Keluhan Sopir Angkot Sejak Grab Menjamur

angkot
DOK/Bengkulu Ekspress

Penumpang Minim, Penghasilan Turun Drastis

Menjamurnya angkutan online atau Grab di Kota Bengkulu membuat sejumlah sopir angkutan kota (Angkot) resah. Sebab, pendapatan para sopir angkot saat ini turun drastis dari sebelumnya.

REWA YOKE D – Kota Bengkulu

Di tengah terik matahari yang cukup panas, pria berkepala plontos tampak sedang mengelus dahinya dengan kain yang ada di pundaknya. Keringatnya keluar bercucuran.

Ibrahim, begitulah orang memanggilnya. Meskipun usia telah berkepala empat, namun Ibrahim tetap setia menjalani profesinya sebagai sopir angkot di Kota Bengkulu.

“Saya sudah hampir 10 tahun menjadi sopir angkot di Bengkulu,” kenang Ibrahim. Ibrahim bukan satu-satunya yang berprofesi sebagai sopir angkot, masih ada ratusan orang lainnya yang juga seprofesi dengannya. Bukan karena mencintai profesi sopir, melainkan keterbatasan keahlian yang dimilikinya.

“Keahlian cuma bisa begini mas, kalau mau alih kerja lain, mau kerja apa,” kata Ibrahim.

Meski dirinya sudah seratus persen mencintai pekerjaan ini, namun tetap saja ada yang mengusik ladang yang telah digarapnya selama puluhan tahun. Kemunculan angkutan online atau Grab mulai membuat Ibrahim dan ratusan sopir angkot lainnya cukup was-was. Bukan karena kalah dari segi teknologi, melainkan penumpangnya beralih memilih Grab.

“Gara-gara Grab kami harus kehilangan banyak penumpang sekarang,” terang Ibrahim.

Sebelum kemunculan Grab, Ibrahim mengaku mampu mendapatkan hingga ratusan orang penumpang dalam sehari. Namun saat ini, untuk mendapatkan sepuluh orang dalam sehari saja cukup sulit, terlebih saat para pelajar tengah libur panjang.

“Kami yakin Grab yang membuat penumpang angkot menjadi sepi,” keluh IbrahimSepinya penumpang angkot di Bengkulu membuat ratusan sopir harus gigit jari.

Pendapatan mereka sedikit demi sedikit mengalami kemerosotan. Dari Rp 300 ribu sehari, saat ini hanya dapat Rp 50 ribu sehari. Hal ini jelas membuat sopir angkot semakin tertekan mengingat harga bahan pokok semakin hari semakin mahal.

“Kini sudah jauh nian dari harapan, kita turun dari pagi pun susah untuk mendapatkan Rp 100 ribu perhari tu,” keluh Ibrahim.

Tidak hanya Ibrahim, Lukman sopir angkot lainnya mengaku hal yang sama. Beberapa bulan terakhir pendapatan dari menarik angkot hanya cukup untuk makan.

“Saya masih ada cicilan mobil, kalau pendapatan pas-pasan buat makan, maka angsuran mobil bagaimana bayarnya,” kata Lukman.

Tidak hanya perkara cicilan, masuknya ajaran baru sekolah dinilai Lukman cukup membuat keluarganya semakin sulit. Anaknya yang duduk di kelas 1 SMP sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Saya punya anak baru masuk SMP, buat beli keperluan sekolah juga dari angkot inilah,” jelas Lukman. Mengingat banyaknya kebutuhan para sopir angkot di Bengkulu, melalui Serikat Sopir Indonesia (SSI), para sopir angkot meminta pemerintah untuk tidak memperbolehkan Grab beroperasi di Kota Bengkulu lagi. Hal ini dilakukan demi kesejahteraan para sopir angkot.

“Kalau kami belum sejahtera, kalau sopir Grab itu sejahtera, soalnya ada yang sudah jadi PNS dan pegawai swasta,” tukas Lukman.(***)