Kisah Petugas Pemakaman Covid-19 di Bengkulu, Tak Kenal Waktu, Nyawa Dipertaruhkan

IST/BE
MAKAMKAN: Petugas khusus saat melakukan proses pemakaman jenazah yang meninggal akibat wabah covid-19, di pemakaman khusus covid-19 Air Sebakul Kota Bengkulu.

Sebagai petugas yang memakamkan jenazah terpapar covid-19, banyak suka dan duka terjadi. Meskipun nyawa menjadi taruhan, karena rentan terpapar virus mematikan itu, petugas pemakaman khusus covid-19, tetap iklas dan siap setiap waktu. Seperti apa suka dan dukanya, berikut laporannya. 

EKO PUTRA MEMBARA – Kota Bengkulu

Wabah virus korona atau covid-19, sudah terjadi sejak awal tahun 2020 lalu. Sampai saat ini, virus yang terjadi diseluruh belahan dunia itu, belum juga punah. Termasuk di Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu, virus tersebut terus berkembang biak. Hingga saat ini, sudah ada 1.049 orang terpapar virus mematikan tersebut dan sudah ada sebanyak 745 orang sembuh.
Ribuan masyarkat Bengkulu yang terpapar virus korona itu, korban meninggal juga sudah banyak. Totalnya ada sebanyak 48 orang tersebar di wilayah Provinsi Bengkulu.
Dibalik, banyaknya korban meninggal akibat virus korona itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu telah menetapkan melalui surat keputusan (SK) untuk membentuk petugas khusus memakamkan jenazah yang dinyatakan positif covid-19.
Banyak suka duka yang dialami oleh petugas pemakanan jenazah. Walapun sudah dijamin dilangkapi alat pelindung diri (APD) covid-19, kekhawatiran tetap dirasakan, saat memakamkan jenazah. Salah satu petugas pemakaman, Radiat Setiawan (41) bercerita, dirinya awalnya ragu untuk bertugas memakamkan jenazah. Lantaran karena tugas sosial sebagai manusia, Radiat Setiawan yang akrab disapa Iwan terus menyakinkan diri, untuk iklas memakamkan jenazah.
“Kalau pertama dulu, memang kaget betul. Tapi ini karena tugas mulai, saya jalani,” ujar Iwan.
Ketakutan itu, menurut Iwan terus ia lawan dengan penuh kenyakinan. Sebab, pihaknya yang meminta APD untuk dilengkapi, terus dipenuhi oleh pemerintah. Setidaknya ada 4 jenazah yang makamkan dengan tim yang terdiri dari 8 orang.
“Karena semua APD lengkap, protokol kesehatan dijalankan, petugas khusus juga disiapkan ketika kita kelelahan. Jadi kami yakin, tidak akan terpapar,” ungkapnya.
Honorer yang lebih 10 tahun mengabdi di Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Bengkulu itu mengaku, untuk tugas memakamkan jenazah yang terpapar covid-19, tidak dikenal waktu untuk memakamkannya. Bahkan pernah memakamkan jenazah yang meninggal di RSUD M Yunus Bengkulu pada pukul 03.30 WIB malam menjelang pagi, di pemakaman khusus covid-19 Air Sebakul Kota Bengkulu. Dirinya tidak bisa menolak, karena memang itu sudah menjadi tugas dirinya dan 8 orang lainnya.
“Penah kita ditelpon malam hari, untuk melakukan penguburan jenazah. Saya tetap berangkat, karena memang ini tugas yang harus saya jalankan.” ujar Iwan yang tinggal di Pantai Jompo Depan Polda Bengkulu ini.
Menurut Iwan, tugas yang ia emban dengan rekan lainnya itu, tetap akan dijalaninya, ketika pemerintah membutuhkan. Karena pengorbanan yang mengancam nyawa itu, bagi Iwan, adalah tugas mulai. Baginya, takdir manusia itu, hanya Allah yang menentukan.
“Tetap akan saya jalani, karena ini bentuk kerja sosial yang saya lakukan. Tentu saya iklas menjalaninya,” tuturnya.
Tidak hanya Iwan, petugas memakamkan jenazah lainnya, juga menceritakan suka dan duka yang sama. Salah satunya, Sindu (46) yang beraktifitas seharian di sebagai penjaga Makam Pahlawan itu mengatakan, banyak suka dan duka dialaminya. Salahnya ketika menggunakan APD lengkap untuk memakamkan jenazah, tubuh menjadi panas dan pengap untuk udara.
“Pakai pakaian asmat itu pengap udaranya. Kami harus pakai 1 jam lebih, saat memakamkan jenazah. Ya walapun pengap tetap kita pakai, kalau tidak tambah bahaya,” ujar Sindu.
Sindu menceritakan, awalnya sangat cemas, untuk bertugas memakamkan jenazah. Karena virus itu dikenal membayakan. Namun baginya, karena niatnya bagus, dirinya tetap menjalankan tugas itu.
“Niat saya lilahitaalla. Karena kita semua akhirnya akan mati juga. Mudah-mudahaan saya tidak takut,” tuturnya.
Namun dari tugas yang dilakukan selama ini, dirinya merasa tetap aman dari wabah covid-19. Bahkan keluhan sakit yang terindikasi terkena wabah covid-19, juga tidak dirasakan.
“Insyallah sehat-sehat aja, mohon doanya,” ungkap Sindu.
Disampaikan kewajibannya menguburkan jenazah yang terpapar covid-19 meninggal di RSUD M Yunus Bengkulu, pemerintah juga tidak mensia-siakan jasanya. Upah yang diterima sekali menguburkan jenazah, masih dinilai layak. Menurut Sindu, untuk sekali menguburkan janazah, dirinya mendapatkan upah Rp 500 ribu. Meski nilainya tidak sebanding dengan nyawa yang dipertaruhkan, bagi Sindu, pemberian itu sudah lebih dari cukup.
“Alhamdulilah bersyukur sudah dikasih. Bagi saya, upah itu sudah besar. Alhamdulilah,” terangnya.
Meski banyak suka duka yang tidak bisa dicerikan, Sindu hanya meminta kepada masyarakat, untuk bisa tertib mematuhi prokes covid-19. Ia menyakinkan, bahwa virus tersebut ada dan nyata. Jika terus diabaikan, maka nyawa yang akan menjadi pertaruhan.
“Jadi kami cuma minta, masyarakat silahkan ikuti anjuran pemerintah untuk taat protokol. Kami yang menggali dan menguburkan jenazah selalu sedih. Karena saat dikuburukan, tidak banyak keluaga bahkan tidak ada keluarga yang berani melihat proses pemakaman itu. Jadi kami minta silahkan taat protokol kesehatan,” pungkas Sindu. (**)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*