Jembatan Ancam Pengguna Jalan

ERICK/Bengkulu Ekspress KEMBALI RUSAK: Kondisi jembatan perbatasan Desa Tik tebing dengan Desa Tabeak Blau yang kondisinya kembali rusak, padahal baru diperbaiki akhir 2018 yang lalu.

LEBONG, Bengkulu Ekspress – Selesai diperbaiki diakhir tahun 2018 yang lalu, jembatan perbatasan Desa Tik Tebing dengan Desa Tabeak Blau Kecamatan Lebong Atas milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu kembali rusak dan mengancam pengguna jalan.

Pantauan di lapangan, jembatan perbatasan kedua daerah tersebut berada lebih kurang 150 meter dari Polsek Lebong Atas baru selesai diperbaiki pada bulan akhir November atau awal Desember 2018 yang lalu bersamaan dengan peningkatan jalan mulai dari kawasan tebing bukit resam desa Tik Tebing hingga jalan di desa Tabeak Blau.

Akan tetapi jembatan perbatasan antar desa yang awalnya telah rusak 3 tahun lebih yang lalu dengan mengalami kerusakan kiri dan kanan jembatan yang terkikis ikut diperbaiki dengan peningkatan jalan. Hanya saja, saat ini kondisi jembatan kembali mengalami kerusakan seperti sebelumnya.

Menurut salah seorang warga Desa Tabeak Blau, Muksin (56) mengatakan, bahwa kembali runtuhnya sebagian dari jembatan tersebut sekitar bulan April 2019 yang lalu diduga tidak bisa menahan aliran air hujan.“Saat ini di depan rumah belum dibuat siring untuk menampung aliran air hujan,” jelasnya, kemarin. (19/05).

Akibatnya, ketika hujan aliran air memenuhi jalan dan alirannya menuju jembatan perbatasan. Diduga akibat guyuran air hujan, akibatnya jembatan tiba-tiba runtuh meskipun aliran air di bagian bawah jembatan pada saat itu kondisi mengalir biasa-biasa saja.“Paling lama jembatan ini baru diperbaiki 6 bulan yang lalu,” ucapnya.

Dengan kondisi jembatan yang kembali rusak, dirinya berharap, kepada pemerintah daerah ataupun Provinsi Bengkulu untuk bisa secepatnya memperbaiki jembatan. Apalagi tidak beberapa lama lagi banyak akan memasuki hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah.“Akitifitas jalan kembali akan meningkat, baik yang pulang ke Lebong atau pergi dari Lebong,” sampainya.

Selain itu, jembatan yang lebarnya tidak sama dengan lebar jalan (lebih kecil lebar jembatan) dapat mengakibatkan pengguna jaan menjadi korban terperosok dari atas jembatan. Terutama bagi pengguna jalan yang baru masuk ke kabupaten Lebong.“Hari raya nanti akan banyak pengunjung dari luar Lebong mengunjungi Lebong untuk berwisata,” ujarnya.

Menyikapi kembalinya jembatan perbatasan kedua desa rusak, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perhubungan (Dinas PUPRP) Kabupaten Lebong, Dodi Irawan ST mengatakan, bahwa jembatan tersebut bukan milik kabupaten, melainkan milik Pemrov Bengkulu. “Akan tetapi kerusakan jembatan tersebut sudah kita sampaikan ke provinsi,” singkat Dodi.(614)