Jamaah Haji Indonesia Lempar Jamarat di Lantai 3

Jamaah haji Indonesia bersama jutaan umat muslim seluruh dunia saat ini melakukan mabit atau bermalam di Mina. Setelah bermalam, jamaah akan melanjutkan melempar jumrah/jamarat di tiga tugu.
Pada rangkaian prosesi ibadah haji, setelah wukuf di Arafah dilanjutkan bermalam di Muzdalifah, mereka melempar jumrah. Pada hari pertama, Jumat (26/10) kemarin hanya diperbolehkan melempar di satu tugu yakni jamarat Aqabah. Mereka melempar batu kerikil sebanyak tujuh buah.

Pada hari kedua, hari ini, Sabtu (27/10/2012) mereka melempar di tiga tugu jamarat yakni Ula, Wustha dan Aqabah. Batu kerikil yang dilempar masing-masing jamarat sebanyak tujuh buah pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijah.

Sebagian besar jamaah haji Indonesia melaksanakan lempar jamarat sehabis salat Subuh pukul 05.00 hingga sekitar pukul 09.00 WAS. Namun ada pula yang melempar jamarat pada siang hari sehabis salat Dhuhur. Bila siang hari akan berdesak-desakan dengan jamaah asal Afrika, Timur Tengah, Turki maupun dari Asia Selatan.

Bangunan tempat melempar jamarat saat ini telah dibangun gedung besar dengan lima lantai yang mampu jutaan jamaah. Jalan atau pintu masuk menuju jamarat juga dari berbagai arah. Jamaah bisa memilih tempat melempar sehingga tidak perlu berdesak-desakan dengan orang lain.

Jamaah Indonesia yang tinggal di tenda-tenda di Mina bersama jamaah haji negara Asia Tenggara kebanyakan melempar jamarat di lantai 3. Sedangkan jamaah negara lain dari Asia Selatan, Turki dan Afrika sebagian besar melempar di lantai 3 dan 4.

Di lantai 4 meski, tiga jamarat tersebut yang hanya ditutup dengan penutup tenda terbuka dengan rangka besi yang kokoh. Namun di tempat itu tidak panas. Hawa sejuk dari alat pendingin yang selalu menghembuskan udara sejuk bercampur semprotan air dingin.

Meski tempatnya luas, di tempat ini jamaah tidak akan bingung atau nyasar. Sebab ada banyak tanda-tanda yang akan mengarahkan arus pergerakan jamaah. Ada ratusan Asykar Arab Saudi yang berjaga di tempat itu.

Hampir semua tempat dipenuhi ratusan ribu jamaah. Ada yang beristirahat di pinggir-pinggir jalan. Namun ada pula yang beristirahat di pinggir tebing-tebing gunung di kanan-kiri Mina. Hampir semua tempat dipenuhi jamaah. Masjid Al Kheif Mina maupun kamar mandi dan tempat wudhu juga menjadi tempat istirahat jamaah. Untuk berjalan menuju toilet saja harus pelan-pelan agar tidak menabrak atau menginjak jamaah yang sedang tiduran di dekatnya.

Sedangkan di lantai bawah di kanan-kiri pintu keluar hingga halaman luar gedung Jamarat juga dipenuhi tenda-tenda jamaah yang akan melakukan mabit di Mina. Mereka mendirikan ada yang duduk, tiduran beralaskan tikar dan tenda-tenda kecil. Jalanpun sedikit tersendat sehingga seringkali asykart melarang jamaah yang hendak duduk beristirahat di pinggir tempat itu.

Selain mengarahkan, para asykar itu juga melarang dan mengusir jamaah berhenti untuk duduk sendirian atau bergerombol di pinggir gedung. Bila ada jamaah yang ngotot berjalan melawan arus pun langsung di larang agar berjalan mengikuti arus atau sesuai tanda. Mereka pun akan mengusir orang-orang yang duduk di pinggir jalan agar tidak menghambat jalan jamaah.

“Kami mengimbau agar jamaah haji saat melakukan lempar jamarat sesuai jadwal yakni sehabis subuh hingga siang hari. Ini demi keamanan agar tidak berdesak-desakan dengan jamaah lain seperti dari Asia Selatan dan Afrika,” kata Surahmat dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.(**)