Istri Dubes RI Untuk Brasil Sakit, Pilih Berobat di Surabaya

Sebagai wakil Pemerintah Indonesia di Brasil, Sudaryomo Hartosudarmo sesungguhnya punya banyak fasilitas nomor satu. Termasuk bila harus mengobatkan sang istri Tripangestuti. Namun, Sudaryomo tidak memanfaatkan privilese itu di negeri tempatnya bertugas selaku diplomat. Dia memilih memboyong istrinya ”mudik” ke tanah air untuk operasi by pass pembuluh jantungnya.
Laporan Priska Birahy, Surabaya
======================

Sudah tiga minggu ini Tripangestuti menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soetomo Surabaya. Dia tiba di Indonesia pada 12 September. Langsung masuk rumah sakit (RS) milik Pemprov Jawa Timur tersebut. Sepuluh hari kemudian, yakni Senin (22/9), Tripangestuti menjalani operasi. Operasi itu berjalan sukses. Kini ibu dua putri tersebut memasuki tahap pemulihan. Dia dirawat di kamar VIP Graha Amerta RSUD dr Soetomo.

Ketika Jumat lalu (26/9) mendapat visite dari tim dokter yang merawatnya, Tripangestuti tampak sudah sehat. Dia bahkan sudah bisa berjalan meski masih di sekitar ruang perawatan. Tim medis yang dipimpin dr Yan Efrata Sembiring pun merasa lega melihat perkembangan pasien istimewanya itu.

”Yang penting sekarang dipulihkan ya Bu kondisinya. Kami yakin, melihat perkembangan Ibu, tak lama lagi Ibu sudah boleh pulang,” ujar Yan.

Dalam kunjungan itu, tampak pula Prof dr Paul Tahalele, dr Jeffry Adipranoto, dr Philia Setiawan, dan dr Heroe Subroto. Sedangkan Tripangestuti didampingi sang suami Sudaryomo Hartosudarmo. Keceriaan terlihat di wajah suami istri itu. Mereka tak habis-habisnya menyampaikan terima kasih atas perhatian dan pelayanan prima yang diberikan RSUD dr Soetomo. ”Ini bukti rumah sakit di Indonesia tidak kalah maju dan bagusnya dengan negara lain. Saya percaya itu,” tegas Sudaryomo.

Lantaran kondisi istrinya mulai stabil dan terus membaik, alumnus Fisipol UGM 1974 tersebut kemarin (27/9) sudah berani meninggalkannya dan kembali ke tempat tugas di negara bintang Barcelona Neymar itu. Dia belum tahu kapan akan kembali ke Indonesia untuk menjemput istrinya.

”Setelah diperbolehkan pulang nanti, istri saya akan tinggal di Malang lebih dulu. Di sana ada kerabat. Kalau kondisinya benar-benar sudah kuat, baru saya jemput,” jelas Sudaryomo.

Menurut pria asal Wates, Kulonprogo, Jogjakarta, itu, istrinya diketahui mengalami sakit jantung ketika Agustus lalu mengikuti gerak jalan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia di Kedubes RI di Brasilia, ibu kota Brasil. Gerak jalan tersebut diikuti sekitar 300 warga Indonesia yang tinggal di Brasilia. Selain gerak jalan, diadakan aneka lomba Agustusan yang meriah.

Tak disangka, di tengah perjalanan, Tripangestuti tampak kelelahan. Napasnya mulai tak teratur. Tubuhnya gemetar-lemas dan keluar keringat dingin. Istri Dubes itu lantas keluar dari barisan. ”Gerak jalan di sekitar taman kota itu memutar empat kali. Tapi, ibu sudah tidak kuat di putaran pertama. Katanya sangat capek. Tubuhnya juga lemas,” cerita Sudaryomo.

Dengan sigap Sudaryomo langsung membopong sang istri untuk menepi. Mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan mengelilingi taman kota pagi itu. ”Ibu merasakan punggungnya pegal. Napasnya juga ngos-ngosan kalau diajak jalan atau menanjak,” tambahnya.

Berselang seminggu, Sudaryomo memeriksakan istrinya ke dokter. Apalagi, keluhan sakitnya makin menjadi. Terutama di punggung. Bukan hanya itu, tiba-tiba dia juga merasakan sakit gigi yang tak terkira. Maka, Tripangestuti pun menjalani checkup untuk mengetahui penyakit yang diderita.

Berdasar hasil pemeriksaan dokter ahli di RS Internasional Brasil, perempuan kelahiran Madiun yang dibesarkan di Bogor tersebut didiagnosis menderita sakit jantung. Hasil echocardiography menemukan adanya sumbatan-sumbatan di pembuluh darahnya.

Seolah tak percaya, Sudaryomo melanjutkan memeriksakan kondisi istrinya. Pasalnya, selama ini Tripangestuti tidak pernah mengeluhkan jantungnya sakit. ”Kata dokter (penyakit) ini berbahaya. Dan harus dioperasi,” papar Sudaryomo menirukan diagnosis dokter di Brasil.

Hasil pemeriksaan jantung itu begitu serius. Sampai-sampai Tripangestuti ”dicekal”, tidak boleh bepergian ke luar negeri. Sebab, sakit jantungnya bisa sewaktu-waktu kambuh.

Meski begitu, Sudaryomo tidak mau tinggal diam. Dia ingin istrinya cepat tertangani. Saat itulah dia teringat kawan lamanya, dr Yan Sembiring, ahli toraks kardiovaskuler dari RSUD dr Soetomo. Dia bertemu Yan saat menjabat Konjen RI di Sidney pada 2007. ”Saya langsung ingat Yan. Dulu kami akrab saat dia sekolah di Australia,” paparnya.

Hasil diagnosis dokter Brasil itu lalu diperlihatkan ke Yan dan dr Jeffrey Adipranoto. Ternyata, menurut dua dokter dari RSUD dr Soetomo itu, kondisi Tripangestuti masih memungkinkan untuk terbang ke Indonesia guna menjalani operasi jantungnya.

”Mereka menjamin istri saya tidak akan apa-apa untuk terbang berjam-jam dari Brasil ke Indonesia. Saya pun percaya itu,” bebernya.

Setelah sang istri sempat dua hari dirawat di RS Brasil, Sudaryomo nekat memboyong dia pulang ke Indonesia. Tujuannya Surabaya. Di Kota Pahlawan itu mereka punya kerabat dari Malang yang bisa ikut mendampingi saat Tripangestuti dirawat di RSUD dr Soetomo.

Tapi, keputusan Dubes yang juga blogger itu membawa istrinya ke Surabaya sempat ditentang kedua putrinya yang kini sedang menempuh pendidikan di Australia. Mereka merekomendasikan sang ibu dibawa ke RS di Penang, Malaysia.

”Kata anak-anak saya, banyak orang Surabaya yang sukses saat berobat ke Penang. Tapi, hati kecil saya tetap yakin dengan para dokter di RSUD dr Soetomo,” jelas Sudaryomo. ”Entah kenapa, saya merasa convenient. Penjelasan dokter di Surabaya membuat saya tenang,” ungkapnya. (*/c9/ari)