Kadar Testosteron Pengaruhi Kemampuan Bahasa Bayi

Kandungan testosteron yang tinggi sebelum kelahiran bisa meningkatkan resiko keterlambatan dalam perkembangan bahasa pada anak laki-laki. Sebuah penelitian dari Australia menunjukkan salah satu alasan mengapa anak laki-laki lebih rentan mengalami keterlambatan bahasa dibandingkan dengan anak perempuan.

“Selama bertahun-tahun, kemungkinan penyebab keterlambatan bahasa menjadi misteri,” kata Andrew Whitehouse, ketua tim penulis sekaligus psikolog di Universitas Western Australia. Temuan ini memungkinkan untuk mengidentifikasi sejak dini jika anak berada pada peningkatan resiko keterlambatan bahasa.

Anak perempuan mengembangkan kemampuan bahasa lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki. Perkembangan kemampuan berbahasa sangat bervariasi di tiap anak.

Mabel Rice, ahli patologi wicara di Universitas Kansas mengatakan anak laki-lakilah yang banyak mengejar gadis-gadis pada saat mereka mencapai usia sekolah. “Sebagian besar dari mereka dapat mengatasi hal ini,” kata Rice yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Laki-laki dan perempuan dapat memproses testosteron yang berbeda. Dalam studi baru ini, para peneliti mengukur kadar testosteron dalam darah di tali pusat bayi yang baru lahir. Selanjutnya mereka mencermati kemampuan bahasa si bayi dari usia 1 – 3 tahun. Orang tua juga harus menyelesaikan kuesioner tentang perkembangan anak-anak mereka.

Temuan mereka menunjukkan bayi laki-laki dengan kadar testosteron tinggi dalam darah ternyata mengalami keterlambatan bahasa dengan perkiraan dua hingga tiga kali lebih mungkin dibandingkan dengan anak perempuan. Efek sebaliknya ditemukan pada bayi perempuan bahwa tingginya kadar testosteron dalam darah dikaitkan dengan penurunan resiko keterlambatan bahasa.

Whitehouse mengatakan ini mungkin karena perbedaan dalam cara laki-laki dan perempuan memproses testosteron. Menurut Rive, testosteron mempengaruhi pembangunan daerah tubuh lain yang pada gilirannya mempengaruhi perkembangan bahasa.

Saat keterlambatan bahasa mulai terjadi, Rice merekomendasikan orang tua untuk memperhatikan kosakata anak mereka. “Anak usia 2 tahun, setidaknya mereka harus memiliki sekitar 50 kata dalam kosa kata mereka,” kata Rice. Jika tidak, Rice menyarankan untuk membawa anak mereka ke dokter spesialis.(**)