Jerman Jajaki Carbon Trade

BINTUHAN, BE РNegara Panser Jerman melalui Lembaga Pemerintahan Lingkungannya dan Wildlife Conservation Society-Indonesian (WCS-IP) mengadakan pertemuan dengan Pemkab Kaur. Ini tindaklanjut dari pertemuan sebelumnya yang membahas pengelolahan terhadap Potensi Hutan di Kabupaten Kaur, khususnya hutan Lindung Raja Mandere. Fungsi dan kandungan karbon Hutan Raja Manedare di ketengahkan dalam pertemuan tersebut. Hadir dalam pertemuan itu perwakilan UNESCO Ms Dorotheo Pio, Kementrian Lingkungan Hidup Federal Jerman Mr Andreas Grafen dan WCS-IP Boni Dwantoro. Mereka diterima langsung Bupati Kaur Dr Ir H Hermen Malik Msc, Kepala BLHDTK Drs Reflita Dwiana Msi, Kabid RLPH Dishutbang dan ESDM Boyman Kardi Msi dan Kadis Pertanian Ir H Herwan.

Menurut Kabid RLPH Dishutbang dan ESDM Boyman Kardi, pihaknya masih melihat konsep dalam pembelian dan penjualan terhadap negara donor tersebut. Sebab hasil pengukuran potensi karbon di kawasan Hutan Lindung Raja Mandare seluas 42 ribu hektare terbilang rumit, Namun secara prinsip pemerintah tak ingin nantinya kebijakan yang telah diatur dalam Permenhut tersebut tidak memberikan manfaat dan tak bisa didistribusikan kepada masyarakat yang tadinya mengelola hutan tersebut.
“Ini menyangkut segala aspek yang berkaitan, seperti aspek ekologi, sosial dan ekonomi. Sebelum melangkah lebih jauh tentunya Pemkab harus mengatur Perda sebelum penjualanya,” jelasnya¬†Selanjutnya, Jerman mengincar hutan Raja Mandare ini karena melihat dari ketinggian 0 hingga 2.500 meter sebesar 260 ton per hektare. Karbon di kawasan hutan itu dengan ketinggian 2.500 meter mencapai rata-rata 400 ton per hektare, sehingga total potensi karbon di hutan Raja Mandare berada sedikit di atas rata-rata kandungan karbon hutan tropis sebesar 250 ton per hektare.¬†“Penelitian negara Jerman tertarik dengan karbon hutan tersebut, tentunya akan memberikan dampak bagi masyarakat kita,” imbuhnya.(823)