Kesaksian Korban Kerusuhan Tinju di Nabire

 Bom Asap Bikin Mata Orison Kabur dan Tak Sadar

003135_347798_Nabire_dalem

Final kejuaraan tinju amatir Bupati Cup di GOR Kota Lama, Nabire, Papua, Minggu (14/7) malam lalu, sedianya menjadi pesta rakyat. Ribuan penonton datang melebihi kapasitas gedung. Sayang, kerusuhan antarpenonton berujung meninggalnya 17 orang.

======================
SIDIK M. TUALEKA, Nabire

======================
Orison Mote awalnya tidak berniat menonton pertandingan tinju. Pemuda 17 tahun dari suku Deyai itu turun ke Nabire untuk membeli peralatan sekolah. Orison bersiap mengikuti masa orientasi siswa baru di SMA Negeri 1 Deyai esok harinya. Deyai adalah kabupaten baru di daerah pegunungan hasil pemekaran dari Nabire. Orison menghabiskan enam jam untuk sampai ke Nabire.

Setiba di Nabire, Orison memborong dua lusin buku tulis dan sejumlah alat tulis. Misi selesai. Namun, dia ti­dak lantas pulang. “”Mumpung Minggu, saya ingin cari hiburan di kota,”” kata anak pasangan Meri Ikomou dan Frans Mote itu.

Pilihan Orison adalah pertandingan tinju yang digelar di GOR Kota Lama. Kebetulan, lokasi GOR tidak jauh dari toko alat tulis tempat dia belanja. “”Karena banyak orang pergi melihat, saya ikut saja,”” kenangnya.

Rencananya ada 13 partai yang digelar pada hari terakhir kejuaraan tersebut. Yakni, lima partai petinju putri dan delapan pertarungan untuk putra. Ribuan penonton terhibur menyaksikan aksi para petinju di atas ring.

Suasana berubah ketika partai kesepuluh digelar antara Alfius Rumkorem dari Sasana GPT Persada melawan Yulianus Pigome (Sasana Mawa). Duel seru terjadi di atas ring. Di luar arena, pendukung kedua kubu mulai panas dengan teriakan saling ejek.

Kebetulan, kedua petinju berasal dari suku berbeda. Alfius dari suku Pantai yang hidup di pesisir, sedangkan Yulianus mewakili suku Paniyai yang tinggal di pegunungan.

Saling ejek antarsuporter mencapai klimaks setelah wasit Albert Titahelut memberikan kemenangan kepada Alfius. “”Suku kami tidak terima. Masak anak pantai sudah jatuh empat kali, tapi dia yang menang,”” tutur Orison.

Sejurus kemudian, kerusuhan tidak terhindarkan. Penonton terlibat adu pukul. Mereka melemparkan kursi plastik ke atas ring. Suasana semakin tidak terkendali. Ribuan penonton berebut keluar gedung.

“”Saya langsung lari menyelamatkan diri. Namun, ada yang menyalakan bom asap sehingga mata saya sakit,”” jelas Orison. Akibat percikan asap itu, Orison tidak bisa melihat apa-apa. Dia terjatuh di antara kaki para penonton yang lain. Beruntung, meski tak sadarkan diri, dia selamat. Dia hanya terluka memar dan harus dirawat di RSUD Nabire.

Peristiwa itu membuat Orison kapok menyaksikan pertarungan tinju secara langsung. “”Jangankan masuk gratis, bila dibayar untuk lihat tinju lagi, saya pasti menolak,”” ucap pemuda yang sejatinya bercita-cita menjadi petinju itu.

Ketika kerusuhan terjadi, penonton berebut keluar dari pintu utama GOR seluas 3 x 4 meter. Sebanyak 17 orang meninggal karena terinjak-injak penonton lain. Sementara itu, puluhan lainnya terluka.

“”Saya jatuh dan diinjak-injak saat mau keluar lewat pintu besar (utama, Red). Ini semuanya jadi luka,”” ungkap Gemas Tabuni, bocah 12 tahun yang terluka di siku kanan dan kedua lutut. Gemas adalah salah satu di antara tiga korban luka yang kemarin masih dirawat di RSUD Nabire.

Gemas sebenarnya tidak begitu berminat menonton. Dia beralasan tiketnya mahal. Saat sore harga tiket Rp 10.000. Panitia menaikkan jadi Rp 15.000 untuk pertandingan malam. “Saya tidak punya uang untuk beli tiket. Waktu Pak Bupati (Bupati Nabire Isaias Douw, Red) bilang semua masuk gratis, saya ikut masuk,” tuturnya.

Selain satu pintu utama, GOR yang berdekatan dengan asrama Kepolisian Nabire tersebut memiliki empat pintu cadangan. Dua pintu berukuran 2 x 4 meter di sisi kiri dan kanan serta dua pintu lain berukuran 1 x 2 meter di samping panggung.

Karena panitia menggunakan sistem ticketing, hanya pintu utama yang dioperasikan. Untuk menyelematkan diri, penonton terpaksa membobol pintu di bagian kanan GOR. “Semua ingin menyelamatkan diri. Saya melihat banyak korban di pintu gerbang,” kata Parulian Simanjuntak, dokter RSUD Nabire, yang menjadi dokter pertandingan dalam kejuaraan tersebut.

Dia membantah kabar ada yang sengaja membuang bom asap untuk menambah kepanikan penonton. Menurut dia, yang disaksikan Orison adalah pecahnya bola lampu pijar karena kerusuhan penonton. “Tidak benar ada yang buang bom asap dan lain-lain. Itu lampu yang meledak, bukan bom,” tegasnya.

Menurut visum luar kepada para korban meninggal, sekitar 75 persen meninggal karena terkena sengatan listrik. “Selain lebam, rata-rata mereka mengalami luka gosong,” jelas ayah tiga anak itu.

Terkait dengan korban meninggal, Parulian menyebut bisa jadi jumlahnya lebih dari 17 orang. Sebab, ada beberapa korban meninggal yang tidak dibawa ke rumah sakit. Mereka langsung dikubur pihak keluarga. “Ada sekitar tiga mayat yang tidak berhasil kami data karena sudah lebih dulu diambil keluarga,” jelasnya.

Kesedihan mendalam juga menyelimuti keluarga Denni Sawake, 43. Saat Jawa Pos mengunjungi rumahnya di Kelurahan Morgo Kota Lama, Nabire, kemarin, Denni tampak terpukul. Tatapannya kosong. Dia kehilangan dua anggota keluarga dalam tragedi tersebut. Yakni, adiknya, Jefry Octovianus Manibuy, 39, dan adik iparnya, Amance Adolina Woyaa. “Saya masih belum percaya,” kata Denni yang sehari-hari menjadi tukang ojek itu.

Jefry dan Amance adalah korban meninggal terakhir yang dikebumikan. Pasangan suami istri tersebut dimakamkan kemarin di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen Morgo. Denni harus menerima mayat adik iparnya dalam kondisi daun telinga tidak utuh lantaran anting emasnya dirampas paksa. “Saya heran, korban sudah tidak berdaya kenapa masih dijarah lagi,” keluhnya.

Denni mengatakan, sebaiknya tidak perlu ada lagi pertandingan tinju di Nabire kalau ujung-ujungnya membuat duka. “Aparat keamanan harus bertanggung jawab,” katanya. (*/c2/c10/ca)