Kecantikan itu Abadi

Nama :dr. Annanurlita Muchtar

TTL : Jakarta, 9 Juni 1969

Ortu
Ayah : Muchtar Ahmad
Ibu : Suartini
Suami : Ir. Sahlan Sirad

Anak :
1. Ali Bandra Muhammad Adil
2. Bella Azzahra
3. Annabi Saltsabilla

Pendidikan
SD Tumpa Karya, Jakarta
SMPN 77 Jakarta
SMAN 30 Jakarta
S1 Fakultas Kedokteran UKI tahun 1988
Course Akupuntur Jakarta

Kecantikan adalah cita-citanya sejak ia kecil dan manusia tak pernah berhenti untuk memiliki wajah yang cantik. Itulah yang membuat dr Annanurlita Muchtar memilih menjadi dokter kecantikan. Di tengah masyarakat ia sudah tidak asing lagi. Karena dokter kecantikan berwajah cantik itu juga berprofesi sebagai anggota DPRD Kota Bengkulu. Dunia politik dan kecantikanya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam karirnya, tetapi dalam bidang kecantikan tidak pernah akan ditinggalkannya. “Saya lebih cenderung di dunia kecantikan, politik bagi saya hanya sebagai pengalaman saja dan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat,” katanya.
Anna mengungkapkan kecantikan sudah menjadi kebutuhan, wajar saja kalau wanita selalu ingin terlihat cantik, dan memiliki kulit yang bersih, karena secara umum manusia tidak akan berhenti untuk mempercantik diri. Saat ini, kecantikan sudah menjadi ladang komersil. “Karena kecantikan itu abadi, tak sedikit wanita saat ini rela mengeluarkan uangnya untuk melakukan berbagai perawatan itu,” katanya.
Karena itulah, wanita cantik akrab dipanggil Anna sangat tertarik dengan dunia kecantikan. Menggali ilmu dengan kuliah kedokteran, untuk menjadi dokter kecantikan tidaklah mudah.
Perlu banyak perjuangan yang harus dilalui. Setelah melalui jenjang pendidikan dari SD hingga dinyatakan lulus SMAN 77 Jakarta beberapa tahun silam, ia mengejar mimpi dengan mendaftarkan kuliah ke fakultas kedokteran di Universitas Kristen Jakarta (UKI).
Wanita kelahiran Jakarta 9 Juni 1969 sebelumnya ingin kuliah di Perguruan Tinggi (PT) Negeri, tetapi terdepak. Sehingga membuat dirinya frustasi. Tetapi, berkat suport sang ibu Suartini, ia kembali bersemangat dan mengambil jurusan kedokteran.
Saat menjadi mahasiswa di UKI, ia kenal dengan Syahlan Sirad yang saat ini menjadi suaminya. “Setelah melakukan pendekatan, pacaran dan berakhir dipelaminan, kuliahnyapun nyaris terhenti karena harus beberapa kali cuti, namun dengan kesabaran akhirnya berhasil menyandang gelar Sarjana kedokteran kecantikan,” ceritanya.
Gempa bumi di Bengkulu tahun 2011, membuat wanita cantik ini tinggal di bumi raflesia hingga saat ini. Saat terjadi gempa tahun itu, suaminya Syahlan Sirad ditugaskan ke Bengkulu. Sebagai istri, diapun ikut mendampingi suaminya. “Sebelum ke Bengkulu saya sempat membuka klinik di Jakarta, saat itu baru berjalan 3 bulan ” katanya. Pada tahun yang sama, Anna diangkat sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Desa Cahaya Negeri Kabupaten Seluma.
Sebagai dokter kecantikan, ia melihat kurangnya fasilitas medis, padahal di kota besar fasilutas kecantikan sudah menjadi tred. “Berawal dari sinilah saya terpanggil untuk membangun masyarakat memahami perawatan kecantikan. Minat perawatan kecantikan itu ada, tapi tidak didukung fasilitas sehingga masyarakat salah langkah dengan membeli produk-produk asal-asalan, ” katanya.
Menurutnya, sebagai wanita perawatan kecantikan bukan hanya saat masih muda dan lajang saja, “kebanyakan wanita kalau sudah menikah ia sudah melupakan untuk perawatan diri. Padahal itu sangat penting baik untuk diri juga untuk suami. Jangan pernah berhenti untuk merawat diri, selain sehat juga tetap cantik,” katanya. (endang)

Jangan Berhenti Belajar

Hidup ini jangan berhenti belajar. Kalimat itulah yang membawa dr Annanurlita Muchtar bergabung dalam dunia politik. Isteri Syahlan sirad itu tergiur masuk dalam dunia politik, selain tak puas dengan profesinya sebagai dokter yang ia geluti, ia justru tertantang dan ingin memiliki banyak pengalaman sebagai seorang politisi. “Saya dan suami sering komunikasi tentang partai, lama-lama saya mulai tertarik,” katanya.
Berkat dukungan suaminya, Anna akhirnya bergabung dengan Partai PNBKI. Ia semakin tertantang, terlebih saat ini masih jarang wanita yang terjun dalam dunia politik. Pada Pemilu Legislatif 2009 lalu, dokter cantik ini mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Sehingga terpilih, hingga saat ini masih menjalankan amanat rakyat itu. “Hidup ini jangan berhenti belajar, dan jangan terfokus pada satu profesi saja, profesi lainpun bisa dicoba,” katanya.
Selama menjadi anggota dewan, ia sangat fokus dalam bidang kesehatan, sebab ia merupakan satu-satunya anggota dewan yang berlatar belakang dari kedokteran. Sehingga lebih fokus memperjuangkan kesehatan. “Saya terus berupaya kecehatan diutamakan, karena berapapun biaya dikucurkan dari pemerintah, kalau masyarakatnya sendiri tidak sehat akan sia-sia,” katanya. (endang).

Keluarga dan Anak Diutamakan

Sebagai wanita karir dan politisi, dr Annanurlita Muchtar memiliki waktu yang padat. Namun tidak menutup tugasnya menjadi ibu bagi suami dan ke-3 anaknya. “Sebelum melaksanakan pekerjaan lain, saya melaksanakan pekerjaan ibu rumah tangga. Mulai dari mempersiapkan makanan, mengurusi anak serta membereskan pekerjaan rumah,” ujarnya.
Setelah semua tertata, ia baru menjalankan tugas sebagai anggota DPRD KOta. Jadwal yang cukup padat, pagi hari harus ke kantor DPRD, siang harinya hingga sore ia membuka klinik. “Belum kegiatan sosial lainnya seperti Darmawanita dan ikatan Dokter Indonesia (IDI),” ujarnya.
Anna tak jarang harus keluar kota mengikuti workshop atau tugas legislatifnya. Sehingga harus pintas memanfaatkan waktu dan saling menjalin komunikasi dengan suaminya, “Jika dirumah saya manfaatkan waktu makan, dan lepas salat magrib untuk bersama keluarga, jika harus DL (Dinas Luar) saya komunikasi lewat HP, ” katanya.
Berbagai aktifitas ke-3 anaknya terus terpantau dan secara bergantian dengan suaminya mulai hal terkecil seperti bangun tidur, sudah makan atau belum, hal-hal sepele seperti ini menjadi rutinitas untuk mengigatkan, dan sekaligus pengawasan kepada anak-anak. “Anak dan keluarga adalah segala-galanya,” paparnya. (endang)