Jumlah Kasus Covid-19 Kluster Pasar Meningkat

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bengkulu menyebutkan jumlah kasus Covid-19 dari kluster pasar di Pasar Panorama Kota Bengkulu mencapai 19 kasus. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya yang tercatat sebanyak 10 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni SKM MKes mengatakan, saat ini total kasus Covid-19 dari kluster pasar mencapai 19 orang dengan rincian sebanyak 10 orang merupakan pedagang, tukang jahit, dan karyawan bank. Sementara sisanya merupakan hasil penelusuran yang dilakukan kepada pihak keluarga terdekat.

“Total kasus dari kluster pasar Panorama Kota Bengkulu mencapai 19 orang,” ujar Herwan, kemarin (6/7).

Ia mengaku, jumlah kasus dari kluster pasar Panorama Kota Bengkulu diperkirakan akan mengalami peningkatan. Pasalnya tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bengkulu saat ini tengah melakukan penelusuran kepada sejumlah orang yang pernah memiliki riwayat kontak terhadap pasien konfirmasi positif kasus 139, 140, dan 141.

“Kemungkinan jumlahnya akan meningkat, karena kita saat ini masih melakukan tracing terhadap kasus baru dari kluster Pasar Panorama,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bengkulu, Dr H Syafriadi MM mengatakan, banyaknya pedagang pasar tradisional yang terjangkit virus korona, menjadikan pasar sebagai salah satu klaster penyebaran Covid-19 di Bengkulu. Oleh karena itu, masyarakat yang hendak pergi ke pasar untuk memenuhi barang kebutuhan hidup, perlu menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Masyarakat yang pergi atau berbelanja di pasar harus mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah,” ujar Adi.

Selama masa pandemi, Adi menuturkan, pasar tradisional termasuk ke dalam kategori tempat yang rentan menjadi lokasi penularan. Sebab, banyak orang beraktivitas di lokasi tersebut yang datang dari berbagai tempat. Kondisi itu kemudian menjadikan pasar seringkali penuh sesak.

“Kemudian, kebersihan yang kurang terjaga, dan standar sanitasi dan higienis yang belum ketat, membuat pasar menjadi tempat yang berisiko,” imbuhnya.

Ia mengatakan, sejak awal pemerintah tidak menutup pasar karena pasar merupakan sumber pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Meski demikian, ia mengakui bahwa banyak pasar yang belum menerapkan pengaturan secara baik guna menghindari penularan Covid-19. Akibatnya, pasar kini menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19 di Kota Bengkulu.

“Pasar sekarang menjadi salah satu tempat penyebaran Covid-19 di Bengkulu, oleh karena itu masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan” ucapnya.

Ia menambahkan, ada sejumlah hal yang harus dipastikan masyarakat yang tetap ingin berbelanja secara aman di pasar tradisional. Salah satunya wajib menggunakan masker atau face shield selama beraktivitas di pasar. Masker atau face shield yang dipakai diharapkan tidak dinaik turunkan. Apalagi menggunakan tangan yang kotor. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak menyentuh area wajah dan lebih sering mencuci tangan dengan sabun. “Ingat, cuci tangan sesering mungkin,” tambah Adi.

Mengacu pada Surat Edaran (SE) Menteri Perdagangan Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pasar yang Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru, pedagang yang boleh beraktivitas di pasar adalah mereka yang memiliki suhu tubuh di bawah 37,3 derajat celcius. Selain itu, orang dengan gangguan pernapasan seperti batuk dan flu dianjurkan tidak masuk ke pasar. Sebab risiko untuk terpapar Covid-19 lebih tinggi. “Ini berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia, WHO. Pemeriksaan suhu tubuh bagi para pedagang, wajib dilakukan sebelum pasar dibuka,” tutupnya.(999)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*