Izin Proyek Kereta Api Dipercepat, Hari Ini Pembahasan di Kemenhub

 

KeretaBENGKULU, Bengkulu Ekspress – Rencana titik pembangunan rel kerata api dari Kota Padang Rejang Lebong ke Pulau Baai Bengkulu, dijadwalkan akan dibahas dan ditentukan hari ini (28/11) di Kementeriaan Perhubungan (Kemenhub) RI. Ketika titik lokasi yang telah ditentukan oleh PT Trans Rentang Nusantara itu disetujui, maka Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu akan langsung menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai payung hukum.

Dengan demikian, proses pembangunan jalur rel kerata api akan berjalan mulai berjalan. Termasuk kesiapan perizinan, juga menjadi hal wajib untuk dipenuhi. Pemprov Bengkulu optimis melakukan percepatan perizinan. Baik itu dalam perizinan analisa dampak lingkungan (amdal), izin pemakaian hutan kawasan, hutan lindung, dan berbagai izin lainnya.

“Semua izinnya kita percepat, sehingga bisa cepat dilakukan pembangunan,” ujar Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Bengkulu, Taufik Adun SE MSi kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (27/11).

Dijelaskannya, yang paling lama proses perizinan itu ketika meminta izin pemakaian kawasan hutan lindung. Sebab rel kereta api itu rencananya akan memasuki kawasan hutan lindung yang berada di wilayah Kabupaten Seluma.

Izin tersebut harus dikeluarkan langsung oleh Kementeriaan Kehutanan. Sementara selebihnya, rel kerata api akan melalui kawasan hutan produksi dan kawasan lahan milik masyarakat.

“Izinnya pinjam pakai, tapi kita optimis bisa cepat dikeluarkan. Karena ini memang program dari presiden untuk Bengkulu,” tambahnya.

Untuk jalur rel kereta api yang melintasi lahan warga, maka pemerintah akan memberikan ganti rugi lahan. Semua anggaran ganti rugi itu dibiayai dari Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN), sebab APBD Provinsi Bengkulu tidak akan mempu membayarkan semua untuk ganti rugi milik masyarakat tersebut. “Semua anggaran pembangunan itu dari APBN, termasuk ganti rugi lahan,” tegas Taufik.

Taufik menegaskan, proses perizinan itu diyakini akan cepat dilakukan. Mengingat semua proses pembangunan rel kereta api itu masuk di wilayah Bengkulu. Sehingga cukup Pemprov Bengkulu bersama 4 kabupaten/kota yang dilalui dapat cepat melakukan proses perizinan.

“Wilayah pembangunannya berada di wilayah Bengkulu tidak masuk diwilayah provinsi tentang, jadi lebih mudah,” paparnya.
Panjang rel kereta api 168,2 kilometer dengan total panjang kereta api mencapai1,5 kilometer dengan total anggaran pembangunan Rp 11 triliun itu, diyakini akhir tahun 2018 sudah selesai semua proses perizinan. Sehingga tahun 2019 sudah bisa mulai proses pembangunan fisik.

Sebab, selain rel kerata api ada 5 stasiun yang akan dibangun untuk mengangkut dan penurunkan penumpang. Seperti di Kota Padang, Kepala Curup Rejang Lebong, Kepahiang, Talang Empat Benteng dan Betungan Kota Bengkulu. Proses ini tentu akan membutuhkan waktu lama dalam pembangunan. Sehingga ditergetkan, tahun 2021 sudah dapat diorasikan. “Kalau bisa, terget nya 2018 itu sudah masuk fisik. Kita akan coba upayakan, agara dapat cepat dioprasikan untuk masyarakat Bengkulu,” pungkas Taufik.

Kereta Api Dongkrak Ekonomi

Rencana realisasi proyek pembangunan rel kereta api di Provinsi Bengkulu dinilai akan membawa berbagai dampak positif di berbagai aspek. Pembangunan rel kereta api ini akan mampu menyerap tenaga kerja, menambah perputaran ekonomi daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pakar Ekonomi Universitas Bengkulu (Unib), Prof Lizar Alfansi MBA PhD mengharapkan, kegiatan proyek pembangunan rel kereta api ini akan cepat terealisasi maka akan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Pembangunan rel kereta api ini nantinya banyak memiliki dampak positif. Oleh karenanya akan lebih baik jika proyek ini akan segera terealisasi,” ujar Lizar, kemarin (27/11).

Berbagai pihak perusahaan yang terlibat diminta untuk segera berkoordinasi dan bekomunikasi secara baik dengan para pihak terkait rencana ini, baik dari pihak pemerintah provinsi Bengkulu hingga masyarakat di sekitar area proyek pembangunan.

“Agar pembangunan jalur rel kereta api bisa cepat rampung, lebih baik semua pihak yang terlibat harus segera berkoordinasi terkait rencana pembangunan rel ini,” tutur Lizar.

Pembangunan rel kereta api ini adalah komitmen untuk tetap memajukan sektor pertanian dalam arti luas. Dimana, pembangunan rel ini akan menjadi konektifitas antar wilayah agar tetap terjaga dan semakin mudah. Hal ini penting karena visi dan misi daerah tidak boleh berubah yaitu menjadikan agribisnis salah satu muara pembangunan daerah. “Tidak akan mungkin Bengkulu maju dan berkembang kalau infrakstrukturnya tidak dibangun,” terang Lizar.

Proyek rel kereta api yang akan dibangun sepanjang 168.2 kilometer dan menghubungkan Kota Padang kemudian Rejang Lebong menuju Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu tersebut tentu akan menciptakan integrasi untuk memotong jalur distribusi yang selama ini jadi masalah. Selain itu, ekonomi Bengkulu juga diprediksi akan naik jika rel sudah mulai dioperasikan. “Pembangunan rel kereta api ini jelas akan mendongkrak ekonomi Bengkulu,” sambung Lizar.

Kereta api nantinya diproyeksikan dapat mengangkut batu bara, CPO, hasil hutan tanaman industri, karet, coklat, dan bahkan bisa mengangkut penumpang. Hal inilah yang nantinya diprediksi akan mampu meningkatkan perekonomian Bengkulu.

“Seluruh daerah memerlukan infrakstruktur, pembangunan rel kereta api di Bengkulu ini bisa menjadi motor penggerak perekonomian didaerah,” kata Lizar.

Harapan dengan segera terealisasinya pembangunan rel kereta api ini nantinya mampu memberdayakan masyarakat sekitar agar berdampak positif bagi masyarakat Bengkulu sebagai lahan untuk menyerap tenaga kerja. “Pembangunannya juga harus memberdayakan masyarakat sekitar. Agar pembangunan ini berdampak positif bagi warga sekitar dan masyarakat Bengkulu,” tukasnya. (999/151)