Islam Bukan Ekstrem, Tapi Es Krim

REWA/Bengkulu Ekspress Ustadz H Abdul Somad Lc MA saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Jalan Hijrah Menuju Cintanya di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Bengkulu, kemarin (29/10).
REWA/Bengkulu Ekspress Ustadz H Abdul Somad Lc MA saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Jalan Hijrah Menuju Cintanya di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Bengkulu, kemarin (29/10).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Teroris dan paham radikalisme di Indonesia selalu dihubungkan dengan Islam membuat Ustadz H Abdul Somad Lc MA tersentak.

Ia mengatakan, saat ini telah bermunculan oknum dan kalangan yang mengatakan Islam adalah agama fasis, ekstremis, dan teroris. Untuk itu, para anak-anak muda harus tunjukkan bahwa Islam itu sejuk dan manis.

“Islam itu seperti es krim, lembut, sejuk, dan manis,” ungkap Somad dalam Seminar Nasional Jalan Hijrah Menuju Cintanya di Gedung Serba Guna Universitas Bengkulu, kemarin (29/10).

Somad menjelaskan, kalau Islam itu agama ekstrim, tidak akan ada Pulau Bali di Indonesia. Namun faktanya, Pulau Bali masih tetap ada dengan keyakinannya Hindu. Kalau para Walisongo menginginkan Bali pada masa itu harus Islam, maka Walisongo cukup memerintahkan Sultan Demak membuat Bali menjadi wilayah Islam.

“Tetapi Islam tidak melakukan itu karena Islam membawa pesan dengan cinta kepada seluruh manusia untuk menyembah Tuhan yang maha benar,” papar Ustadz kondang yang pernah berkuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir ini.

Ditambahkan Somad, kalau pergi ke Kairo Mesir, silahkan lihat gereja yang berdiri tegak megah di Kairo dan tidak dihancurkan oleh orang Islam. Mahasiswa Indonesia pernah pergi ke Bukit Jabal Musa atau Bukit Tursina tempat Nabi Musa merima wahyu, kemudian melihat gereja San Katrine, sebuah gereja pertama sebelum Islam ada di Afrika Utara, ketika Islam datang tidak ada yang dirobohkan.

“Siapa bilang Islam menebar dengan pedang, tapi Islam telah menyelamatkan mereka dari menyembah kayu, menyembah batu, dan menyembah manusia. Islam mengajarkan menyembah Tuhan, itulah misi Islam,” tambah Somad.

Somad melanjutkan, jangankan di Indonesia, di beberapa negara Islam lainnya, baik itu di Kairo, Syriah, Palestina, dan negara lainnya, masih ada juga golongan non muslim. Lalu kenapa orang Islam dibenci, padahal selalu menghargai toleransi beragama?

“Kalau ada orang Islam bercadar, memakai baju gamis, berjenggot, rajin salat dituduh teroris kan itu tidak benar,” lanjut Somad.

Dihadapan ribuan peserta ini, Somad menjelaskan, Islam mengajarkan berjihad, tetapi bukan jihad dengan kekerasan ataupun melakukan perang dengan orang non Islam, tetapi berjihadlah dengan Al-Quran.

“Tidak benar jika ada orang Islam mengajak berjihad dengan cara bunuh orang kafir, bakar rumahnya atau ambil motornya,” sambung Somad.

Terakhir Somad mengatakan, kalau membaca Al Quran harusnya umat Islam membaca tafsirnya juga. Persepsi tentang jihad yang benar sudah banyak disalah-artikan oleh umat Islam.

“Jihad dengan Al Quran adalah dengan cara menghafal Al Quran dan mempelajari Al Quran dengan benar, bukan berperang,” tutupnya. (999)