksikan aksi badut jalanan, berbagai karakter, mulai dari Doraemon, Teddy Bear, Masha and The Bear, dan karakter badut lainnya. Salah satu dari badut itu adalah Tika Meita Cantika Putri (15), seorang bocah perempuan asal Prabumulih, Sumatera Selatan, yang rela putus sekolah demi pendidikan sang adik. Bagaimana kisahnya, simak penuturan Tika peda wartawan Bengkulu Ekspress, Satria Wibowo, Senin (31/08).

Saat dijumpai, Tika tengah menghibur pengendara motor dan mobil di kawasan Simpang Lima Kota Bengkulu. Meskipun di tengah terik matahari, Tika tak  menghiraukannya. Di sela-sela aksinya, Tika bercerita kepada BE awal mulanya menjadi badut jalanan.

Tika mengaku, menjadi badut jalanan sejak ayah dan ibunya berpisah, tepatnya sejak ia lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD),3 tahun lalu. Namun ia bertekad adiknya, Auliya (12), jangan sampai mengalami nasib sepertinya.

“Adik jangan sampai putus sekolah, kasihan, biar Tika saja,” ungkap Tika kepada BE, dengan mata berkaca-kaca, Senin (31/08).

SATRIA WIBOWO/BE – Tika (kiri), bersama sang adik Auliya (12), disela-sela menjadi badut jalanan.

Tika menjalankan profesinya ini bersama ibu, paman, bibi dan adiknya, Auliya. Adiknya yang masih sekolah di SDN 71 Prabu Mulih, bisa ikut menjadi badut, karena sedang mengikuti sekolah online dimasa pandemic Covid-19. Saat ini Tika dan keluarga mengontrak rumah kecil di sekitar wilayah Simpang Lima, Ratu Samban, Kota Bengkulu.

Tika mengaku masih sering malu menjadi badut jalanan meski telah 3 tahun ia menjalankan profesi tersebut. Namun pekerja tersebut harus tetap ia lakukan demi sesuap nasi dan juga untuk biaya sekolah sang adik.

“Malu sebenarnya, tapi ya bagaimana, jika tidak seperti ini maka tidak makan dan Auliya tidak bisa sekolah,” tambah Tika.

Tak hanya di Bengkulu, Tika juga menghibur di lampu merah- lampu merah kota lain seperti Palembang dan Jambi. Sementara Tika berada di Bengkulu baru sebulan belakangan. Penghasilan yang didapat Tika dan keluarga menjadi badut jalanan rata-rata sebesar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu perhari. Tetapi jika sedang bernasib baik ia pernah mendapatkan uang Rp 150 perhari.

Bermodalkan kostum badut dan speaker kecil, Tika menghibur para pengendara motor dan mobil di lampu merah dari pukul 12.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Di sisi lain, Tika mengaku, dia dan keluarga tidak akan selamanya berada di Bengkulu. Merela akan kembali lagi ke Prabu Mulih,dan melanjutkan profesinya sebagai badut jalanan disana jika adiknya, Auliya, mulai kembali lagi masuk sekolah  seperti biasa.(mg5)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*