Jembatan Tanjung Raman Diterjang Banjir

Bakti/Bengkulu Ekspress
RUSAK : Jembatan semi permanen menuju Desa Tanjung Raman, Kecamatan Taba Penanjung rusak diterjang arus sungai, Minggu (20/1).

TABA PENANJUNG, Bengkulu Ekspress – Jembatan semi permanen di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) kembali rusak, Minggu (20/1). Padahal, jembatan baru saja selesai diperbaiki oleh masyarakat secara swadaya pada awal bulan Januari 2019 lalu. Kepala Desa (Kades) Tanjung Raman, Dodi Eryanto mengungkapkan, rusaknya jembatan itu akibat diterjang arus sungai yang begitu deras.

“Setiap kali arus sungai deras, jembatan selalu rusak,” ungkap Dodi. Menurut Kades, bencana serupa memang sudah menjadi langganan. Menyikapi hal itu, Pemerintah Desa (Pemdes) dan masyarakat setempat tak bisa berbuat banyak.

“Ketika semua lantai jembatan hanyut terbawa arus, yang bisa kami lakukan hanyalah mengganti lantai dengan papan yang baru,” beber Kades.

Disampaikan Dodi, jembatan itu merupakan satu-satunya akses jalan yang digunakan agar bisa menuju desa. Sejak dibangun, kata Kades, jembatan dan jalan menuju desa belum pernah mendapat perbaikan. Ia mengaku usulan perbaikan jembatan sudah seringkali disampaikan ke Pemeirntah Daerah (Pemda) melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis.

Baik ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkulu tengah. Menurutnya, pembangunan jembatan tak bisa dilakukan dengan menggunakan kucuran dana desa (DD) bantuan dari Pemerintah Pusat dikarenakan ruas jalan itu merupakan kewenangan Pemda Bengkulu tengah.

“Usulan yang kami sampaikan sejak bertahun-tahun lalu belum juga ditanggapi. Kami juga butuh perhatian,” pinta Kades.

Terpisah, kerusakan jembatan semi permanen itu juga dikeluhkan oleh warga setempat serta tenaga pendidik yang mengabdi di Desa Tanjung Raman. Salah seorang guru tidak tetap (GTT) di SMP Negeri 22 Kabupaten Bengkulu tengah, Sebenar Hati SPd mengaku kerusakan jalan berdampak pada terganggunya kegiatan belajar dan mengajar (KBM). “Guru tidak bisa datang tepat waktu jika kondisi jalan dan jembatan tak memadai. Sejak dunia terbentang, akses jalan dari Desa Sukarami menuju Tanjung Raman belum pernah dibangun,” demikian Sebanar Hati.(135)