Jangan Salahkan Harimau

LEBONG UTARA, BE – Maraknya kejadian adanya harimau Sumatera yang masuk ke pemukiman atau kebun warga belakangan ini seperti di Desa Ketenong dan di Kecamatan Pelabai, jangan selalu dilihat dari sisi ketika harimau tersebut nyaris menyerang warga atau memakan hewan peliharaan warga.

Namun harus dikaji apa yang menjadi penyebab sehingga harimau tersebut mulai meresahkan warga dan memangsa hewan ternak milik warga.

Seperti yang disampaikan Deputi Direktur Yayasan AKAR Bengkulu, Sugihan Bahanan.  Jika harimau tersebut menyerang warga, apalagi jika harimau tersebut menyerang warga dilokasi yang merupakan rumah harimau tersebut.

Namun, salah satu penyebab harimau sumatera yang populasinya hanya tinggal beberapa ekor saja di wilayah Kabupaten Lebong ini akibat habitat atau rumah mereka yang sudah banyak tergusur atau dirambah oleh manusia.

Serta stock atau ketersediaan bahan makanan mereka yang sudah menipis dan sulit didapatkan lagi dihabitat asli mereka.

“Konflik antara harimau dengan warga ini jangan selalu dilihat jika harimau yang salah, namun kita harus mengkajinya apa penyebab harimau tersebut hingga masuk ke desa atau kebun warga itu. Makanya pemerintah bersama dengan pihak terkait seharusnya sudah sejak dini melangambil langkah serius untuk mengantisipasi konflik antara keberadaan harimau dan kepentingan perut masyarakat.

Makanya harus diperjelas masalah dasarnya, apakah harimau tersebut sudah masuk kedalam habitat manusia atau malah sebaliknya, manusia yang mulai menghabisi habitat mereka. Karena semakin hari, bisa dipastikan masalahnya akan semakin meluas,” ungkap Sugian.

Dikatakan Sugihan, seperti contoh kasus harimau Sumatera yang terjerat jebakan rusa milik warga yang notabanenya berada dalam kawasan hutan lindung beberapa bulan silam di Desa Mangkurajo Kecamatan Lebong Selatan.

Selain membuat harimau tersebut akhirnya mati, juga sekaligus mengurangi jumlah populasi harimau yang ada di habitat harimau wilayah Kabupaten Lebong.

“Ini juga salah satu bukti kalau memang pengawasan pihak terkait serta pemerintah daerah terhadap aktivitas masyarakat yang masuk ke dalam hutan kawasan atau hutan lindung di Kabupaten Lebong dirasa belum optimal. Seharusnya ada keseriusan dari seluruh pihak pemerintah mulai dari tingkat desa hingga pusat untuk menangani masalah ini.

Jika tidak, bisa dipastikan harimau-harimau tersebut akan habis dengan sendiri bahkan bisa punah dari wilayah hutan Kabupaten Lebong,” pungkas Sugian.

Peternak Sapi Khawatir
Kejadian harimau yang telah memakan beberapa hewan seperti Kambing, Anjing dan Babi di kebun kawasan Gunung Sepikul Bukit Pabes belum lama ini menyimpan rasa trauma tersendiri para peternak sapi yang berada di Trans Pabes Kecamatan Pelabai.

Pasalnya, para peternak khawatir dengan maraknya harimau yang berkeliaran di sekitar wilayah mereka akan memangsa sapi peliharaan mereka.

Seperti yang disampaikan Joko (24) salah satu peternak sapi warga Desa Trans Pabes saat ditemui wartawan mengatakan jika saat ini dirinya khawatir jika Harimau yang dikabarkan telah masuk ke kebun itu akan memangsa sapi peliharaannya. “Ya khawatir juga sih kalau harimau itu sampai ke sini dan memangsa sapi peliharaan saya.

Sebab, katanya harimau itu dikabarkan telah memakan kambing milik Jalal yang lokasinyanya tidak jauh dari tempat saya ini,” jelas Joko.

Selain itu, Vale (51) warga Desa Muara Aman yang juga memiliki ternak sapi potong di Trans Pelabai khawatir jika harimau tersebut sampai memangsa sapi miliknya. Apalagi saat ini menjelang Lebaran Idul Adha, pastinya sapi peliharaannya telah siap untuk dijual sebagai hewan kurban.

“Kalau sapi itu sampai dimangsa Harimau, maka pasti kami akan mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan saat ini jelang lebaran Idul Adha permintaan sapi meningkat,” kata Vale.

Untuk itu, dirinya berharap, Pemerintah dan Pihak terkait dapat mengatasi teror harimau tersebut agar kekhawatiran warga tidak berlarut-larut dan berdampak pada perekonomian masyarakat. (777)