Kemenkes Klaim Sebagian Persoalan Gizi Tuntas

JAKARTA– Persoalan gizi masyarakat masih menjadi prioritas pemerintah. Kemenkes mengklaim sebagian dari masalah gizi berhasil diselesaikan. Namun, Menkes Nafsiah Mboi mengakui, persoalan gizi seperti gizi kurang, anak tumbuh pendek dan gizi lebih belum dapat diselesaikan.
“Masalah gizi yang belum selesai adalah masalah gizi kurang dan pendek. Disparitas masalah gizi kurang menurut propinsi sangat lebar. Beberapa propinsi mengalami kemajuan pesat dan prevalensinya sudah relatif rendah, tetapi beberapa propinsi lain “prevalensi gizi kurang masih sangat tinggi”,urai Nafsiah di Jakarta, Rabu (21/11).

Nafsiah memaparkan, pada 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak Indonesia kemungkinan besar tumbuh pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). “Namun capaian ini belum memenuhi target MGDs. Tapi kita optimis, prevalensi gizi kurang bisa menurun menjadi 15,5 persen pada 2015 nanti,”ujarnya.

Menteri 72 tahun itu menuturkan, faktor pengetahuan dan perilaku masyarakat sangat berpengaruh terhadap persoalan gizi kurang. Hal itu berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun 2010. “Data lain juga menunjukkan prevalensi gizi kurang juga dipengaruhi tingkat pendidikan,”kata dia.

Sementara itu, menyoal masalah gizi lebih, Nafsiah memaparkan hal tersebut menjadi persoalan baru yang terus mengalami peningkatan, beberapa tahun terakhir. Prevalensi gizi lebih, baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa, meningkat hampir satu persen setiap tahun. Prevalensi gizi lebih pada anak-anak dan dewasa, masing-masing 14,4% pada 2007 dan menjadi 21,7% pada 2010.

Nafsiah memaparkan, secara umum pola konsumsi pangan masyarakat mengalami perubahan. Masyarakat makin jarang menjalakan pola makan dengan gizi seimbang. “Perubahan gaya hidup juga menyangkut pola makan. Seperti kebiasaan makan di luar rumah, mengonsumsi pangan olahan, makan tidak seimbang antara lain tinggi minyak atau lemak atau gula, tapi rendah sayur dan buah,”jelasnya.

Berdasarka n data Susenas 2011, karakteristik pola konsumsi pangan masyarakat antara lain, konsumsi kelompok minyak dan lemak sudah diatas anjuran kecukupan. Padahal, konsumsi sayur atau buah “baru mencapai 63,3%. “Konsumsi pangan hewani sebesar 62,1%, konsumi kacang-kacangan 54%, konsumsi umbi-umbian 35,8% dan kontribusi pangan olahan dalam pola makan sehari-hari yang sudah tinggi. “Pola makan pangan yang tidak seimbang merupakan merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit degeneratif”,ujarnya.

Di sisi lain, Menkes mengklaim bahwa ada tiga masalah gizi yang sudah dapat dikendalikan. Antara lain, persoalan ekurangan Vitamin A pada anak Balita, gangguan Akibat Kurang Iodium dan anemia Gizi pada anak 2-5 tahun. Berdasarkan duasurvei terakhir tahun 2007 dan 2011 menunjukkan, secara nasional proporsi anak dengan serum retinol kurang dari “20 ug sudah di bawah “batas masalah kesehatan masyarakat, artinya masalah kurang vitamin A secara nasional tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.

“Begitu juga dengan masalah gangguan akibat kekurangan Iodium, berdasarkan tiga survei terakhir, hal tersebut tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Masalah anemia gizi pada anak 2-5 tahun, prevalensinya juga mengalami penurunan. Pada 2006, ada 25,0% anak, namun 2011 turun hingga hanya 17,6 persen,”imbuh dia. (Ken)