JK Ungguli Aburizal Bakrie, Priyo Salip Akbar Tanjung

JAKARTA¬†– Lembaga survei Political Weather Station (PWS), melansir hasil survei bertajuk “Mendung Menyelimuti Elektabilitas ARB”. Dalam survei itu, kejutan terjadi di internal Partai Golkar. Sebab, ada nama baru menyodok di bursa calon presiden 2014 dari partai berlambang Pohon Beringin itu.

Dalam survei PWS, nama Ketua DPP Partai Golkar yang juga Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso masuk tiga besar kandidat presiden di internal PG. “Dan yang cukup mengagetkan adalah mencuatnya Priyo Budi Santoso ke posisi ketiga dengan raihan 12,24 persen,” kata Direktur Riset PWS, Marsedes Marbun, dalam paparan survei, di Jakarta, Minggu (21/10).

Dalam survei itu diketahui, Priyo mengungguli seniornya Akbar Tanjung yang meraih 11,21 persen, Fadel Muhammad 9,81 persen, Agung Laksono 4,48 persen, Hajriyanto Tohari 0,46 persen.

Sedangkan, responden yang menjawab rahasia 4,39 persen dan undecided 18,83 persen. Marsedes mengatakan, dipilihnya partai Golkar melalui program UKM-nya, ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan (elektabilitas). Popularitas Ketua Umum Aburizal Bakrie berdasarkan temuan di lapangan hanya menempati urutan kedua dengan 16,35 persen.

Sementara Jusuf Kalla masuk posisi teratas dengan 22,14 persen dan Priyo Budi Santoso 12,24 persen. “ARB hanya menempati urutan kedua,” kata Marsedes.

Menurut dia, belum mampunya Aburizal Bakrie menaikkan elektabilitasnya disebabkan karena sejumlah isu yang masih melilitnya. Seperti, persoalan lumpur Lapindo, isu perusahaan Bakrie Group yang dikaitkan dengan persoalan pajak serta konflik internal partai Golkar,  maupun sentimen Jawa dan Non Jawa.

Selain itu, tingkat kesukaan responden terhadap Priyo juga signifikan yakni 49,25 persen atau di bawah Jusuf Kalla sebesar 70 persen. Ical hanya meraih 45,6 persen disusul Akbar Tanjung 40,84 persen, Fadel Muhammad 35,6 persen. Agung Laksono 32,89 persen, Hajriyanto Tohari 23,64 persen, Syarif Cicip Sutarjo 19,71 persen

“Adanya Priyo dan Fadel, menandakan Partai Golkar tidak pernah kehabisan stok calon pemimpin nasional. Di sisi lain, tonglat estafet atau kaderisasi berjalan,” kata Marsedes.

Dijelaskan Marsedes, survei dilaksanakan di 33 provinsi di Indonesia pada 15 September hingga 15 Oktober 2012, dengan sampel 1070 dan margin of error 3 persen. Metode yang digunakan mutistage random sampling. (boy/jpnn)