Karir Guru Tak Terbatas

JAKARTA, BE – Meningkatnya animo generasi muda menjadi seorang guru dengan mendaftar di Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK), tidak dibarengi dengan grand design karir seorang guru. Hal ini agar menjadi guru bukan hanya sebuah pekerjaan saja, tapi sebuah profesi yang menjanjikan.

Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2014, yakni rentang tahun 2005 – 2010, orang yang mendaftar dalam program pelatihan guru meningkatkan dari 200 ribu orang menjadi 1 juta orang. Sementara, jumlah lembaga pendidikan calon guru pun tidak kalah banyak, Indonesia sendiri saat ini memiliki sebanyak 374 institut pelatihan guru, dimana 32 di antaranya merupakan institut negeri dan 342 selebihnya adalah institut swasta.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hamid Muhammad menjelaskan, tahapan karir seorang guru yaitu menjadi guru junior, guru senior, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Nah, ketika menjadi kepala sekolah, nanti √°da dua jalurnya, satu ke pengawas dan satunya ke Dinas Pendidikan.

“Untuk pengawas berada dalam jalur akademik. Sedangkan, di Dinas Pendidikan tersebut bisa menjadi Kepala Seksi (Kasi), Kepala Bidang (Kabid) dan ada yang Kepala Dinas,” katanya disela-sela Gerakan 10 Menit Membaca Untuk Anak di gedung Perpustakaan Kemdikbud, Jakarta, Jumat (29/5).

Namun, kata Hamid, dengan adanya otonomi daerah membuat guru harus mengikuti regulasi Peraturan Daerah (Perda) dan banyak diantaranya guru akan ditempatkan di tempat yang berbeda-beda, akibat kebijakan Gubernur dan Wali Kota. “Sebenarnya karir guru tidak terbatas, tidak hanya menjadi guru. Jadi dia bisa kemana saja setelah dia menunjukan prestasi kerjanya,” katanya.

Maka, lanjut Hamid, regulasi karir guru sudah ada. Hanya nanti Kemdikbud akan melihat kembali regulasi karir guru sepertu apa kedepan. Karena Kemdikbud harus memetakan dinamika yang ada di masyarakat dan sebaginya. “Intinya menjadi guru tidak menutup mereka itu bisa berkarir dimana saja,” tandasnya.

Sementara, Konsultan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia, Totok Amin Soefijanto mengatakan, karir seorang guru sebenarnya sudah ada, hanya tidak terlihat saja. “Jadi guru itu akan punya jenjang promosi yang suda ada dan situ juga akan memperbaiki menajemen sekolah,” katanya.

Menurutnya, guru yang bagus. Nanti suatu saat dapat menjadi kepala sekolah, kemudian naik menjadi penilik sekolah atau pengawas sekolah dan bila tidak ada aral yang melintang, bisa naik lagi menjadi Kepala Dinas Pendidikan. “Itu kan yang paling ideal,” terangnya.

Namun, dari riset yang ditemukan ACDP Indonesia, banyak problem terjadi di sekolah-sekolah karena tidak mempunyai kepala sekolah kualifikasi yang mumpuni. Pasalnya, kepala sekolah dipilih karena kedekatan dengan Gubernur, Bupati / Wali Kota. Hal ini hampir sama dengan pengawas sekolah tidak berjalan dengan baik, karena pengawas sekolah tadi tidak memiliki kualifikasi.

Dia menambahkan, belum lagi faktor intervensi politik pada saat pemilu ada guru yang menjadi tim sukses dan bila yang disukeskannya menang. Dia akan mendapatkan durian runtuh dan sebaliknya bisa saja dimutasi. Sehingga LPTK juga harus membekali persepsi masa depan kepala dinas untuk lebih baik.

Sedangkan, Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unika Atma Jaya Jakarta, Ivan Stefanus mengatakan, sebenarnya masa kerja guru lebih lama, bila guru PNS sampai 60 tahun. Sedangkan dosen 65 tahun, kecuali guru besar bisa sampai 70 tahun. (wmc)