Kotaku dan Pemkot Kelola 19,40 Ha

Kawasan Kumuh jadi Destinasi Wisata

IST/BE
Desain kawasan kumuh Pasar Bengkulu disulap menjadi destinasi wisata unggulan Kota Bengkulu.

BENGKULU, BE- Seluas kurang lebih 19,40 Hektare (Ha) kawasan kumuh akan dikelola Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Provinsi Bengkulu berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bengkulu.  Kawasan yang mayoritas berada di Kelurahan Pasar Bengkulu-Kampung Kelawi Kecamatan Sungai Serut tersebut akan dijadikan destinasi wisata unggulan serta cikal bakal sejarah Kota Tuo di Kota Bengkulu.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Bengkulu, I Made Ardana menuturkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu telah berkolaborasi dengan Program KOTAKU dalam penataan kawasan menjadi program pemerintah dalam mengatasi kawasan kumuh.

Pengentasan kawasan kumuh itu selaras program Presiden Joko Widodo dalam “Gerakan 100-0-100” yaitu 100 persen akses air minum layak, 0 persen permukiman kumuh dan 100 persen akses sanitasi layak.
Di Kota Bengkulu, ada lima kawasan kumuh yang menjadi prioritas yang tersebar di Kelurahan Sumber Jaya, Dusun Besar, Pintu Batu, Kebun Keling dan kawasan Kota Tuo (Pasar Bengkulu).

“Dari lima kawasan tersebut, terpilih kawasan Kota Tuo menjadi prioritas pertama dengan pertimbangan tingkat kekumuhan, kolaborasi perencanaan, berdampak terhadap aspek ekonomi, sosial budaya dan lingkungan, dukungan masyarakat tinggi dan wilayah strategis kota,” ujarnya.

Permasalahan utama di kawasan Kota Tuo antara lain, permukiman kurang tertata dengan baik, terjadi genangan bila hujan lebat karena luapan air sungai dan tidak berfungsinya pintu air secara baik, banyaknya permukiman yang tidak memiliki saluran drainase dan jalan lingkungan, banyak rumah tradisional yang tidak dirawat dan diganti menjadi rumah modern, masyarakat kurang bisa memanfaatkan potensi pantai sungai dan potensi di lingkungan sebagai sumber ekonomi.

Kawasan Kota Tuo juga berada di pesisir pantai dan dilewati sungai sehingga memiliki potensi bencana banjir dan tsunami sebagai mana tempat yang lain di Kota Bengkulu, wilayah tersebut juga rawan gempa.

“Penataan kawasan ini selain mengentaskan kumuh, juga ingin memunculkan sejarah Kota Tuo di kota Bengkulu, dan ditata menjadi kawasan indah dan menjadi cikal bakal berdirinya Kota Bengkulu,” terangnya.

Implementasi penataan kawasan tersebut tentu perlu kerja keroyokan. Pasalnya, mengubah kawasan kumuh itu tanggung jawab bersama mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat.

Mewujudkan Kota Tuo menjadi icon kota Bengkulu telah dirancang sejak dua tahun lalu, tepatnya tahun 2018 telah dilakukan penataan permukiman skala kawasan, mulai sosialisasi dari masyarakat hingga dukungan anggaran ke pemerintah pusat.

“Tahun 2020 melalui Program KOTAKU dikucurkan dana Rp 12,8 miliar bersumber dari APBN, kemudian dari APBD sebesar Rp 6 miliar untuk pemancangan sheet pile beton, penataan kawasan infrastruktur Rp 3,5 miliar, dan penyiapan IPAL dan lainnya. Pada tahun 2021 program ini dilanjutkan kembali, ” bebernya.

Pengentasan kawasan ini rencanya dibagi dalam tiga segmen dengan target pengerjaan hingga tiga tahun lamanya, segmen pertama, pentaan kawasan. Segmen kedua, penataan kawasan sejarah karena di kawasan ini juga ditemukan situs-situs peninggalan seperti benteng york, pelabuhan lama yang harus dijaga dan perlu koordinasi dengan Balai Cagar Budaya wilayah Jambi. dan Segmen tiga adalah penataan kawasan di tepi sungai, permukiman dan kawasan.

“Sekarang kita sudah mulai melakukan pemancangan sheet pile beton di kawasan sungai, karena penyumbang kekumuhan terbesar,” imbuhnya.

Pihaknya telah membuat DED dan harapannya terus berprogress, karena penataan kawasan ini penting dan berkelanjutan. (247)

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*