Kekerasan Anak dan Perempuan di Rejang Lebong Tertinggi

Ary, Long March anti kekerasan (1)
ARY/BE Kegiatan long march yang dilakukan gabungan aktivis perempuan baik dari Rejang Lebong maupun luar, mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan dan anak di Rejang Lebong, kemarin(23/11)

CURUP, BE – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Rejang Lebong (RL) terbilang paling tinggi dibandingkan kabupaten lain yang ada di Bengkulu.

Hal tersebut disampaikan oleh Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) BKKBD Rejang Lebong, Sri Joarini. “Memang dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Bengkulu, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Rejang Lebong ini paling tinggi,” ungkap Sri usai kegiatan long march dalam mengkampanyekan anti kekerasan terhadap anak di Lapangan Setia Negara Curup, kemarin.

Namun menurut Sri, meskipun Rejang Lebong tertinggi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan berarti Rejang Lebong merupakan tempat berdiamnya para pelaku kekerasan tersebut.

Hal itu karena lebih kepada sudah mulai berani korban kekerasan perempuan dan anak di Rejang Lebong untuk mengungkapkan atau melaporkan prihal kejadian yang mereka alami.

“Dengan melihat ini, berarti sistem penanggulangan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Rejang Lebong yang dilakukan oleh lintas sektor sudah berfungsi dengan baik,” tambah Sri.

Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Rejang Lebong sendiri selama tahun 2015 ini data terakhir yang mereka catat sebanyak 54 kasus. Angka tersebut jauh menurun dibandingkan dengan tahun 2014 lalu sebanyak 110 kasus. “Kasus yang terjadi di Rejang Lebong ini masih didominasi oleh pelecehan seksual,” jelas Sri.

Terkait dengan aksi long march yang mereka lakukan dalam mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurut Sri, dengan adanya kegiatan yang diikuti oleh beberapa komunitas dan organisasi perempuan baik dari Rejang Lebong maupun luar Rejang Lebong tersebut dapat menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak baik di Rejang Lebong sendiri, maupun di luar Rejang Lebong.

Sementara itu, Presidium Wilayah KPI Provinsi Bengkulu, Jumi Narti dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, dengan adanya kegiatan tersebut mereka ingin mensosialisasi hak dasar perempuan dan anak.

“Kita juga ingin menyampaikan terkait dengan perlindungan perempuan dan anak serta hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak,” jelas Jumi.
Untuk hukuman pada pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak sendiri, kata Jumi, berdasarkan pemantauan yang mereka lakukan, selama ini hukuman yang diberikan sudah setimpal dengan perbuatan yang mereka lakukan.

Disisi lain, Asisiten I Sekretariat Pemkab Rejang Lebong, Edy Prawisnu SH MH yang mewakili bupati melepas kegiatan long march berharap dengan adanya kegiatan tersebut bisa membuat sadar para pelaku kekerasan terhadap perempuan di Rejang Lebong untuk tidak melakukan kekerasan.

“Dengana danya aksi ini kita berharap para lelaki untuk tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak lagi,” harap Edy.

Kegiatan long march sendiri dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dengan mengambil star di kantor Badan Kependudukan Keluarga Berencanan Daerah (BKKBD) Rejang Lebong yang ada di Jalan Sukowati Curup. Kegiatan tersebut diikuti tak kurang dari 100 orang yang berasal dari berbagai organisasi perempuan baik dari Rejang Lebong maupun luar Rejang Lebong.(251)