Kisah Perempuan-perempuan Perkasa,Mengais Rupiah di Tumpukan “Emas Hitam”

REWA/Bengkulu Ekspress SIBUK: Para ibu-ibu tengah sibuk membersihkan batu bara di Wilayah Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu, kemarin (7/3).
REWA/Bengkulu Ekspress SIBUK: Para ibu-ibu tengah sibuk membersihkan batu bara di Wilayah Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu, kemarin (7/3).

Ditengah gempuran kemajuan zaman, ada tangan-tangan luar biasa yang tidak lelah untuk mencari nafkah, jika banyak ibu-ibu sibuk merias diri di rumah, para Ibu-ibu ini sibuk mengais rezeki ditumpukan batubara, berharap mengantongi rupiah demi rupiah untuk sekedar membantu membeli lauk untuk menyambung hidup keluarga.

==================
REWA YOKE D – Kota Bengkulu

SIANG itu waktu tepat menunjukkan pukul 13.10 WIB, di bawah terik matahari tampak Yati (37) bersama dengan 30 orang teman-temanya tengah sibuk membersihkan emas hitam alias batu bara milik PT Jambi Resource di Wilayah Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu. Sebuah pekerjaan yang bagi orang lain mungkin tidak layak tetapi pekerjaan ini bagi Yati dan puluhan pekerja lainnya merupakan ladang emas untuk bertahan hidup ditengah desakan ekonomi yang semakin tinggi.

Sembari mengenakan topi petani dan masker pelindung wajah, Yati beserta puluhan pekerja lainnya berusaha mengumpulkan dan memisahkan kotoran yang tercampur dengan batubara agar kualitasnya menjadi lebih baik.

“Kami pisahkan rumput, ranting kayu dan tanah napal supaya batubaranya bersih,” ujar Yati kepada wartawan Bengkulu Ekspress, kemarin (7/3).

Meskipun pekerjaan ini bisa berefek bagi kesehatan tubuh tetapi tidak membuat Yati dan para ibu-ibu ini lelah untuk melakukan pekerjaannya walau hanya dibayar beberapa puluh ribu rupiah saja. Jumlah yang tidak setimpal dengan berbagai resiko penyakit yang akan mereka derita. “Dulu sehari dibayar Rp 50 ribu, sekarang sehari Rp 75 ribu sejak 1 Maret 2018 lalu,” ujar Yati.

Ibu yang berusia hampir kepala empat ini hampir tiap hari kerja di lokasi pengumpulan batubara mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Panas terik dan hujan badaipun tidak menghentikan aktivitas para Ibu-ibu ini untuk melakukan pekerjaannya. “Kalau ada Pekerjaan lain, saya memilih kerja ditempat lain, tapi sekarang tidak ada pekerjaan lain,” sambung Yati.

Sesekali tampak tawa ceria di wajah para ibu-ibu tersebut sembari mengumpulkan dan memisahkan rumput, ranting kayu dan tanah napal di batubara, mereka juga tampak asyik bercerita satu dengan lainnya. Tak ada raut mengeluh di wajah-wajah hitam penuh debu mereka.

“Ya beginilah dek, kalau tidak kerja tidak bisa bantu ekonomi keluarga,” celetuk Yati.

Di usia yang menjelang memasuki setengah abad ini, para ibu ini harusnya berada di rumah mengurusi keluarga. Bahkan seharusnya mereka sibuk merias diri dan bersantai. Namun kata-kata bermalas-malasan tidak ada dalam diri ibu-ibu hebat ini, sebab membuang waktu sama saja dengan membuang rezeki. “Tidak ada waktu untuk malas-malasan dek karena kami harus kerja agar bisa menyambung hidup,” tukas Yati.

Keseharian mereka ini menjadi kesan tersendiri diantara mereka, walaupun pekerjaanya berat namun tetap dijalani dengan senang hati dan tanpa mengeluh meskipun harus terpanggang matahari setiap hari. “Kami semua senang dan ikhlas mengerjakan pekerjaan ini,” ujar Erni (32) ibu yang telah memiliki 3 anak ini yang juga ikut bekerja membersihkan batubara ini.

Para ibu-ibu ini datang dengan Mobil sewaan dan ada juga yang datang diantar keluarga. Mereka datang dari Desa Kandang dan Teluk Sepang Kota Bengkulu. Jarak yang cukup jauh harus ditempuh untuk mencapai lokasi ini sudah tidak menjadi penghalang, karena di mata ibu-ibu hebat ini, membantu ekonomi keluarga adalah hal terpenting.

“Kami datang dari Teluk Sepang, memang cukup jauh tapi bukan jadi penghalang kami,” tukas Erni.
Matahari semakin tinggi, tangan-tangan yang tak muda lagi itupun terus cekatan mengumpulkan dan memisahkan kotoran yang tercampur dengan batubara agar kualitasnya menjadi lebih baik. Ibu-ibu hebat yang layak menjadi inspirasi kita semua untuk tak mudah menyerah pada kehidupan dan memilih terus berjuang di tengah ketidakpedulian penguasa akan nasib mereka.(**)