Jalan Napal Putih – Lebong Tandai Putus, Harga Sembako Meroket

Jalan yang menghubungkan Desa Napal Putih dan Lebong Tandai sepanjang 8 KM putus yang disebabkan hujan deras akhir-akhir ini. Hal ini menyebabkan Desa Napal Putih yang termasuk desa sangat terpencil itu terisolasi.  Dampaknya harga sembako di Napal Putih melonjak naik drastis. Harga beras saat ini sudah mencapai Rp.25.000/cupak (2 liter), gula Rp.20.000/kg, cabe Rp.75.000 – 100.000/kg.

Kondisi ini mengakibatkan warga yang sudah ”jatuh” karena akses transportasi terputus, menjadi ”tertimpa tangga” karena mahalnya barang kebutuhan pokok. Kenaikan harga tersebut karena warga terpaksa berjalan kaki untuk mengangkut barang dengan jarak yang cukup jauh. Sebagian lagi menggunakan lori untuk beraktifitas. “Hujan lebat mengguyur beberapa hari ini mengakibatkan longsor di beberapa titik. Keadaan ini menyebabkan arus lalu lintas yang menghubungkan Kecamatan Napal Putih dan Lebong Tandai terputus,” kata Camat Napal Putih, M Sabii SPd.

Kerusakan parah terjadi pada jalur penghubung sepanjang kurang lebih 8 km. Meliputi, kilometer 15 di sekitar air terjun, mengalami longsor sehingga jalan putus total tidak bisa ditembus angkutan.  Pada KM 16,5 jembatan peninggalan Belanda pondasinya anjlok 2 meter dengan posisi tegak miring. Pada KM 18 rel ambruk sepanjang 35 meter tidak bisa dilalui lagi, KM 23 longsor menutup badan jalan sepanjang 35 meter. Akibatnya jalur transportasi dari Napal Putih hingga KM 15 masih bisa menggunakan kereta motor “Molek”, selanjutnya harus dengan jalan kaki sampai KM 20. “Dari KM 15 hingga KM 20 harus jalan kaki, berikut estafet naik Molek lagi sampai di Lebong Tandai. Pada bagian yang mengalami longsor oleh warga dilakukan gotong royong untuk menyingkirkan tanah penutup jalan,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang didapatkan bencana tersebut untuk sementara belum ada korban jiwa, namun sebanyak 200 KK disana sudah bergotong royong untuk membuat jalan darurat, dengan melihat keadaan tersebut maka antisipasi dan himbauan kepada warga untuk berhati-hati pasca amblasnya badan jalan tersebut. Tidak hanya kendaraan roda empat, para pengendara sepeda motor bahkan pejalan kakipun tidak dapat menempuh jalan tersebut sehingga mau tidak mau para pengguna jalan harus berbalik arah dan menggunakan jalan alternatif atau menggunakan lori.”Meski pembangunan jalan darurat belum selesai namun jalan tersebut nantinya akan memudahkan akses masyarakat untuk melintas. Selain itu pemerintah daerah bisa mengambil langkah-langkah untuk penanggulangan bencana ini,” demikian M Sabii.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD), Drs Rahmad Riyanto mengatakan sudah mengetahui hal tersebut. Pihak BPBD hanya sebatas tanggap darurat saja. Ia menyarankan untuk koordinasi antar camat dan warga untuk bekerjasama mencari alternatif lain untuk sementara waktu untuk kelancaran aktifitas, sedangkan untuk untuk infra strukturnya dikembalikan ke SKPD terkait.  “Kita sudah konfirmasikan untuk membuat jalan alternatif lain dulu untuk akses tersebut, dengan kegotong royongtan warga setempat, dan jika memang perlu penanganan khusus maka akan kita tindak lanjuti segera mungkin dan bupati juga sudah mengetahui hal itu,” kata Rahmad.(919/117)