Kebudayaan Kian Tergerus

BENGKULU, BE – Kebudayaan bangsa dan daerah saat ini telah mengalami pergeseran yang jauh dari nilai-nilai budaya sebagai bangsa Timur. Kondisi ini tak lepas dari lemahnya political will dari stakeholder untuk terus menggelorakan dan menjaga akar budaya. Padahal banyaknya ragam budaya yang dimiliki bangsa ini merupakan asset yang tak ternilai harganya. Kondisi ini terungkap dalam Dialog Budaya yang digelar Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) Bengkulu, kemarin. Dialog ini menghadirkan narasumber Direktur Utama LPP RRI Dra Niken Widiastuti, budayawan dari Unib Drs Khairul Muslim PhD dan dari Pemred RB, Zacky Antoni. Dialog yang berjalan cukup menarik ini mengupas masalah pergeseran nilai budaya yang semakin hari makin ditinggalkan masyarakat, baik masyarakat di perkampungan maupun perkotaan. Dialog ini mengangkat tema Peran Media Massa dalam Menggairahkan Kegiatan Budaya. Dirut RRI Dra Niken Widiastuti mengungkapkan media massa, khususnya RRI telah melakukan terobosan-terobosan baru untuk mempertahankan kebudayasn dengan tetap menyajikan siaran yang tentang kebudayaan. Namun dia mengutarakan, RRI mengalami kendala yang cukup berat saat bersaing dengan media massa swasta yang makin marak didirikan akhir-akhir ini. Untuk itu, dia berharap agar pemilik media massa ikut membantu mempertahankan nilai kebudayaan tersebut. Karena menurutnya, sangat besar dampaknya terhadap kualitas masyarakat jika budaya tidak lagi diindahkan. Dia juga menggungkapkan, selama ini media massa dianggap terlalu vulgar dalam menyajikan tayangan atau berita, sehingga kevulgaran tersebut ditiru oleh kalangan muda. Padahal media memiliki peran utama dalam mempertahankan kebudayaan. “Sebelum zaman Orde Baru, seorang anak sangat sopan dan santun kepada orang tuanya. Akan tetapi sekarang seoarang anak berani memanggil orang tuanya dengan panggilan bro, coy. Inilah salah satu indikator nilai budaya itu sudah hilang,” paparnya. Budayawan Drs Khairul Muslim PhD menjelaskan peran media sangat besar dalam menggelorakan budaya. Namun kondisi media massa yang telah menjadi industri membuat fatsunnya lebih dominan atas selera pasar, ketimbang ideologi. Peranan pemilik modal juga berpengaruh besar terhadap agenda setting media massa. “Makanya media perlu menekankan penyampaian informasi tak hanya sebatas selera pasar semata,” ujarnya. Sedangkan narasumber lainnya, Zacky Antoni mengungkapkan bahwa untuk menjaga nilai-nilai budaya, pemerintah juga harus berperan aktif. Karena masyarakat lebih cenderung mengikuti political will. Mengenai adanya kecenderungan media massa berpihak kepada pemilik modal, Zacky menjelaskan hal tersebut dikarenakan salah salah upaya media massa agar tetap bertahan. Namun dia mengklaim pihaknya terus menyajikan informasi tentang kebudayaan, meskipun porsinya lebih kecil dibandingkan informasi lain. (400)