KDRT Meningkat Selama Covid-19

 

BENGKULU, BE – Kaum perempuan rentan mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) selama masa pandemi Covid-19. Jumlah perempuan korban KDRT meningkat. Temuan itu berdasarkan survei Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Direktur Pusat Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Bengkulu Susi Handayani menjelaskan pada BE, ada kenaikan jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di wilayah Bengkulu, selama pemberlakukan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) untuk mengantisipasi penularan Covid-19. Susi mengatakan, penyebabnya karena tingkat stres masyarakat meningkat.

“Selama pemberlakuan WFH ini kami banyak menerima laporan dari korban KDRT. Kalau sebelumnya tidak sebanyak sekarang,” kata Susi, Kamis (4/6).

Ia melanjutkan, beban pekerjaan rumah tangga selama pandemi secara umum masih ditanggung oleh perempuan, dibandingkan laki-laki. Mayoritas responden (96% dari 2285 responden), baik laki-laki dan perempuan, menyampaikan bahwa beban pekerjaan rumah tangga semakin banyak. Ditambah lagi, jumlah perempuan yang melakukan pekerjaan rumah tangga dengan durasi lebih dari 3 jam berjumlah dua kali lipat daripada responden yang laki-laki.

“Diketahui pula bahwa 1 dari 3 reponden yang melaporkan bahwa bertambahnya pekerjaan rumah tangga mengaku stres,” ungkapnya.

Selain itu, dalam survei juga nampak kekerasan psikologis dan ekonomi mendominasi KDRT. Sebanyak 80% responden perempuan pada kelompok berpenghasilan di bawah Rp5 juta/bulan menyampaikan bahwa kekerasan yang mereka alami cenderung meningkat selama masa pandemi. Kekerasan fisik dan seksual terutama meningkat pada rumah tangga dengan pengeluaran yang bertambah. Hal ini mengindikasikan pengaruh tekanan ekonomi pada potensi kekerasan di dalam rumah tangga.

“Kurang dari 10 persen perempuan korban melaporkan kasusnya ke pengada layanan semasa Covid-19. Sebagian besar lebih memilih sikap diam atau hanya memberitahukan kepada saudara, teman,atau tetangga. Responden yang tidak melaporkan kasusnya terutama berlatar belakang pendidikan tinggi. Hampir 69 persen responden juga tidak menyimpan kontak layanan untuk dapat mengadukan kasusnya,” tuturnya.

Susi menjelaskan, kebijakan WFH dan mulai banyaknya pekerja yang di PHK akibat pandemi Covid-19 membuat tingkat stres masyarakat meningkat. Dalam keadaan kesulitan ekonomi dan perubahan situasi yang biasanya pria berada di luar rumah untuk bekerja, dan tiba-tiba harus berdiam diri di rumah, membuat suasana rumah tangga menjadi panas dan berujung pada KDRT. Dari sekian banyak laporan yang diterima itu, kata Susi, ada dua kasus KDRT yang saat ini sedang didampingi Yayasan PUPA Bengkulu.

“Yang kita dampingi sekarang ada dua kasus KDRT. Dari dua kasus ini ada yang suaminya WFH dan ada yang di-PHK. Ada juga tiga kasus kekerasan seksual,” ujarnya.

Selain itu, Susi mengaku pandemi Covid-19 juga memberikan dampak pada tidak maksimalnya pendampingan yang dilakukan PUPA terhadap para korban korban KDRT dan kekerasan seksual. Sebab, sambungnya, pendampingan yang biasanya dilakukan dengan tatap muka sekarang terpaksa dilakukan dengan komunikasi jarak jauh.

“Derita yang ditanggung korban sekarang jadi lebih kompleks. Mereka tidak bisa menghindar untuk mencari tempat aman karena semua orang jaga jarak, tidak terima tamu. Harus ada ruang yang bisa untuk tempat mereka cari perlindungan,” tutupnya. (999)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*