Jembrana Serang Sapi dari Luar

Selamet, peternak sapi di Desa Air Meles Bawah saat menunjukkan sapi Bali miliknya yang bebas dari virus Jembrana.  Virus jembrana sendiri menurut Selamet banyak menyerang sapi Bali yang didatangkan dari luar Rejang Lebong.
Selamet, peternak sapi di Desa Air Meles Bawah saat menunjukkan sapi Bali miliknya yang bebas dari virus Jembrana. Virus jembrana sendiri menurut Selamet banyak menyerang sapi Bali yang didatangkan dari luar Rejang Lebong.

CURUP, Bengkulu Ekspress – Meskipun saat ini penyakit Jembrana tengah menghantui sejumlah peternak jenis sapi Bali di Kabupaten Rejang Lebong, namun sejumlah petani mengaku tidak terlalu khawatir dengan penyakit yang hanya menyerang penyakit sapi Bali tersebut. Sejumlah petani tak terlalu khawatir, karena memang sapi bali yang terkena virus Jembrana ini sebagian besar merupakan sapi yang berasal dari luar daerah dan belum terlalu lama di Kabupaten Rejang Lebong.

“Memang sebagian besar sapi Bali yang terkena virus Jembrana adalah sapi yang baru sampai di Rejang Lebong ini,” terang Selamet salah satu peternak sapi dari Kelompok Tani Gading Indah Kelurahan Air Meles Bawah Kecamatan Curup Tengah, Selasa (10/4) kemarin.

Hal tersebut menurut Selamet terbukti dari peternakan sapi yang ia miliki, dimana dari 10 ekor sapi jenis sapi Bali yang ia kembangkan saat ini semuanya tidak tertular penyakit yang bisa menyebabkan kematian pada sapi tersebut, ia juga berharap tidak akan pernah penyakit tersebut.

“Alhamdulillah hingga sekarang yang sapi saya ini tidak terkena Jembrana, dan mudah-mudahan tidak,” harap Selamet. Untuk trik menghindari sapinya agar tidak terkena virus Jembrana, menurut Selamet cukup mudah, diantaranya dengan selalu menjaga kebersihan kandang, kemudian minimal seminggu sekali, sapi harus dikeluarkan dari kandang sehingga bisa terkena sinar matahari langsung. Kemudian sapi tidak dilepas liarkan sehingga tidak mudah terkena virus Jembrana maupun penyakit sapi lainnya.

“Kalau dari luar contohnya dari daerah selatan, sebagian besar sapinya dilepas liarkan, sehingga rentan terhadap penyakit termasuk Jembrana ini,” papar Selamet.
Selain itu, menurut Selamet, saat ini ia juga lebih selektif lagi dalam memilih sapi yang akan dimasukkan ke kandangnya. Bahkan saat ini peternakan Selamet membutuhkan sapi pejantan, karena memang peternakan yang ia kembangkan adalah pengembangbiakan. Karena masih maraknya kasus virus Jembrana, sehingga ia lebih memilih tidak memasukkan jantan terlebih dahulu. Meskipun mau memasukkan pejantan, ia akan mencari dari peternak lokal yang ada di Rejang Lebong. Karena kesehatan sapinya akan terjamin.

“Kalau memilih sapi untuk kita kembangkan, kita akan mengambil dari peternak lokal, atau minimal sapi yang sudah menetap 3 bulan di Rejang Lebong ini, sehingga sudah beradaptasi dengan suhu Rejang Lebong ini,” tambah Selamet.

Kemudian untuk kegiatan vaksinasi sendiri, menurut Selamet Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong melalui Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong kerap melakukan vaksinasi setiap tahunnya, bahkan dalam satu tahunnya bisa dua kali, namun ia mengaku tidak mengetahui pasti jenis vaksin yang diberikan petugas. Namun untuk vaksin jembrana sendiri ia mengaku hingga kemarin belum pernah mendapatkannya baik dari Kabupaten Rejang Lebong maupun Provinsi Bengkulu sendiri.(251)