Jelang CPNS, Dikbud Lakukan Pemetaan Guru

1. Dok/Bengkulu Ekspress
Pemenang lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) 2018, berfoto bersama.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Menjelang dibukanya penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispndikbud) Provinsi Bengkulu, mulai melakukan pemetaan guru tingkat SMA/SMK/PK. Pemetaan ini bertujuan untuk mengupdate data sekaligus meninjau berapa kebutuhan guru di sembilan kabupaten dan satu kota se-Provinsi Bengkulu. Pasalnya, selama ini distribusi guru diduga tidak merata.

Kepala Dispendikbud Provinsi Bengkulu, Drs Budiman Ismaun MPd melalui Kepala Bidang Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Tusman Haidi SSos saat dikonfirmasi Bengkulu Ekspres menuturkan, ”Pemetaan dan pemerataan guru tingkat SMA/SMK/PK untuk mengupdate data guru terbaru, mulai per sekolah hingga diperluas se kabupaten/kota. Dengan begitudata yang diperoleh benar-benar valid terhitung September 2018.”



Pemetaan dibagi dalam dua tahap. Pertama pemetaan dilakukan khusus tenaga pendidik jenjang SMA dan tahap kedua untuk tenaga pendidik tingkat SMK/PK. Dengan pemetaan tenaga guru yang berstatus negeri itu maka akan ditemukan adanya penumpukan dan kekurangan guru di suatu sekolah. “Pemetaan guru terbaru dapat meminimalisir kesalahan data guru,” imbuhnya.

Masih dikatakan Tusman, penumpukan guru masih terjadi di kawasan kota baik di kabupaten maupun di Kota Bengkulu. Kekurangan tenaga pendidik juga dirasakan hampir semua daerah kabupaten, ada beberapa sekolah yang hanya memiliki guru. Pemetaan ini juga berkaitan dengan rencana penempatan guru, karena selama ni banak guru yang mengajukan pindah, dengan peta yang akurat bisa melihat kekurangan dan kelebihan guru di daerah.

Ia berharap dengan akan dibukanya formasi CPNS baru maka tenaga baru yag terrekrut nanti bisa ditempatkan pada sekolah yang tepat dan membutuhkan. “Jangan ada sekolah yang penuh guru tapi justru ditambah. Setelah pemetaan, Dinas Dikbud akan mempublikasikan daerah mana saja yang mengalami kekurangan dan kelebihan guru,” tukasnya. (247)