Jemaah Rasakan Hal Berbeda Ketika Salat di Masjid yang Diarsiteki Bung Karno

Nopri/BE
Masjid Jamik Bengkulu, yang diarsiteki Bung Karno

BENGKULU, BE- Masjid Jamik yang berada di Jalan Suprapto Kota Bengkulu ini memang tak bisa dipisahkan dari sosok Bung Karno. Bangunan masjid yang merupakan karya arsitektur Bung Karno ini seolah menyimpan daya tarik yang luar biasa sehingga ramai di kunjungi jema’ah, baik pada hari biasa terlebih lagi pada hari besar. Kini, Masjid jamik Bengkulu dinyatakan sebagai bangunan bersejarah di Indonesia dengan kategori benda cagar budaya.
Hamim (50) warga sekitar mengaku setiap melaksanakan salat di masjid yang dipugar Bung Karno antara 1938 hingga 1942 ini merasakan hal berbeda dibandingkan dengan salat di masjid lain.
“Perbedaannya hanya bisa dirasakan, yang jelas masjid ini sejuk dan tenang walaupun berada di tengah kota,” katanya, saat di wawancarai BE Selasa (16/2).
Ia mengatakan kekagumannya terhadap bangunan masjid ini karena mencerminkan kejujuran, hal ini terlihat dari kokohnya bangunan masjid, sehingga meskipun Bengkulu diguncang gempa bumi pada tahun 2007 lalu tidak berpengaruh terhadap bangunan masjid itu sendiri.
Hal lainnya dikatakan Refki (21), Mahasiswa di salah satu Universitas di Bengkulu yang di temui usai salat Dzuhur mengaku dirinya sering memilih Masjid Jamik untuk melaksanakan salat ketika sepulang dari perkuliahan karena merasa lebih nyaman dan khusuk bila salat di masjid ini.
“Rasanya tidak bisa digambarkan tapi salat di sini berbeda rasanya dengan masjid lain, saya juga sering datang kesini untuk melakukan salat,” ujarnya.
Sementara itu, Untung Widodo selaku penjaga masjid mengatakan, bahwa Masjid ini memiliki nilai sejarah sebab dipugar dan bangunannya dirancang langsung oleh Bung Karno saat menjalani pengasingan di Bengkulu pada tahun 1938 hingga 1942.
“Tidak tahu persisnya tahun berapa masjid ini dipugar, kira-kira antara tahun 1938 hingga 1942 saat Bung Karno menjalani pengasingan di Bengkulu,” katanya.
Dari penuturan para tetua dan tokoh masyarakat kata Untung, lokasi awal masjid berada di Kelurahan Kampung Bajak, berdekatan dengan lokasi makam Sentot Ali Basya, yaitu teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang juga di asingkan di Bengkulu. Namun karena daerah tersebut sering mengalami banjir, Bung Karno lalu mengusulkan agar lokasi masjid di pindahkan ke Kelurahan Penggantungan, lokasi dimana sekarang masjid berdiri kokoh.
Pada tahun 1990-an masjid ini pernah mengalami pembaharuan, namun tidak mengubah bentuk arsitek aslinya. Menurutnya pembaharuan hanya dilakukan untuk mengganti bahan bangunan yang rusak dan diganti dengan bahan yang serupa. (Mg14)