Kisah Dokter Amerika Kembalikan Tangan Prajurit Vietkong

020514_777426_tangan_besarPADA Oktober 1966, Nguyen Quang Hung, seorang prajurit laskar komunis Vietnam, (Vietkong) harus kehilangan tangan kanannya. Seorang dokter muda Amerika Serikat, musuh prajurit itu, menyimpan tangan tersebut. Awal bulan ini, tepatnya 47 tahun kemudian, tangan yang tinggal tulang belulang itu kembali kepada pemiliknya.

dr Sam Axelrad membawa barang yang tidak biasa ketika berlibur di Vietnam. Dia membawa tulang tangan yang dia amputasi pada 1966. Tulang yang disimpan di lemarinya selama berpuluh-puluh tahun tersebut akhirnya dikembalikan kepada pemiliknya, Nguyen Quang Hung.

Tentu, Hung begitu kaget tatkala seorang dokter dari Amerika datang dan mengembalikan tangan yang sudah berwujud tulang itu. “Aku senang sekali bisa bertemu tanganku lagi setelah hampir separo abad,” katanya kepada Associated Press.

Karena itu, rumah Hung pun seolah menjadi ajang reuni dua serdadu sepuh. Mereka berbincang riang bersama anak dan cucu mereka. Axelrad dan Hung saling beradu omong tentang pihak yang lebih baik saat masa perang.

Hung yang kini berumur 73 tersebut menceritakan bahwa tangannya putus setelah ditembak tentara Amerika pada Oktober 1966. Saat itu, dia terjebak dalam sebuah pertempuran sengit sekitar 75 kilometer dari rumahnya di An Khe, Vietnam tengah.

Lengan kanah Hung tertembak. Dia yang terluka parah terombang-ambing tidak keruan. Dirinya juga sempat bersembunyi di lumbung padi selama tiga hari. Akhirnya, Hung dievakuasi helikopter AS ke rumah sakit militer di Phu Cat. Kala itu, dia begitu ketakutan. “Rasanya seperti ikan yang sudah ada di talenan. Mereka bisa membunuhku atau menahanku,” tegasnya.

Hung lalu dibawa ke Sam Axelrad, dokter militer yang saat itu masih berumur 27 tahun. Dokter tersebut ingat betul bahwa keadaan Hung saat itu begitu parah. Lengannya ungu serupa terong, tanda bahwa telah terinfeksi.

Untuk menjauhkan Hung dari maut, Axelrad mengamputasi lengan musuhnya tersebut. “Dan Hung kelihatan kaget sekali, ternyata kita malah merawat dia,” ungkap Axelrad.

Setelah menjalani operasi, Hung tinggal selama delapan bulan. Tidak hanya itu, dia juga membantu dokter-dokter Amerika selama 6 bulan kemudian.

Ketika itu, potongan tangan Hung ditangani beberapa kolega Axelrad. Mereka merebus tangan tersebut, mengambil dagingnya, merekonstruksi tulang-tulangnya, lalu memberikan lagi ke Axelrad. Tulang itu selanjutnya dimasukkan begitu saja ke tas militer.

Axelrad menyimpan tas tersebut di sebuah lemari. Dia tidak mau lagi membuka tas yang berisi memorabilia perang dan menyimpan banyak kenangan mengerikan itu.

Toh, tas tersebut dia buka lagi pada 2011. Saat melihat tulang itu, Axelrad terkejut. “Dan saya berpikir untuk mengembalikan tulang itu lagi,” ungkapnya ketika diwawancarai di sebuah hotel di Hanoi.Kemudian, dia memutuskan untuk pergi ke Vietnam musim panas lalu. Selain untuk berlibur, dia betul-betul berniat untuk mengembalikan tulang tangan tersebut.

Memang, susah sekali untuk menemukan Hung. Axelrad juga meragukan bahwa Hung masih hidup atau tidak. Dia mengira bahwa Hung tinggal di Vietnam Utara. Jadi, dia tidak menanyakan tentang Hung ketika dia berada di An Khe.

Untungnya, saat mengunjungi bunker tua Perang Vietnam di Hotel Metropole, dia dituntun seorang jurnalis, Tran Quynh Hoa. Jurnalis itu begitu tertarik soal cerita Axelrad di masa perang. Dia kemudian menulis di surat kabar Vietnam bahwa Axelrad ingin mengembalikan tulang tangan tersebut kepada pemiliknya.

Tanpa sengaja, adik ipar Hung yang tinggal di Ho Chi Minh City membaca artikel itu dan segera menghubungi editor koran tersebut. Hoa yang kini menjadi staf komunikasi di Organisasi Buruh Nasional itu kemudian mengatur pertemuan antara Axelrad dan Hung.

Hung terkejut dan tidak percaya bahwa dia bisa bertemu kembali dengan tangannya. “Sulit dipercaya ada seorang dokter Amerika yang mengamputasi tanganku, membersihkan dagingnya, mengeringkan, dan menyimpan tanganku selama lebih dari 40 tahun,” paparnya.

Saat melihat tangan itu, Hung merasa begitu bangga bahwa dirinya sudah mengorbankan darahnya demi negerinya. Dia juga merasa sangat beruntung ketimbang para kameradnya yang tewas atau hilang. Kini, Hung juga merasa bangga karena dia bisa dikubur bersama tangannya saat meninggal nanti.(AP/Annisa Firdausi-MG/c18/dos)