Kematian Penyu di Bengkulu Disebabkan Bakteri

FOTO HENDRIK/BE – Asisten II Sekda Provinsi Yuliswani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sorjum, Kepala BMKG Kukuh, dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Sri Hartati, Dokter Hewan BKSDA Bengkulu dr. Erni Suryanti Musabine dengan didampingi Kepala BKSDA Bengkulu Donal Hutasoit, serta perwakilan aparat kepolisian di saat Konferensi Pers di Media center Pemprov Bengkulu, Jumat (31/1).

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Kematian penyu yang terjadi belakangan ini di Bengkulu terungkap. Berdasarkan dari hasil uji laboratorium Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian (Kementan) di Bogor dan laboratorium Institute Pertanian Bogor (IPB), terhadap sampel dan cairan organ penyu, kematian penyu di sekitar Pantai Teluk Sepang Kota Bengkulu tersebut disebabkan adanya infeksi suspect bakteri yang menyerang fungsi hati.

Dokter Hewan BKSDA Bengkulu dr. Erni Suryanti Musabine di media center Pemprov Bengkulu, mengungkapkan, hasil uji laboratorium tersebut sebelumnya diajukan personel Resort Pantai Panjang Pulau Baii pada Seksi Konsrevasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bengkulu.

“Awalnya kita melakukan pemeriksaan dengan membedah bangkai penyu, memang sebelumnya ditemukan sampah plastik, rokok dan tali pada rongga perut dan saluran pencernaannya. Sehingga kita memprediksi kematian penyu tersebut, disebab memakan sampah. Sebagai perbandingan, kita juga mengirimkan sampel organ penyu ke IPB dan Balai Kementan,” ungkap Erni, dengan didampingi Kepala BKSDA Bengkulu Donal Hutasoit, Asisten II Sekda Provinsi Yuliswani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sorjum, Kepala BMKG Kukuh dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Sri Hartati, serta perwakilan aparat kepolisian, Jumat, (31/1).

Dijelaskan Erni, meski dugaan sementara sudah diketahui penyebab matinya sejumlah penyu tersebut, memang masih perlu investigasi khusus dari pihak lain terkaitĀ  ditemukan matinya penyu-penyu itu di sekitar pesisir pantai itu.

Karena, berdasarkan Surat Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor Nomor: B- /16/PK.310/H.5.1/01/19/538 tanggal 20 Januari 2020 perihal Hasil Pemeriksaan Laboratorium, bahwa diagnosa umum mikroskopis dari spesimen penyu yang telah dikirimkan adalah Hepatik nekrosis parah, hepatitis, enteritis parah, haemonrrhagi, hemosiderosis, myopathy dan myosis.

Masih kata Erni, hasil penegakan diagnosa laboratorium adalah infeksi bakterial suspect Salmonellosis dan Clostridiosis. Hal ini juga dipengaruhi oleh spesimen yang dikoleksi dan dikirimkan sudah mengalami autolysis.

Kemudian, berdasarkan hasil pengujian Nomor: LB.19/538 Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian tanggal 10-11 Desember 2019 dari pemeriksaan 11 spesimen organ penyu diketahui bahwa hasil pengujian toxicologi tidak menunjukkan nilai yang mempengaruhi mortalitas penyu.

Selain itu, Kepala BMKG Bengkulu Kukuh menjelaskan, jika melihat suhu muka laut mulai September, sebelah barat Bengkulu kondisinya dingin dan melonjak kearah hangat pada pertengahan Desember, sehingga untuk biota laut tentu ada pengaruhnya jika daya tahan tubuh hewan sedang lemah. Sedangkan arus laut memang berasal dari barat daya menuju ke pantai kepulauan Sumatera.

“Kondisi ini mmenyebabkan angin mengarah ke daratan, sehingga ketika ada biota laut yang mati akan menepi ke daratan. Lalu bisa saja matinya biota laut itu karena faktor alam, tapi dengan catatan jika daya tahan tubuhnya lemah,” tukas Kukuh.

Sementara itu, Asisten ll Hj. Yulisawani menegaskan, perihal kematian 28 penyu di Bengkulu beberapa waktu lalu, tidak diakibatkan pencemaran limbah perusahaan. Jangan ada lagi diperkirakan dan pemikiran sendiri yang langsung menyimpukan penyebab kematian penyu diperairan Bengkulu.

“Jadi tidak ada yang menyatakan diakibatkan limbah karena jika ada yang mengasih mengarah dugaan kesana, harus memiliki data pembanding yang sudah dilakukan oleh pihak BKSDA dan BMKG,” tutup Yuliswani.(HBN)