Ketua Gapenta Bertemu Raja Lampung dan Palembang

IST/Bengkulu Ekspress Ketua Gapenta Provinsi Bengkulu, Iryanka Aditya didamping Raja Lampung dan Raja Palembang berfoto bersama usai melaksanakan upacara HUT ke-73 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8/2018) lalu.
IST/Bengkulu Ekspress Ketua Gapenta Provinsi Bengkulu, Iryanka Aditya didamping Raja Lampung dan Raja Palembang berfoto bersama usai melaksanakan upacara HUT ke-73 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8/2018) lalu.

Saat Upacara di Istana Negara

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Republik Indonesia beberapa hari yang lalu, Ketua Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba, Tawuran dan Anarkis (Gapenta) Provinsi Bengkulu, Iryanka Aditya turut diundang menghadiri kegiatan upacara di Istana Merdeka, Jakarta.

Di hari yang spesial tersebut Ketua Gapenta Bengkulu juga sempat bertemu dan bertutur sapa dengan Raja Lampung, Suttan Seghayo Dipuncak Nur dan Raja Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Darussalam.

Ketua Gapenta Provinsi Bengkulu, Iryanka Aditya mengaku, dirinya termasuk satu dari 9.800 orang yang diundang untuk hadir mengikuti upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia di Istana. Kedatangannya di Istana merupakan perwakilan dari Gapenta Provinsi Bengkulu.

“Kita kan ada Pimpinan Gapenta Pusat, kebetulan pengurus Gapenta Provinsi juga diminta hadir memenuhi undangan,” kata Iryanka, kemarin (20/8/2018).

Gapenta sendiri merupakan lembaga masyarakat yang berusaha untuk mencegah bahaya narkoba, tawuran, dan anarkis. Sejak Indonesia memproklamirkan “perang” terhadap narkoba dan prihatin terhadap kenakalan remaja yang sering terjadi seperti tawuran antar pelajar dan tindakan anarkis, Gapenta di Bengkulu telah menyadarkan masyarakat tentang bahaya narkoba dan mempererat tali silaturahmi antar pelajar.

“Sejauh ini di Bengkulu masih minim kalo tawuran dan anarkis, akan tetapi narkoba masih jadi problem kita,” terang Iryanka.

Untuk membantu pencegahan narkoba, berbagai kegiatan sosialisasi telah dilakukan Gapenta di Provinsi Bengkulu. Sementara itu untuk para pecandu narkoba, Gapenta telah memfasilitasinya dengan rehabilitasi. Bahkan rehabilitasi pecandu narkoba dapat dilakukan tanpa dipungut biaya, namun masih sedikit yang memanfaatkan proses gratis itu.

“Pemanfaatan rehab bagi pecandu masih sangat sedikit sekali, dari ratusan hanya puluhan saja yang sudah kita rehab,” kata Iryanka yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Bengkulu ini.

Masih rendahnya angka pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi disebabkan oleh ketidaktahuan informasi. Kebanyakan masyarakat berpikir proses rehabilitasi mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, padahal semua itu gratis. “Kita sudah tangani sekitar 20 orang untuk melakukan rehabilitasi selama 6 bulan di Lido, Sukabumi, Jawa Barat dan semua itu Gratis,” ujar Iryanka.

Dari puluhan pecandu narkoba yang telah menjalani rehabilitasi selama 6 bulan tersebut rata-rata berasal dari Palembang, Lampung dan Bengkulu. Bahkan untuk Bengkulu sendiri angkanya masih sedikit.

“Kami dari Gapenta berharap para pecandu narkoba agar dapat menjalani rehabilitasi agar tidak lagi menggunakan narkoba,” tutupnya.(999)