Kinerja Bidan Dievaluasi

EVALUASI - 60 Bidan di Kabupaten Benteng saat mengikuti sosialisasi standarisasi KB MKJP di Aula Maroba, Desa Ujung Karang, Kecamatan Karang Tinggi
Bakti/Bengkulu Ekspress
EVALUASI : 60 Bidan di Kabupaten Benteng saat mengikuti sosialisasi standarisasi KB MKJP di Aula Maroba di Desa Ujung Karang, Kecamatan Karang Tinggi, Selasa (28/8)

BENGKULU TENGAH, Bengkulu Ekspress– Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu mengevaluasi kinerja bidan se-Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng). Evaluasi ini ditekankan pada pelaksanaan tugas bidan dalam melakukan pemasangan alat kontrasepsi kepada masyarakat.

“Secara rutin, kami akan melakukan monitoring dan evaluasi kepada para bidan. Kami ingin tahu, apakah mereka sudah sesuai dengan standar atau tidak dalam melayani masyarakat (ibu-ibu) dalam melakukan pemasangan alat kontrasepsi,” kata Anggota Tim P2KS Provinsi Bengkulu, dr Hamzah usai kegiatan Sosialisasi Standarisasi Pelayanan KB, di Aula Maroba, Selasa (28/8) kemarin.

Hamzah menegaskan, evaluasi merupakan salah satu upaya untuk memberikan kepuasan kepada masyarakat. Sebab itu, para bidan wajib memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai semua jenis alat kontrasepsi. Baik kontrasepsi jangka pendek yang meliputi pil dan suntik serta metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) yang meliputi spiral dan ayudi.

“Ilmu kesehatan terus mengalami perkembangan pesat. Sebab itulah, para bidan juga harus meningkatkan pengetahuan mengenai alat kontrasepsi serta dampak yang ditimbulkan. Secara keseluruhan, para bidan sudah menjalankan tugas sesuai standarisasi yang ditetapkan,” kata Hamzah.

Terpisah, Wakil Ketua (Waka) I Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Benteng, Luciana Amd Keb SSt mengatakan, masayarakat di Kabupaten Benteng masih belum begitu memahami mengenai manfaat MKJP. Padahal, kata Luciana, alat kontrasepsi jenis ini bisa bertahan lebih lama dan memiliki risiko kecil kegagalan program KB.



“Tak bisa dipungkiri, favorit masyarakat di Kabupaten Benteng adalah alat kontrasepsi jenis pil dan suntik. Padahal, yang dianjurkan oleh pemerintah adalah alat kontrasepsi jangka panjang karena dianggap paling aman. Pemahaman inilah yang terus kami sampaikan dan sosialisasikan,” demikian Luciana.(135)