Kejadian Cepat Tanpa Tanda-tanda

12348450_716781831757265_1416052366_nKesaksian Longsor Desa Lebong Tandai

Camp pemukiman di Karang Suluh, Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara (BU) dihuni 18 orang. Biasa Camp ini diisi sampai 25 KK. Bentuknya memanjang dengan beberapa bedeng, bangunannya terdiri dari seng, terpal dan beberapa papan dan tiang dari kayu.

Rizki Suryatama, Bengkulu Utara

SEBELUM kejadian 18 warga ada sedang mendulang batu hasil galian untuk menemukan emas, nonton TV dan bersantai. Dodi, warga Pekal, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko merupakan saksi yang melihat kejadian longsor mengubur 18 warga tersebut.

Ia selamat lantaran camp ditempatinya tidak terkena longsor. Jarak Camp ditinggali Dodi dari camp tertimbun sekitar 300 sampai 500 meter.

Sebelum kejadian, Rabu (2/12) sekitar pukul 19.30 WIB Dodi sedang duduk bersantai di depan Camp tempat tinggalnya setelah setelah melakukan aktifitas seharian. Saat itu langit sudah tidak lagi menurunkan air hujan. Namun saat sore hari hujan mengguyur deras lokasi pemukiman camp penambang tersebut. Sekitar pukul 20.00 WIB tiba-tiba tebing yang berada didepan camp di tempati 18 penambang tersebut longsor.

“Saat itu saya sedang duduk bersantai di depan camp, menghadap tebing yang longsor, tidak lama kemudian saya melihat tebing di depan camp sebelah longsor. Tidak ada tanda-tanda sebelum longsor, tebing batu dan tanah itu langsung longsor begitu saja. Kejadiannya cepat sekali, tidak ada tanda-tanda tebing akan longsor, saat itu penambang yang tinggal di camp sebelah ada yang nonton TV, santai dan ada juga yang mendulang emas,” cerita Dodi.

Dodi meyakini jika 18 warga tersebut tidak mengetahui jika tebing akan longsor, sehingga ia juga meyakini tidak ada yang sempat menyelamatkan diri. Dia melihat tebing tersebut longsor kemudian panik dan berlari dengan beberapa teman yang ada di camp. Takut jika camp yang ia tinggali juga terkena longsor.

“Saya melihat tebing itu longsor langsung lari, tidak terfikirkan memberitahu penambang disebelah. Meski saya kasih tahu tidak sempat melarikan diri, karena longsornya cepat sekali,” imbuh Dodi yang terlihat sedikit trauma menceritakan kronoligis longsor tersebut. Setelah longsor, Dodi dan beberapa temannya kemudian memberitahu ke Desa Lebong Tandai jika camp pemukiman tertimbun longsor. Evakuasi tidak langsung dilakukan, Dodi dan teman-temannya mencari bala bantuan terlebih dulu ke Lebong Tandai, selain itu Dodi takut jika terjadi longsor susulan.

“Saya langsung menghubungi teman saya yang ada di Lebong Tandai, keesokan harinya baru bisa melakukan evakuasi, malam itu saya takut jika terjadi longsor susulan. Saat melakukan evakuasi kita bisa menemukan jenazah Mudik dan Yan karena berada dipinggir longsoran. Kemudian Irzal yang mengalami patah kaki, kondisinya sagat memprihatinkan,” kata Dodi mengakhiri ceritanya.

Di kamp yang tertimbun tersebut memang ada fasilitas listrik, namun hanya salah satu bedeng saja yang menggunakan lampu dan ada Televisinya. Listrik dihasilkan dari mesin diesel yang sekaligus digunakan warga sebagai penggerak alat untuk mendulang emas. Saksi kunci kejadian ini ialah Irzal satu-satunya korban selamat yang menderita patah kaki. Diyakini ia tahu persis kondisi terakir sebelum longsor dan setelah longsor.(**)