Kemiskinan Bengkulu Turun 15.59 Persen

Foto: Dyah Anugrah Kuswardani MA
Foto: Dyah Anugrah Kuswardani MA

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu merilis angka kemiskinan September 2017 dimana jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sebesar 15,59 persen atau 22.980 orang. Dengan menurunya penduduk miskin membuat angka kemiskinan di Provinsi Bengkulu menjadi 302.620 orang atau lebih rendah dari September 2016 yang berjumlah 325.600 orang.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani MA mengatakan, Persentase kemiskinan di Provinsi Bengkulu mengalami tren menurun. Ini menjadi hal yang baik bagi kinerja pemerintah daerah. Penurunan angka kemiskinan di Provinsi Bengkulu ini juga sejalan dengan yang terjadi pada tingkat Nasional namun penurunan angka Kemiskinan Provinsi Bengkulu lebih cepat. “Dengan demikian, gap antara angka kemiskinan nasional dengan Bengkulu semakin sempit,” kata Dyah, kemarin (2/1).

Semakin sempitnya angka kemiskinan nasional dan Bengkulu juga semakin didukung dari persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2016 sebesar 16,16 persen mengalami penurunan menjadi 15,41 persen pada September 2017. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2016 sebesar 17,43 persen turun menjadi 15,67 persen pada September 2017. “Ini menjadi hal yang baik karena baik dikota maupun di desa sama-sama mengalami penurunan persentase kemiskinan,” ujar Dyah.

Penurunan persentase kemiskinan tersebut juga diikuti oleh menurunya jumlah prnduduk miskin. Hal tersebut terbukti selama periode September 2016 – September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 920 orang dari jumlah penduduk miskin 98.070 orang pada September 2016 menjadi 97.150 orang pada September 2017. Sementara di daerah perdesaan juga turun sebanyak 22.060 orang dari 227.530 orang pada Maret 2017 menjadi 205.470 orang pada September 2017.

“Menurunnya jumlah penduduk miskin didorong oleh peranan komoditi makanan di Bengkulu dan bukan non makanan,” ungkap Dyah.

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2017 tercatat sebesar 76,72 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pendapatan sebagian penduduk miskin khususnya mereka yang berada disekitar garis kemiskinan mampu megimbangi kenaikan harga meskipun garis kemiskinan mengalami kenaikan.

“Itu bisa seimbang karena inflasi juga terbilang rendah di Bengkulu,” terang Dyah.

Seperti diketahui inflasi Provinsi Bengkulu pada 2017 sedikit lebih baik dari nasional yakni dicatat sebesar 3,56 persen (year-to-year) atau lebih rendah dari inflasi nasional yang tercatat pada 3,61 persen. “Ini berkat kestabilan harga bahan pokok terjaga sepanjang tahun, akhirnya kita bisa mencatatkan angka inflasi di bawah 4,0 persen,” ujar Dyah.

Jika dibandingkan dengan 2016, angka inflasi Provinsi Bengkulu menunjukkan tren positif yang cukup baik, sebab di 2016 itu inflasi ditutup pada angka 5,0 persen. Pemicu inflasi pada 2017 ini lebih kepada kebijakan pemerintah mengenai kenaikan tarif dasar listrik dan tarif biaya perpanjangan STNK kendaraan bermotor, transportasi udara dan perumahan.

“Peran pemerintah sangat besar didalam terjadinya inflasi ini, tetapi komoditas bahan pangan mengalami deflasi,” tutur Dyah.
Komoditas bahan pangan menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mencatatkan angka minus, sekitar 4,8 persen dalam andil inflasi daerah. “Untuk permasalahan komoditas beras sebagai pemicu inflasi ternyata mampu diredam dengan baik dengan adanya penyaluran beras sejahtera, begitu juga beberapa bahan makanan lain, malah mereka yang menyeret angka inflasi lebih rendah jadinya,” tutupnya. (999)