Jelang Ramadhan dan Idul Fitri , Tren Inflasi Meroket

inflasiNilai Ekspor Bengkulu 27,57 Juta USD

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Setiap menjelang datangnya bulan puasa Ramadan dan Lebaran Idul Fitri, kondisi ekonomi cenderung meningkat sehingga menyebabkan sejumlah harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan (inflasi). Beberapa kebutuhan pokok yang selalu mengalami lonjakan harga diantaranya cabai merah, daging ayam ras, beras dan minyak goreng.

Meskipun sejumlah kebutuhan pokok tersebut mengalami kenaikan, namun hal tersebut masih bisa diredam, salah satunya dengan melakukan evaluasi dan pengembangan pelaksanaan Pasar Murah.

Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Endang Kurnia Saputra melalui Deputi Bidang Ekonomi, Christin R. Sidabutar mengatakan, tren inflasi di Bengkulu patut diwaspadai. Hasil survei pemantauan harga inflasi periode 2015–2016 yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), menunjukan pada H-14 sampai H-7 Lebaran di 2015 lalu terjadi kenaikan hingga 0,84% – 1,73%.

Sedangkan pada 2016, kenaikan hingga 1,27% – 1,39%. Bahkan lonjakan tertinggi rata-rata masih disumbang oleh Daging Ayam Ras hingga 10,27% (mtm) dan disusul Cabai Merah 9,49% (mtm).

“Hasil survei tersebut dapat dijadikan indikator pengambilan keputusan terkait faktor yang menyebabkan Inflasi setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri,” ujar Christin (6/5).

Pihaknya mengaku, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok menjelang Puasa dan Lebaran tersebut masih bisa diredam. Salah satunya dengan melakukan evaluasi dan pengembangan pelaksanaan Pasar Murah. “Pasar murah itu sendiri bisa difokuskan pada H–14 Puasa dan Lebaran yang tersebar di Kabupaten/Kota. Sehingga ketika masyarakat yang seharusnya ke pasar dengan banyaknya pasar murah di beberapa titik orang akan ke pasar murah,” kata Christin.

Selain itu dikatakan Christin, keberadaan Pasar Murah juga tidak harus menggunakan APBD dan APBN. Tetapi bisa dengan melakukan kerjasama bersama TNI, Bulog, BUMN, Petani, serta Pengusaha Retail untuk mendapatkan harga terendah hingga tidak ada subsidi, termasuk dapat menggerakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yakni melalui binaan-binaan seperti peternak ayam.

“Dalam pengendalian Inflasi ini sebenarnya kita dapat juga turut menghidupkan perekonomian lokal,” jelas Christin.

Sementara itu, Kepala Disperindag Provinsi Bengkulu, H Lierwan SE menjelaskan, Pemerintah Propinsi (Pemprov) telah menyiapkan setidaknya 3 lokasi Pasar Murah yang akan di gelar pada H –14 Lebaran mendatang. Tiga lokasi Pasar Murah tersebut, di Kota Bengkulu tepatnya di Kampung Melayu, Kelurahan Kandang, Kecamatan Selebar, Kecamatan Sungai Serut. Lalu di Pasar Bengkulu dan Kecamatan Singaran Pati. Kemudian di Kabupaten Seluma, tepatnya di Kecamatan Suka Raja dan Kabupaten Bengkulu Tengah di Pondok Kelapa dan Nakau.

“Kita berharap dengan adanya pasar murah mampu menekan angka inflasi. Harapannya juga kedepan secara perlahan dapat memutus rantai tengkulak di Bengkulu ini,” pungkasnya.

April, Naik 0,26 Persen
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu telah merilis hasil survei, pada April 2018, Kota Bengkulu mengalami Inflasi sebesar 0,26 persen yang secara umum disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara. Inflasi disumbang oleh kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi tertinggi sebesar 1,55 persen dengan andil inflasi sebesar 0,3091 persen.

“”Dilihat secara umum, inflasi April 2018 ini masih disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara seperti yang sebelumnya,” ujar Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani MA.

Inflasi Kota Bengkulu April 2018 terjadi pada kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi tertinggi sebesar 1,55 persen dan kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi berikutnya adalah kelompok pengeluaran kesehatan mengalami inflasi sebesar0,36 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,33 persen serta sandang sebesar 0,11 persen.

“Kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi tertinggi disusul kelompok pengeluaran lainnya yang juga mengalami inflasi pada April lalu,” lanjut Dyah.

Sementara kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga masih stabil di 0,00 persen, Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar -0,21 persen dan perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar mengalami deflasi sebesar -0,33 persen.

“Selain mengalami inflasi, ada beberapa kelompok pengeluaran lain yang stabil bahkan mengalami deflasi,” sambung Dyah.

Berdasarkan perubahan harga yang terjadi pada setiap kelompok komoditi tersebut, masing-masing kelompok pengeluaran memberikan andil inflasi sebagai berikut, kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi tertinggi memberi andil sebesar 0,3091 persen, diikuti kelompok pengeluaran kesehatan dengan andil inflasi sebesar 0,0142 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,0532 persen, sandang sebesar 0,0062 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga stabil di 0,0000 persen. Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami deflasi memberi andil inflasi sebesar -0,0512 persen dan perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar -0,0691 persen. “Kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan menjadi penyumbang andil tertinggi untuk inflasi yakni sebesar 0,3091 persen,” tambah Dyah.

Inflasi yang terjadi pada April 2018 terutama disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara, harga bawang merah, daging ayam ras, bensin, rokok kretek filter, mobil, apel, rokok kretek, tempoyak dan bawang putih. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi dipengaruhi dengan turunnya harga beberapa komoditas seperti cabai merah, beras, jengkol, bahan bakar rumah tangga, sabun detergen bubuk/cair, batu bata/batu tela, minyak goreng, ikan tongkol/ambu-ambu, kayu balokan, petai dan beberapa komoditas lainnya. “Beberapa komoditas mengalami kenaikan sehingga menyebabkan inflasi, termasuk harga tiket pesawat yang menjadi pemicu terjadinya inflasi bulan lalu,” jelas Dyah.

Inflasi sebesar 0,26 persen pada bulan April 2018 ini membuat besaran inflasi tahun kalender (laju inflasi) kota Bengkulu menjadi sebesar 1,32 persen, dan inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 3,76 persen.

“Angka ini lebih tinggi dibanding kondisi April 2017 yang mengalami deflasi sebesar -0,30 persen dan bulan April 2016 yang juga mengalami deflasi sebesar -0,84 persen,” ungkap Dyah.

Berdasarkan pemantauan BPS di 82 kota di Indonesia, 54 kota mengalami inflasi dan 28 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 1,32 persen dan inflasi terendah di Padang dan Kudus sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Tual sebesar -2,26 persen dan deflasi terendah di Medan, Bandar Lampung dan Tegal sebesar -0,01 persen. “Kedepannya harus ditemykan solusi tepat terutama untuk mengantisipasi kenaikan harga tiket pesawat agar tak terus menjadi penyebab tingginya inflasi Bengkulu,” tukas Dyah.(999)