Kematian Bayi di Lebong Tertinggi

pernikahan diniTUBEI, BE – Angka kematian bayi di Kabupaten Lebong adalah yang tertinggi se-Provinsi Bengkulu. Berdasarkan perhitungan program Morpax BKKBN Provinsi Bengkulu menyebutkan angka kematian bayi umur dibawah satu tahun mencapai 50,13/1000 kelahiran hidup. Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Bengkulu Selatan sebesar 28,65/1000 kelahiran, Rejang lebong 30,82/1000, Bengkulu Utara 30,29/1000, Kabupaten Kaur sebesar 36,71/1000 kelahiran.

Sedangkan daerah kabupaten lainnya seperti Seluma sebesar 33,49/1000 kelahiran, Mukomuko 39,61/1000, Kepahiang 31,35/1000 Kabupaten Bengkulu Tengah sebesar 29,43/1000 dan Kota Bengkulu menempati angka 20,58/1000 kelahiran.

Hal tersebut tergambar saat kunjungan Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bengkulu ke Kabupaten Lebong belum lama ini.

Disampaikan Ketua I BKOW Provinsi Bengkulu, Betty Zayadi, hal tersebut menjadi PR besar seluruh masyarakat Lebong. “Peristiwa tersebut dapat disebabkan rendahnya kesehatan ibu dan bayi pasca melahirkan. Pemicu utamanya akibat kelahiran pada wanita usia risiko tinggi yakni yang terdapat pada kelompok umur 15-19 dan umur 35-49 tahun,” kata Betty.

Terpisah, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Lebong Yosi Adelia Panca Wijaya dikonfirmasi menganai hal tersebut mengatakan jika pihaknya memang banyak menemui pernikahan usia dini di tengah masyarakat.

Hal tersebut akibat minimnya pengetahuan dan pola pikir dari masyarakat itu sendiri. “Hal ini betul-betul menjadi PR besar buat kita. Karena menikah di usia dini, seperti yang banyak kita temui di masyarakat, tidak hanya berimbas pada kematian bayi saja, tapi juga memicu persoalan lain seperti perceraian akibat belum siapnya fisik dan mental yang bersangkutan dalam membina rumah tangga,” ungkap Yosi.

Dikatakan Yosi, selain kasus kematian bayi, kasus KDRT juga turut menjadi perhatian khusus. Pihaknya menduga banyak korban yang hingga saat ini masih enggan untuk melaporkan KDRT yang dialami. “Kebanyakan dari masyarakat ini takut dan malu, karena KDRT masih dianggap sebagai aib. Nah, tugas GOW Lebong inilah yang membantu memberikan pengertian maupun solusi.

Termasuk meyakinkan para korban ini agar tidak perlu merasa takut melaporkan. Untuk itu, kami dituntut untuk terjun langsung ke masyarakat,” pungkas Yosi.(777)