Kisah Pendiri Ponpes Bukit Santri Bahari Tebarkan Syiar di Tengah Kebun Sawit

Sangatlah menarik, menyingkap satu diantara kisah seorang tokoh yang tiada terbukukan dalam sejarah. Nun jauh di tengah lahan terbuka berdiri sebuah surau, tepat disebut musholla di tengah kebun sawit Desa Air Rami Kecamatan Air Rami Kab.Mukomuko.

Oleh: PURWO SUWIGNYO

Alisuddin Siregar hingga sekarang tetap gigih meski dengan kesederhanaan, puluhan tahun mengajar mengaji untuk anak-anak sekitarnya. Seperti pesannya “Biarlah Dalam Kebisuan Kita Menciptakan Cerita Sejarah”, bagaimana penterjemahannya, inilah sajian kisah Ulama dari Padang sidempuan Sumatera Utara.

Kesan penuh tanda tanya muncul bertubi-tubi ketika BE berhasil melewati jalan koral melintasi puluhan hektar kebun sawit, hingga akhirnya tiba di lokasi.

Apa gerangan yang diperbuat ulama yang seringkali mengisi ceramah di acara-acara besar dari Pondok Kelapa hingga ujung Mukomuko ini.

Apakah seperti  tergambar perjalanan tokoh mirip dalam sinetron, atau tokoh musafir yang mengembara menyebarkan ajaran agama.

Maka tiada sabar mengabadikan pertemuan dengan beliau dengan tinta kecil, yang barangkali takkan masuk dalam sejarah.

Kesederhanaan dan keakraban yang santun sangat terasa ketika pertama kali menyambut BE di pondok seberang halaman Musholla tempat mengajar mengaji bersama sang istri. Alisuddin Siregar, asal Padang Sidempuan Sumatra Utara saat remaja sudah mengenal agama di pondok pesantren Mustofaiyah di Mandailing Natal.

Berikut merantau 1979 ke Payakumbuh Sumatera Barat untuk mendalami ilmu agama pada beberapa tempat dan tokoh ulama. Sempat masa bujangan menimba ilmu di IAIN Aljamiah di Medan, namun tidak selesai sebab alasan biaya.

Namun panggilan jiwa rantau dan mensiarkan agama tumbuh kian subur. Hingga 1994 tibalah di bumi Rafflesia, tepatnya di Pasar Pedati-Bengkulu Utara waktu itu.

“Dulunya ada masjid Al-Hasanah di Pasar Pedati, namun dibuka hanya tiap hari Jum’at  saja. Maka kita hidupkan suasana jamaah , berkat dukungan warga seitar akhirnya membuat masjid yang lebih besar dengan bantuan Bapak Gubernur Adjis Ahmad waktu itu,” ungkap  Alisuddin penuh haru mengenang kisahnya.

Setelah lebih 1 tahun berikut pindah rantauan ke Lubuk Sanai Mukomuko. Berikutnya 1996 menuju Pondok Lunang hingga tahun 2000

. Di setiap tempat persinggahan perantauannya siar agamalah yang ia lakukan, seperti memberikan pelajaran mengaji, berdakwah, mengisi ceramah di acara-acara tertentu. Hingga 2001 membawanya ke Air Rami.

Sempat secara swadaya ia bentuk pengurus dan panitia membagun pondok pesantren Bukit Santri Bahari, bahkan bangunan dan perizinan sudah didapat atas dukungan beberapa perusahaan sekitarnya.

“Bahkan ponpes ini sudah terdaftar di kanwil depag Prov.Bengkulu, namun kian hari peminatnya semakin berkurang ya bagaimana lagi, seadanya kita didik anak-anak sekitar yang mau belajar mengaji,” katanya.

Tiada kata gagal untuk memberikan saudara-saudara kita belajar agama, inilah yang menjadi rumus dan prinsipnya menebarkan siar agama.

Panggilan mengisi ceramah sampai dengan Ketahun, Tanjung Dalam Napal Putih, Mukomuko. Beberapa hari lalu usai memberikan Walimatul sya’far di Ponpes Desa Karya Bakti Puti ijau, ceeramah masalah perjalanan haji kepada CJH Putri Hijau.

Kegigihan inilah patut ditauladani, hingga sangat terpuji jika 2010 Pemkab Mukomuko memberikan kesempatan  Alisuddin menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Sekarang tak kurang 60 murid-murid terdiri anak-anak warga sekitar Air Rami, tiap sore belajar mengaji pada sang ulama dibantu istri tercintanya, lengkap dengan kesederhanaan keadaan yang ada. (919)