Jemaah Suluk Cari Ketenangan

CURUP, BE – Peristiwa meninggalnya jemaah Suluk Tarekat Naqsyabandiyah saat menjalani suluk bukan kali pertama. Ramadhan tahun lalu, aktivitas ini pun membuat 4 orang jemaah Tarekat Naqsyabandiyah meninggal dunia. 2 orang di lokasi suluk Begenang Desa Tanjung Besar Kecamatan Manna, Bengkulu Selatan dan 2 orang lagi di lokasi Suluk Desa Suka Datang, Curup Utara, Rejang Lebong. Jatuhnya korban baru Ramadhan tahun ini atas nama M Raja Gunung Siregar warga Bogor, Jawa Barat asal Sumatera Utara, Senin (30/7) menimbulkan cerminan buruk manajemen penyelenggaraan suluk di Desa Suka Datang. Padahal Kementrian Agama Rejang Lebong bersama Pemkab dan instasi terkait sudah melakukan berbagai upaya untuk mengimbau panitia pelaksana Suluk melakukan perbaikan proses penyelenggaraan ibadah tersebut. Kenyataanya, masih belum banyak perubahan yang terjadi di lokasi pelaksanaan Suluk. Khususnya segi tempat ibadah zikir yang menjadi konsentrasi kegiatan para jemaah.Kepala Kemenag RL, Drs H M.CH Naseh M.Ed, mengatakan setelah mendapat kabar ada jemaah yang meninggal saat mengikuti ibadah Suluk, pihaknya langsung meninjau ke lokasi pelaksaan. “Kami langsung meninjau ke lokasi, untuk mengetahui penyebab kematian jemaah asal Medan itu,” ujar Naseh.Tahun sebelumnya, lanjut Naseh, peristiwa serupa juga terjadi. Sehingga, pihaknya mengadakan rapat koordinasi dengan Muspida terkait yang pada intinya menghasilkan keputusan agar panitia pelaksana melakukan perubahan dan perehaban di berbagai sektor. “Seperti makanan, kesehatan, air, serta lokasi ibadah. Saat itu kami juga meminta agar panitia membatasi peserta, tidak mengikutkan peserta lansia dan anak-anak dan itu sudah disepakati bersama,” tegas Naseh.Hanya saja, berdasarkan hasil pantauan Kemenag, pelaksanaan Suluk tahun 2012 masih banyak segi yang belum dilakukan perbaikan. Khususnya tempat ibadah jemaah saat melakukan zikir di dalam kelambu. “Tempat zikir masih sempit dan kurang aliran oksigen. Bahkan terkesan kumuh,” ujar Naseh.Termasuk pola penyajian makan dan minum kepada peserta yang juga tidak ada perubahan. Berikut menu yang disajikan kepada jemaah saat mengikuti 10 hari pelaksanaan ibadah Suluk. “Makanan yang disajikan berbeda dengan menu makanan saat pembukaan kegiatan yang terkesan mewah. Saat ibadah berlangsung, informasinya jemaah hanya makan dengan sayur bening dan hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu saja,” ujar Naseh.Namun, Naseh juga mengakui bahwa terjadi banyak perubahan di segi kesehatan dan air bersih yang digunakan. Sekarang, lanjut Naseh, di lokasi sudah tersedia pelayanan kesehatan seperti yang disepakati. Baik dokter maupun tenaga medis dan melakukan cek up kesehatan para peserta. “Kesepakatan itu dilakuakn dengan tujuan agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi ke depan,” ujar Naseh.Sementara, untuk mengambil tindak tegas terkait penyelenggaraan Suluk hanya bisa dilakukan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) yang diketuai Kajari Curup. Itupun, baru bisa di tindak jika ada sesuatu hal yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam serta pengaduan masyarakat sekitar yang merasa resah atas pelaksanaan Suluk tersebut. “Atau jika ada tuntutan dari keluarga jemaah yang meninggal dunia baru bisa diambil tindakan tegas,” kata Naseh. Sedangkan, hingga saat ini, pelaksanaan Suluk jika dilihat dari kacamata Kemenag tidak ada hal yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Bahkan, permintaan Kemenag agar jemaah juga melakukan salat taraweh juga sudah dipenuhi panitia dan jemaah peserta. “Peserta mereka saat ini ada sekitar 427 orang untuk gelombang pertama. Untuk gelombang kedua akhir Ramadhan nanti mereka belum bisa memastikan jumlahnya,” tegas Naseh.

Khusus Zikir
Di bagian lain suluk menjadi kegiatan yang sangat dinanti jemaah ilmu tasawuf Tarekat Naqsyabandiyah setiap kali bulan Ramadhan. Pasalnya ajaran yang berkembang dan berpusat di Desa Suka Datang Kecamatan Curup Utara tersebut cukup efektif untuk menjadi tempat mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berzikir. Suroto (52) warga Tulang Bawang Provinsi Lampung ditemui wartawan mengaku datang ke Suka Datang bersama 19 orang rombongan dari daerah asalnya khusus untuk mengikuti zikir. Pria yang kini sudah bertatus haji itu mengaku baru pertama kali mengikuti suluk semenjak satu tahun belajar amalan Tarekat Naqsyabandiyah. “Alhamdulillah saya sudah menjalankan ibadah haji tahun 2011 lalu, kegiatan ini sebagai bagian untuk menambah ilmu dan mendekatkan diri dengan Allah,” tuturnya.Begitu pula dengan Siti Mariam (50) warga Martapura Sumatera Selatan. Ia mengaku sudah pernah satu kali mengikuti suluk. Tahun ini Siti datang bersama 29 orang rombongan dari daerah asalnya untuk kembali mengikuti kegiatan suluk. “Ramadhan tahun ini merupakan kegiatan suluk ke dua yang saya ikuti. Bagi saya banyak hasil yang saya dapatkan dari kegiatan ini, salah satunya ialah ketenangan, dan ketidak mauan melakukan maksiat,” katanya.Siti bahkan mengaku datang bersama suami, serta anak-anaknya khusus untuk mengikuti kegiatan suluk di Desa Suka Datang. “Di daerah kami ada guru yang disebut Mursit rutin mengajarkan ilmu Tarekat Naqsyabandiyah setiap minggu. Desa Suka Datang ialah pusat kegiatan Tarekat Naqsyabandiyah yang kami ikuti ajarannya,” tambahnya.(999)