Kejang Usai Disuntik

dahima
RIZKY/BE Dahima warga Desa Pukur, Kecamatan Air Napal, Kabupaten BU sempat kejang-kejang dan tidak sadarkan diri setelah mendapat suntikan dari bidan setempat

AIR NAPAL, BE – Diduga alergi dengan jarum suntik, Dahima, warga Desa Pukur, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara (BU) nyaris kehilangan nyawanya. Ia mendadak kejang-kejang dan tidak sadarkan diri setelah mendapat suntikan dari Ratih, bidan yang membuka praktek di Desa Pasar Tebat, Kecamatan Air Napal bersama kakaknya Neti. Kejadian sepekan lalu itu bermula saat Dahima mengeluh mual dan sakit kepala. Tidak tahan dengan keluhan tersebut, Dahima meminta anaknya mengantarkan ke puskesmas untuk berobat.

“Di puskesmas dokter tidak ada, kemudian saya mengajak anak ke bidan. Yang suntik saya itu asisten bidan, setelah itu saya langsung kejang-kejang,” cerita Dahima saat dikonfirmasi.
Beruntung pihak Puskesmas Air Napal cepat membawa Dahima ke Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Bengkulu, sehingga keadaan Dahima tidak semakin memburuk.

Dari keterangan kakak korban, Dahamin, berdasarkan keterangan dokter di Rumah Sakit Bhayangkara, Dahima kejang-kejang dan tidak sadarkan diri lantaran kelebihan dosis dari suntik yang diberikan. Hal ini tentunya membuat Dahamin kesal, beranggapan bidan mencelakai adik kandungnya.

Ia kemudian mendatangi praktek bidan tersebut mencari kejelasan.  “Kata Neti, tidak mungkin jika Ratih memberikan dosis suntik salah apalagi berlebih,” jelas Dahamin.
Setelah melakukan pembicaraan alot, akhirnya mereka sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun keluarga Dahamin belum terima lantaran Ratih masih ngotot tidak mau disalahkan.

Bahkan saat Neti ke rumah Dahima Ratih tidak ikut.

“Yang kesini malah kakanya, Ratih tidak mau kerumah untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan,” imbuh Dahamin.

Meski awalnya tidak mau memberikan keterangan dengan alasan baru saja mendapat musibah, Neti dan Ratih akhirnya mau angkat bicara terkait masalah tersebut.
Menurut Neti, tidak mungkin Rumah Sakit Bhayangkara memberikan pernyataan kelebihan dosis. Selain itu pasien tidak memberi tahu jika alergi suntik. Hal ini yang menyebabkan kesalah pahaman, bidan dianggap mencelakai pasien.

“Tidak mungkin jika kelebihan dosis, kami mempunyai prosedur jika mengobati pasien, itu alergi suntik. Orang sini jika tidak disuntik tidak mau, katanya tidak sembuh jika hanya diberi obat,” jelas Neti.

Ratih juga berkata demikian, saat pertama datang, ia melakukan tensi terlebih dulu, kemudian akan diberi obat, Dahima malah minta suntik.
“Saya tidak langsung menyuntik, saya tensi dulu darahnya 100/70. Saya tawarkan obat, dia minta disuntik,” jelas Ratih.

Kepala Puskesmas Air Napal, Muhammad Yasin saat dikonfirmasi membenarkan memang ada pasien yang kejang-kejang setelah mendapat suntikan dari salah satu bidan di Kecamatan Air Napal. Terkait dosis yang diberikan menyalahi prosedur atau tidak ia belum tahu, mengingat yang bersangkutan belum dipanggil.

“Belum kami panggil, jadi tidak tahu benar atau tidak bidan itu memberikan dosis suntikan benar atau tidak,” jelasnya.
Terkait izin praktek dua bidan tersebut, Mamad sapaan akrabnya mengatakan, jika Ratih memang mengantongi izin praktek, namun untuk Ratih kemungkinan besar belum memiliki izin praktek. Untuk diketahui, Neti membuka praktek bidan dirumahnya kemudian dibantu Ratih. “Setau saya Ratih tidak punya, kali Neti ada,” singkat Mamad mengakhiri.(167)